Aku tak mengerti sejak kapan perasaan ini mulai berani bertunas, tumbuh hingga akhirnya mengakar. Pertemuan kita terjadi karena kamu adalah kekasih sahabatku. Namun setelah kau putus, nyatanya hubungan kita tak turut pupus, malah semakin erat dan dekat.

Kita berlanjut, mengurai asa masing-masing, menguntai mimpi untuk masa depan. Masa depan yang aku tahu adalah bersamamu, karena itulah aku turut mengharap kita berjalan bersisian dengan mimpi dalam genggaman. Kamu berhasil membuatku nyaman, karena tak menilaiku dari fisk semata.

"Ketika denganmu, aku selalu merasa istimewa."

Kau bersemangat sekali menceritakan kehidupan seperti apa yang kau harapkan kelak. Keinginan kita sama: Menapak jejak ke Jepang. Saat kau melontar asa itu, aku pun mengharap dari palung jiwaku, kita kelak menoreh cerita di Jepang bersama. Menjalani hidup bak bunga sakura yang indah.

"Sahabat adalah pendamping hidup yang sempurna."

Advertisement

Tetapi bingkai indah kenangan kita harus retak, pecah, terserak, kemudian menggores hatiku berulang kali, ketika aku mendengar kabar bahwa kau bersama lainnya. Tak mampu rasanya aku membuktikan apakah kabar itu benar atau buah bibir semata. Karena fraksi memori yang tersimpan rapi telah menyayat hati.

Aku tak perlu melihatmu sedang melukis cerita dengan dia. Namun raut wajahmu hari itu, lebih mampu mengungkap. Seakan rembulan jauh dia atas sana tak bersinar, karena rona kebahagiaan eksplisitmu. Kau bercerita padaku tentangnya. Sementara aku, di sisi lain, merasa bodoh.

Mengapa aku biarkan rasa ini tumbuh dengan liarnya? Padahal kau selalu menganggapku adik perempuan yang tak kau miliki. Tiap untaian kalimat, berubah menjadi stiletto tajam yang menikam. Di depanmu, aku harus menahan isak yang sedari awal ingin tumpah, memberikan senyum dan ikut bahagia.

Adik perempuan tidak seharusnya mencintai kakak lelaki.

Namun aku bukan adik kandungmu. Perasaan ini membesar karena kau jua memberi ruang. Ruang yang kemudian aku tau sebagai kehampaan. Kau katakan bahwa kau menyayangiku, namun mengapa kau memilih dia untuk di sampingmu? Tak cukupkah hadirku saja, aku seorang? Hubungan layaknya Kakak-Adik ini tak bisa menghentikan perasaanku. Rasa sayang ini bukanlah rasa sayang yang aku berikan untuk kakak lelakiku. Aku tak bisa bohong.

"Semua kejadian tak ada yang kebetulan."

Mungkin Tuhan tak ingin aku menjalani masa depan yang melibatkanmu. Cukup kamu menjadi pemain pembantu atau pemanis. Bagaimanapun, pertemuan kita, pertengkaran kita, kenangan bahagia maupun tangis sengsara, tetap akan menjadi pemberian terbaik darimu.

Untukmu, sahabat yang aku cinta, namun ternyata memilih lainnya. Terimakasih atas memori dan setiap momen yang berarti. Hadirmu memang sempat menggores luka, namun tak serta merta menghapus bahagia ketika kita bersama.

Do'aku, semoga kita bisa bersua di negeri sakura bersama belahan jiwa kita masing-masing…