Detik ini, jam ini, hari ini tepat dirimu resmi menyandang status menjadi seorang istri. Rasanya campur aduk. Bahagia, haru, kagum, bahkan sedih sudah tercampur menjadi satu. Seakan semua hanya mimpi, namun ketika aku menyaksikan lagi senyum bahagia sahabatku, aku pun tersadar kalau ini bukanlah mimpi.

Rasanya cepat sekali waktu bergulir. Rasanya baru kemarin kita berkenalan. Rasanya baru kemarin kita bercerita panjang lebar soal pria idaman kita masing-masing. Rasanya baru kemarin kita bernyanyi memamerkan suara fals kita. Rasanya baru kemarin kita menangis tersedu-sedu saat menonton drama percintaan. Begitu banyak hal yang rasanya baru kemarin kita lakukan. Ah kenapa semua begitu cepat berlalu.

Tak ada yang salah dengan ini semua. Waktu yang berjalan membawa kita ke satu titik dimana kita harus memulai hidup baru dengan pasangan kita. Dimana kedewasaan kita diuji untuk melalui semua tantangan dalam hidup baru nanti. Dan kini dirimu sudah memulai hidup baru itu sahabat. Belajar menjadi seorang wanita yang anggun dan bijaksana. Tak ada lagi gaya slengekan dan cuek.

Tak ada lagi sifat kekanakan dalam dirimu. Mulai detik ini dirimu akan belajar menjadi seorang wanita yang selalu siap sedia menemani pasangan hidupmu dalam suka maupun duka. Ah betapa aku tak percaya dirimu yang dulu kekanakan dan konyol sekarang telah menjelma jadi wanita anggun nan keibuan. Selamat sahabat.

Aku pun ikut bahagia dengan hari bahagiamu ini. Aku pun akan menjadi orang pertama di barisan terdepan yang tersenyum lebar saat melihat prosesi ijab kabul sahabatku. Ikut terharu saat semua orang berkata “Sah”. Sungguh momentum yang sangat bahagia. Namun terbesit kesedihan dalam hati terdalamku. Bukan, bukan karena kau terlebih dahulu menikah. Sungguh bukan itu. Aku hanya merasa waktu kita nanti akan sedikit berkurang sahabat.

Advertisement

Aku pun harus tau diri saat ini waktumu sepenuhnya untuk mengabdi pada suamimu. Dan itu berarti setiap tindakan yang akan kamu lakukan harus melalui persetujuan suamimu nanti. Aku pun tak akan memaksa jikalau nanti suatu saat dirimu harus pergi dan tak bisa berkumpul bersama kami para sahabatmu. Tapi bukankah itu yang terbaik? Kami pun selalu mendoakan semoga kamu menjadi istri yang sholeha.

Berjanjilah sahabat, ini bukanlah perpisahan. Tak perlu mengucap selamat tinggal karena kami pun tak ingin berpisah denganmu. Jangan jadikan jarak sebagai penghalang persahabatan kita. Tak perlu khawatir sahabat. Kami di sini akan selalu menghubungimu meski kami tau kau bukanlah pecandu ponsel lagi. Kami pun akan selalu mengabarimu meskipun kami tau kau tidak selalu punya waktu yang banyak hanya untuk sekedar mengobrol tak seperti dulu saat kita masih sama-sama berstatus single. Kelak kami pun akan melalui hal yang sama sepertimu.

Dan pada akhirnya kita semua akan menjalani hidup masing-masing. Menjadi sukses dengan cara kita sendiri, menemukan pasangan hidup, menjalani hidup yang baru. Dan waktu pun mengantarkan kita ke pintu gerbang impian-impian konyol kita di masa itu. Terima kasih sahabat atas tawa, canda dan tangis haru kita selama ini. Semoga kita bisa berkumpul lagi, bercerita tentang kisah kesuksesan kita masing-masing, bercanda dengan guyonan garing kalian. Tentunya di masa yang baru dengan pasangan dan anak-anak kita nanti.