Ada begitu banyak seseorang yang hadir dalam hidupmu, tak hanya satu, dua atau tiga, bahkan bisa lebih dari empat, mungkin? Tapi jangankan untuk kau persilahkan "masuk", baru sampai di gerbang "rumah" saja sudah kau buat tameng. Kau lupa? Rupanya masih ada seseorang yang lain di dalam rumahmu yang tak pernah bisa kau usir, disaat bahkan orang itu tak pernah sadar ada di dalam rumahmu.

Barangkali hal itu yang menggambarkan mengapa sampai saat ini kau hanya mendatangi undangan kawanmu seorang diri, bukan karena kau tak mau mencari seseorang yang akan membuat ia singgah ke dalam rumahmu, tetapi kau sendiri yang membuat sosok itu bertahun-tahun menghuni rumahmu-menghuni-secara tak sadar.

Begitu pula ungkapan orang-orang yang tak pernah tau benar tentangmu dan hanya bisa berseloroh santai "ah kau terlalu susah, Nak!". Mereka hanya tau bahwa kau terlalu pilah-pilih. Padahal jauh dalam lubuk hatimu, pilihanmu hanya satu dan terpaku padanya yang secara-tak-sadar-menghuni rumahmu sehingga membuat "tamu" yang lain tak pernah bisa kau perkenankan masuk.

Setia bisa berarti kau berhenti pada satu hal dan tak berpaling ke hal lain. Bagaimana jika lebih anehnya lagi, kau setia pada seseorang yang ia pun tak sadar jika kau berhenti padanya?.

Kau selalu lupa bahwa kau sendiri yang membuat rumahmu terkunci. Bukan karena apa, kau hanya takut jika ada tamu dan mempersilahkannya masuk maka kau khawatir kalau seseorang yang selalu ada di dalam rumahmu akan hilang. Ketakutan yang tak pernah berdasar sepertinya.

Advertisement

Hingga kapan akhirnya, akankah kau beranjak untuk membuat sebuah keputusan pada pilihanmu?. Akankah kau mengusir pergi sosok di dalam rumahmu yang hanya sebuah bayangan semu belaka, ataukah kau membuatnya menetap dan tinggal dengan sebuah kepastian yang tak pasti?.