Kami memang memiliki banyak kesamaan. Aku dan kamu. Kami perempuan. Suka disayangi, tak suka sendiri. Kami menyukai manusia yang sama, laki-laki itu. Bedanya, dulu laki-laki itu bersamaku, sekarang dia di sampingmu.

Hari itu, waktu di mana akhirnya ku tahu kau bersama kekasihku, aku marah. Sangat marah. Mungkin amarahku saat itu hampir menyerupai kepunyaannya hulk, beruntung tubuhku tak berubah menjadi hijau. Rasanya, aku ingin sekali mencacimu, menyalahkanmu karena kehadiranmu melenyapkan harapan indahku bersamanya. Aku marah padamu, terlebih padanya.

Kulihat, dia tak membalas semua cacianku saat itu. Dia diam, entah mendengarkan seluruh ocehanku atau fikirannya sedang tertuju padamu. Rasanya kekuatanku hilang dalam sekejap, energiku habis, air matakupun terkuras semuanya. Aku jatuh. Inikah yang dinamakan jatuh cinta? Aku jatuh dalam cinta.

Setelah kata-kataku habis untuknya, kubiarkan dia pergi. Kubiarkan tubuh ini menyendiri. Aku kalut. Dia, laki-laki yang sangat ku percaya, laki-laki yang ku titipkan hatiku padanya, laki-laki yang bersedia menangkapku bahkan sebelum aku benar-benar butuh pertolongannya. Tapi sekarang, laki-laki itu yang justru membuatku jatuh.

Setelahnya, aku tak membiarkannya memilih. Aku tak ingin dia kerepotan untuk memilih kita, kamu atau aku. Aku atau kamu bukan hal yang pantas untuk dipilah-pilih seperti ini. Aku sudah pergi seribu langkah sebelum dia memutuskan tetap disampingku atau menemanimu. Kau tak perlu banyak usaha atau membuang energimu untuk merebutnya dariku. Tenang saja, aku sudah menghapusnya dari daftar harapanku sejak hari itu.

Advertisement

Laki-laki itu, pernah menjadi bahagiaku, kami pernah memiliki impian bersama, entah sampai dititik mana hingga dia berpura-pura memiliki harapan itu bersamaku. Aku tak ingin menyalahkanmu atau dia. Cacianku saat itu kini berubah menjadi banyaknya kalimat ‘terima kasih’ dari ku.

Terima kasih, sudah mengubah senyum dibibirku menjadi tetesan air mata. Terima kasih kau datang di waktu yang tepat. Terima kasih sudah mampir ke dalam hubungan kami berdua dan mebuatnya terlena. Terimakasih kau membantuku menunjukkan bagaimana laki-laki itu sebenarnya. Terima kasih, kedatanganmu, pengkhianatan darinya, menguatkanku. Sungguh.

Terimakasih, untukmu.. Perempuan penggantiku dihatinya sekarang. Ku berdoa, semoga kau dengannya benar-benar saling menggenapi walau bahagia kalian diawali dengan tetesan air mataku. Semoga kau tak perlu mengalami kesedihan seperti punyaku saat itu.