Dengan mulut lantang, kami mengaku telah merdeka. Padahal tingkah laku kami tak menghargainya. Jutaan ucapan selamat kepadamu negeri tercinta terlontar dari mulut kami yang kadang tak sejalan dengan tindakan sehari-hari. Entah apa sebenarnya makna merdeka yang kami pahami.

Padahal banyak merdeka-merdeka lainnya telah terenggut dari pemilik seharusnya. Kami memang mungkin tak ikut merampas. Tapi juga tak membantu melepaskannya atau paling tidak, mensyukuri dengan sesungguhnya merdeka yang telah kami terima.

Sayang sekali, kami merdeka sementara dia tidak. Dengan langkah gontai, si Budi kecil yang harusnya telah lelap dalam dekap dengan dongeng dari sang ibu, justru menyusuri jalan mencari makan bahkan dalam tong-tong pembuangan kafe tempat kami melempar tawa. Mulutnya meringis menahan perih yang memenuhi perutnya.

Lapar adalah hal biasa yang selalu diperbincangkannya pada udara yang berputar di sekitarnya. Tuhan? Dia pernah dengar nama itu. Tapi tak pernah melihat seperti apa wujudnya. Hati memang bertanya lantaran banyak orang berkata Dia luar biasa. Tapi tak ada seorang pun yang ingin memperkenalkannya. Bagaimana bisa? Si Budi kecil sayang, Budi kecil yang malang. Sejak tangis pertamanya di dunia, ia bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah ibu bapaknya.

Sesekali, ia menyentuh perut buncitnya. Bukan, bukan karena kenyang. Mungkin angin malam yang memenuhinya. Senyum kecilnya mengurai saat mata tulusnya melihat pegawai kafe menyeret plastik hitam besar dan mencampakkannya dalam tumpukan sampah. "Ah! Makan malamku datang," ia berlari menghampiri. Ada sepotong steak bekas dan beberapa potong kentang di sana. Ia membungkusnya dalam pakaian lusuh yang melekat di tubuhnya.

Advertisement

Budi kecil berlari dan berjingkrak kegirangan. Menyusuri trotoar dan berhenti pada sebuah kolong jembatan kota. Dan mulai menyantap makan malamnya. Budi merasa sangat senang. Untung saja, ada banyak orang baik yang menyisakan sedikit makanan baginya. Paling tidak, untuk malam ini. Masalah lapar besok, itu urusan nanti.

Inikah merdeka? Tak jarang kami mengeluh atas hidangan yang telah disediakan di meja makan. Bukan syukur yang terucap, tapi celoteh-celoteh hinaan yang kerap membanjiri mulut kami.

"Terlalu asin."

"Ah kurang matang."

"Nggak suka sama sayurnya."

Apa yang kita tak suka padahal Budi merasa itu berkat yang luar biasa. Adakah merdeka dalam dirinya? Maafkan kami, Ibu Pertiwi. Kami lupa, Budi juga harusnya ikut merdeka. Maafkan kami, para pahlawan. Kami lupa bahwa pengorbanan kalian juga milik Budi ini dan yang lainnya.

Saat kami begitu rakus melahap setiap rejeki yang ada di depan mata kami, atau bahkan sesekali kami melakukan segala cara untuk memperolehnya. Budi kecil asal bisa makan tiga kali sehari saja, sudah merasa cukup. Sangat cukup.

Maafkan kami, yang acap kali menelan apa yang bukan hak kami. Menciptakan lubang-lubang kesengsaraan bagi Budi demi kemakmuran hidup kami. Maafkan kami yang berpesta pora di atas rasa pedih yang bergelayut dalam getir hidup Budi. Kami berdasi, berpakaian rapi. Tapi hati nurani kami mati.

Terkadang, kami mengeluh ini itu. Mengatakan kau sudah rapuh hancur berantakan. Membandingkanmu dengan negeri yang mungkin jauh lebih bisa beri kami kemakmuran. Padahal, andai mau sedikit saja merenung, tangan kami sendiri yang telah membuatmu jatuh terpuruk. Kehilangan taring di hadapan dunia. Kau cacat dan kami seakan tak peduli. Padahal dari perutmu, kami mengais rejeki.

Sungguh ibu pertiwi kami sangat mencintaimu. Karena itu kami selalu menggerogotimu. Kami merusak tanpa pernah memperdulikanmu sebagai pesakitan yang rindu binaan. Tenang saja. Kami tak akan lupa hari kebebasanmu. Kami akan selalu merayakannya. Mulut kami akan selalu mengucap kata merdeka di hari itu. Tapi itu saja. Kami tak bisa berbuat lebih.

Dunia nyata kembali memanggil. Persaingan hidup kembali harus kami hadapi mati-matian. Saling sikut asal bisa terus maju adalah harga mati. Kalau bisa, mereka yang coba menghalangi akan jatuh teringsut dalam pijakan kami. Tenang saja, ibu pertiwi. Kami tak akan pernah lupa hari besarmu. Percayalah kami mencintaimu. Dengan segala keserakahan kami.

Berhentilah menangis, negeri yang kami kasihi. Kami tak cukup peka mengerti apa yang engkau rasa. Sungguh, bagimu negeri, kami mengabdi. Bagimu negeri, kami mencintaimu dengan tidak perduli. Merdeka!