Selamat pagi, Kekasihku.

Mungkin ini akan menjadi kali terakhir aku mengucapkan selamat pagi untukmu. Aku sudah memikirkannya beberapa hari belakangan ini, dan tadi malam aku memutuskan untuk mengakhirinya pagi ini. Jangan kira ini mudah bagiku. Kau tidak tahu seberapa banyak air mata yang jatuh dari kedua mataku ini hanya untuk memikirkan semua ini.

Kau tidak tahu seberapa sering aku menangis karenamu,

Memikirkan mengapa bukan aku saja wanita yang kau cintai. Percayalah, aku sangat menderita karena keputusan ini. Aku terluka, hatiku patah.

Kau tahu, aku pernah berharap agar aku selalu bisa mengucapkan ‘selamat pagi’ untukmu. Bukan hanya sebagai kekasihmu, tetapi juga sebagai istrimu kelak. Aku ingin mengucapkannya setiap pagi sejak kita memutuskan untuk bersama hingga kelak Tuhan menyatukan kita dalam sebuah ikatan pernikahan, lalu memisahkan kita melalui kematian.

Advertisement

Mungkin ini terdengar gila bagimu, mungkin anganku terlalu tinggi, tapi itulah yang kuharapkan sebagai seorang wanita yang sangat mencintaimu. Tapi kemudian, aku sadar bahwa kenyataan tidak selalu bisa berjalan sesuai dengan harapan. Karena itulah aku memutuskan untuk berhenti.

Aku berhenti mengucapkan ‘selamat pagi’ untukmu bukan karena aku tak mau lagi melakukannya, tapi karena akhirnya aku menyadari bahwa kau tidak pernah menginginkan ucapan itu dariku. Maksudku, kau tidak pernah benar-benar berharap aku mengucapkannya untukmu. Aku tahu kau sudah berusaha keras selama ini – selama hampir tiga tahun umur hubungan kita.

Aku tahu kau sudah sering mencoba untuk memberikan hati dan cintamu untukku, aku tahu kau sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik bagiku, tetapi kenyataan selalu membawamu kembali kepada seorang wanita lain di luar sana. Aku tahu kau sudah sering mencoba melupakannya, tetapi kau tidak pernah bisa melakukannya, ingatanmu selalu membawamu kembali padanya dan hatimu selalu dipenuhi dengan dirinya dan masa lalumu tentang dia.

Aku tahu bahwa kau masih mencintai masa lalumu, wanita yang kau bilang telah menghancurkan hati sekaligus hidupmu.

Aku tahu tiga tahun ini sangat sulit bagimu. Berpura-pura bahwa kau mencintaiku, aku tahu itu sangat menyakitkan. Kuakui, aku salah. Sejak awal aku sudah tahu bahwa hatimu memang bukan untukku, tetapi aku tetap memaksamu masuk ke dalam hidupku. Aku tahu bahwa aku hanya sejenis pelarian bagimu, tetapi aku tetap bertahan denganmu – berharap bahwa suatu saat nanti kau akan bisa benar-benar mencintaiku dan melupakannya, menjadikanku sebagai akhir dari perjalanan panjang pencarian cinta sejatimu.

Oh ya, tahu jugakah kau? Bahkan hanya sebagai pelarianmu pun aku sangat bangga. Aku tahu ini sangat bodoh, bahkan mungkin kau menganggapku sebagai wanita rendahan. Tapi aku bisa apa? Aku hanya terlalu mencintaimu hingga pelarianmu pun kumanfaatkan sebagai kesempatan bagiku menunjukkan bahwa di dunia ini masih ada wanita yang bisa mencintaimu tanpa melukaimu.

Aku minta maaf karena selama ini aku menjadi sangat egois.

Aku tidak sadar bahwa cintaku yang begitu besar ternyata bukannya membahagiakanmu dan malah menambah jejak luka di hatimu.

Aku tidak sadar bahwa mempertahankanmu ternyata hanya membuatmu terkekang dan kau jadi tidak bebas menunjukkan bahwa kau masih sangat mencintainya. Maaf, aku tidak pernah memahami inginmu selama ini. Aku terlalu fokus memberikan yang terbaik bagimu hingga aku lupa memahami perasaanmu.

Maaf, aku sudah menahanmu terlalu lama tanpa mengerti bahwa kau tidak ingin dipertahankan. Maaf, aku sudah memaksamu bertahan untukku, aku sudah mengambil bahagiamu dan aku hanya memikirkan perasaanku sendiri – sebuah kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu dan bahwa aku sangat berharap menjadi masa depanmu, menjadi ibu dari anak-anakmu kelak.

Aku sadar, seharusnya sekarang kau bersamanya dan bahagia, aku tahu itu.

Tetapi semuanya hanya terlalu sulit bagiku. Aku terlalu mencintaimu hingga yang selalu kupikirkan adalah bagaimana cara mempertahankanmu. Sekarang aku tahu kau sudah mencoba memberikan yang terbaik untukku, tetapi pada akhirnya hati tidak pernah bisa bohong, yang kamu cintai tetap bukan aku, tapi dia. Yang kamu harapkan bersamamu adalah dirinya dan bukannya aku. Kamu ingin tertawa bersamanya, bukan bersamaku.

Jujur saja, aku sangat sakit menerima semua ini, juga lebih sakit ketika pagi ini aku akhirnya memutuskan untuk meninggalkanmu, seseorang yang sangat kucintai.

Tapi lagi-lagi, aku bisa apa? Aku tidak ingin menahanmu terlalu lama lagi – tiga tahun sudah cukup.

Kau berhak bahagia meskipun kau adalah bahagiaku. Kau berhak kembali kepada cintamu walaupun aku selalu ingin bersamamu. Namun sebelum akhirnya aku pergi, satu hal yang kuinginkan, agar kau tidak pernah lupa bahwa aku pernah berjuang hebat untukmu dan bahwa aku pernah bertahan dalam keadaan apapun bersamamu.

Sekarang, pergilah, Sayangku. Kembalilah kepada cintamu dan bahagialah bersamanya. Jangan lupa mendoakanku agar aku bisa melupakan dan berhenti mencintaimu. Semoga kelak, aku bisa menemukan bahagiaku walau itu tak bersamamu. Selamat pagi, aku mencintaimu.