Ini bukan sebuah penghakiman atas pilihan yang salah atau sebuah penyesalan yang enggan diakhiri juga ragu untuk dilanjutkan. Ini adalah tentang sebuah kenyamanan, tentang bagaimana kita mengukir senyum, bukan karena keterpaksaan.

Bukankah drama yang kau bangun demi menyenangkan orang yang tidak kau cintai adalah sama saja dengan menabur jeruk nipis di luka yang teriris tipis? pada akhirnya, kamu akan tetap berhadapan dengan pilihan untuk tetap bertahan atau meninggalkan, pada pilihan "ya" atau "tidak" sementara luka iris tipis yang kau tinggalkan masih jelas menganga.

Bukankah kamu juga menyakitinya dengan sikap yang kau buat seolah-olah manis?

Jika bagimu tidak indah lalu tidakkah kau berfikir, kamu telah salah memilih pasangan?

Anggaplah aku sebagai pilihan atas kelabilanmu saat ini.

Advertisement

Aku ikhlas kamu pergi, toh jika lama tak bertemu, kita mungkin akan tau arti merindu. Dan kita bisa melunasinya kapan saja. Kamu dan keluragamu, aku dan keluargaku. Atau mungkin, kita bisa melunasi setiap hari, kau dan aku menjadi satu keluarga. Bersamaku, kita sama sama belajar, kita pernah saling mencinta dan terluka bersama. Bersamaku, kamu tau arti cemburu. Bersamaku kita terasa konyol, kita terasa cocok. Lalu bagaimana dengannya? apa kamu merasakan hal seasik ini dengannya?

Cinta memang tak akan sempurna, aku yang salah telah mengharapkannya. Bukan masalah, ini hanya soal waktu.

Untukmu Para Hati yang sedang labil menentukan pilihan.

Kelak ada saatnya kamu harus memilih jalan yang meskipun sakit tapi melegakan hati.

DPA