Aku yang menemanimu menuju kesuksesanmu, aku yang berdiri dibelakangmu saat kau merasa terpuruk karena apa yang kau inginkan dan kau cita-citakan tak kunjung tercapai. Aku yang selalu menggenggam erat tanganmu saat kau mulai melemah dan menyerah pada keadaan.

"Rejeki itu sudah diatur sama Tuhan, jika baru seperti saja kamu menyerah, bagaimana Tuhan akan mengabulkan keinginanmu ?"

Aku yang selalu memberimu semangat disaat kau mulai rapuh. Tak perduli siang malam, tak peduli lelah yang melanda diriku, berapa banyak keringat dan peluh keluar dari tubuh ini bercampur menjadi satu , asal kau bisa mencapai yang kau cita-citakan aku akan melakukannya .

Tapi Tuhan itu sungguh baik, Tuhan tidak akan menguji kesabaran seseorang diluar batas kesabarannya . Kini apa yang kau inginkan dan apa yang kau cita-citakan telah terwujud. Lulus kuliah dengan nilai cumlaud lalu mendapatkan pekerjaan yang pantas, dengan penghasilan yang kurasa lebih dari cukup. Aku ikut senang dan bahagia, karena doa dan usaha yang dulu kita lakukan tidaklah sia-sia.

"Tapi bukan aku yang menikmati kesuksesanmu, bukan aku yang menikmati hasil jerih payahmu, bukan aku yang menikmati setiap keringat dan peluhmu dulu, melainkan perempuan itu, perempuan yang kau bilang lebih cantik dariku "

Advertisement

Aku tau mungkin aku tak secantik perempuanmu, bahkan mungkin tak berpendidikan seperti perempuanmu, tapi aku punya cinta yang begitu besar untukmu. Apa kau tak ingat bagaimana aku mendampingimu dari awal kau masuk perguruan tinggi ? Apa kau tak ingat bagaimana aku mendampingimu dari natahari terbit hingga terbit lagi demi mencari tugas-tugas kampusmu yang dikejar deadline ? Apa kau tak ingat bagaimana aku mengusap peluhmu saat kau merasa lelah dipermainkan oleh dosen pembimbingmu yang tak juga menyetujui skripsimu ? Apa kau tak ingat bagaimana aku menyeka air matamu ketika kau akhirnya bisa diwisuda dengan peringkat nilai terbaik ?

"Aku tak bisa lagi melanjutkan hubungan kita, aku telah memilih perempuan lain yang lebih cantik darimu. Aku mencintainya, aku berterimakasih padamu untuk kesetiaanmu menemaniku selama ini, tapi aku sadar aku bukan lelaki yang baik untukmu, kau bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dariku dan itu bukan aku "

Seperti terssambar petir rasanya aku mendengar pengakuanmu, bagaimana tidak dua malam sebelumnya kau masih mencintaiku, kau masih memelukku karena kau mendapatkan gaji pertamamu, kau masih mencium keningku sebelum kau pulang kerumah, dan sekarang kau datang disaat aku merasa lelah karena pekerjaanku, kupikir kau bisa menenangkanku dari lelahku tapi ternyata kau memberikan kabar duka itu padaku . Hancur dan rapuh hatiku, rasanya lebih sait dari tertusuk seribu pisau, bagaimana dengan pernikahan yang kau janjikan ? bagaimana dengan rencana masa depan yang telah kita rangkai berdua ? bagaimana aku harus mengatakannya kepada orang tua dan keluarga lainnya bahwa pada kenyataannya kau telah tergoda pada perempuan lain yang memiliki fisik jauh sempurna daripada aku yang telah mendampingimu selama bertahun-tahun?

"Untukmu perempuan yang sekarang mendampingi lelakiku. Kutitipkan cintaku padamu, kutitipkan separuh hatiku padamu. Jaga dan sayangi dia jauh daripada aku menjaga dan menyayanginya. Jaga apa yang dia miliki, nikmatilah segala kesuksesan yang dia miliki, jangan pernah merengkuh dan merusaknya. Jangan pernah menyakitinya karena aku sendiri tak pernah menyakitinya walau seujung kukunyapun"

Tapi itulah cinta, kalaupun aku harus pergi, aku yang akan pergi. Aku tak pernah meminta pamrih atas apa yang telah aku lakukan padamu . Aku tak minta ganti rugi atas waktuku yang pernah terbuang selama ini karena mendampingimu. Aku tak minta ganti atas keringat dan peluh yang kukeluarkan untukmu selama aku bersamamu . Aku percaya bahwa apa yang menjadi pilihanmu adalah kebahagiannmu . Aku disini juga akan mendoakanmu agar kau jauh lebih bahagia bersama perempuan cantikmu . Semoga apa yang telah kamu dapatkan dengan penuh perjuangan bisa kau nikmati bersama perempuanmu