Langit di atas sana telah bergelora dalam segala cuaca. Mereka tak sabar melihat cinta kita menyatu dalam doa, dalam puisi impian yang telah kita gantung di atas langit hingga Tuhan menjadikannya Istana.

Aku, ya aku. Aku adalah wanita yang merindukan kehadiranmu dalam segala cuaca. Saat kemarau maupun hujan, saat semi maupun dingin, saat susah maupun bahagiaku. Aku menantimu. Aku benar-benar merindukanmu. Merindukanmu hadir dalam setiap hidupku dan menemaniku. Merindukan kamu hadir dalam masa-masa emasku dan setiap perjuanganku.

Aku, ya aku. Aku adalah Little Girl yang akan selalu menjadi kekasih kekanak-kanakanmu seumur hidupmu. Yang suatu saat nanti akan minta kau gendong, minta berkelana kemanapun. Meminta kau memelukku ketika aku jatuh, begitupun aku yang akan selalu menjadi sandaranmu ketika kamu rapuh menghadapi hidup yang keras. Aku Little Girl yang selalu merindukan semua itu terjadi dan merindukan masa dimana aku akan memanggilmu dengan sebutan 'Ayah'. Ya, karena kaulah juga ayah yang menjadi sandaran bagi kemanjaanku dan kenakalan anak-anakku.

Aku, ya itulah aku. Aku yang merindukan kelak menjadi istrimu. Istri baik nan solehahmu. Yang menantimu ketika pulang bekerja. Yang Menantimu membawakan kejutan ketika anniversary atau kapan pun yang kau mau. Yang Menantimu untuk menyicipi makananku yang sederhana dengan secangkir kopi atau teh. Menanti kau Imami dalam menempuh sujud dan ketakwaanku dalam menyembah Robb-Ku. Kaulah yang akan menjadi Pelitaku dan seisi rumah kita nanti.

Aku, ya hanya aku. Aku yang merindukanmu untuk menjalani hidup bersama. Sepuluh tahun, dua puluh lima tahun, lima puluh tahun bahkan seumur hidupku. Aku ingin kita selalu bersama sama. Aku ingin menjadi yang pertama dan terakhir bagimu. Aku ingin menjadi seutuhnya bagimu. Aku yang akan merelakan semuanya untukmu, begitupun engkau yang merelakan cintamu hanya padaku.

Advertisement

Aku, tetap hanya aku. Aku tak mengetahui apakah kamu Pangeran dari Antah-Berantah yang belum aku kenal. Apakah kamu pangeran masa kecilku atau justru kamu Pangeranku yang selalu menjadi sahabatku sampai detik ini. Ya, yang kutahu hanyalah kau pasti jua merindukanku, mendoakanku dan selalu menitipkan puisi pada Tuhanku. Kaulah Pangeranku yang selalu berharap agar kelak Tuhan mempertemukan kita, doa kita. Kaulah Pangeran yang merindukan genggaman tanganku untuk mengarungi hidup ini. Kaulah Pangeranku yang merindukan membawakan bunga dengan mengendarai kendaraan kuda sama seperti dongeng masa depan yang aku impikan. Kau adalah Pangeranku yang merindukan menghadiahkan istana untuk ditinggali bersama dalam dunia dan akhirat kita. Kaulah benar, Pangeran berkuda putih dalam dongeng masa depanku.

Demikianlah inilah suratku

Pangeranku, Bawalah aku dalam doamu

Bawalah aku dalam setiap langkahmu

Bawalah Tuhanmu dalam mempertemukan kita di persimpangan jalanmu

Saat di mana kita sudah sama-sama berhenti mencari yang lain

Saat kita bersama-sama nyaman dan merasa inilah saatnya kita berlabuh ke Istana kita

Karena di sini, aku juga merindukan dan mendoakan agar cepat tiba bahagia itu

Karena di sini, aku tak sabar menumpahkan rasa rindu itu

Karena di sini, aku ingin segera bersamamu

Ya, Inilah aku, Sang Putri Istanamu.