Untukmu, seseorang yang ku anggap sebagai jawaban Tuhan.

Dari, seseorang yang selalu bertanya banyak hal kepada Tuhan.

Aku benar-benar lupa kapan kali terakhir kita bercakap, yang kupaham bahwa aku memang sejak lama sudah kehilanganmu. Aku dengan seribu pertanyaanku dan kau dengan seribu kebungkamanmu. Aku benar-benar lupa untuk mengingat.

Karena satu hal yang perlu kau tahu, semua begitu saja melekat di kepalaku, tertanam dihatiku, dan membuatku menjadi seseorang yang baru. Untuk sekali ini dan untuk sesuatu yang mungkin tak sempat terjamah olehmu, aku memintamu untuk mengingat semuanya melalui ingatanku, akan kuceritakan kepadamu tentang seperti apa aku setelah ditinggalkan seseorang sepertimu.

Kau perlu tahu bahwa aku adalah orang yang tak percaya cinta pada pandangan pertama, dan aku membuktikan itu kepadamu. Kau ingat pertama kali kita bertemu? Saat itu kau sedang bersenda gurau dengan salah seorang temanku, aku datang menghampiri kalian dengan lugu.

Advertisement

Temanku menyambut, namun kau dasar saja mengacuhkanku. Seharusnya kau tahu saat itu aku tak tertarik padamu. Dengan ketidaksengajaan, aku pun menawarkan percakapan kepadamu. Kau pasti ingat hal pertama yang kukatakan padamu. Yah, tentang rupamu yang kupaparkan mirip tokoh idolaku hingga wajahmu menjadi memerah malu. Sejak saat itu kau tak acuh lagi terhadapku, entah karena puas atas pujianku atau ada hal yang tak pernah kutahu.

Waktu itu kita masih sangat tabu untuk menjadi satu. Kita tak mengerti banyak hal tentang perasaan, tapi aku paham kau membuatku nyaman. Untuk pertama kali itu aku membenarkan hatiku, kau pun menyambut. Setelah pertemuan itu, kita beradu dipertemuan berikutnya. Tak pernah rasanya ada waktu tanpa kehadiranmu. Kau menjadi pemicu sekaligus pemacu bagiku.

Akan kuingatkan lagi kau tentang tokoh idolaku yang parasnya mirip denganmu, menurutku. Di ujung minggu selalu kusempatkan waktu menyaksikan film yang diperankan olehnya, mencatat seluruh adegan film itu hingga menjadi outline lalu kutuliskan kembali esok harinya. Kau tahu kenapa aku melakukan itu? aku ingin mencuri perhatianmu.

Kau selalu tertarik dengan tulisan-tulisanku bukan?

Sejak saat itu aku jatuh cinta dengan tulisan-tulisanku sendiri. Karena semua tulisanku adalah tentangmu. Tentu kau juga ingat cokelat yang sering kau rebut dariku, yang kau habiskan seenaknya tanpa peduli apakah pemiliknya memperbolehkan.

Kau juga harus ingat parfumku yang selalu kau habiskan hanya sekadar menutupi bau keringatmu itu. Kau benar-benar harus ingat semua itu. Satu hal lagi tentang permainan uang koin kita, masih ingat? Sekali-kali ingatlah sendiri tanpa perlu kuingatkan.

Aku mengaku bahwa aku sudah jatuh cinta kepadamu. Lengkap sudah, kuanggap kau sebagai jawaban tuhan atas pertanyaan-pertanyaanku. Hingga setelah sekian lama kita menjadi satu, tuhan memberikan jawaban lain. Jauh dari apa yang selalu aku pikirkan, dari yang aku sangkakan.

Belum sempat aku bertanya kepadamu dan belum sempat pula kau ceritakan kepadaku. Entah atas kesalahan siapa akhirnya kita harus berpisah untuk sementara waktu. Pertemuan yang tak sesering dulu, rindu yang sulit terbayar, hari- hari tanpa kehadiranmu membuatku benar menjadi rapuh.

Perasaanku berkata, sedikit lagi aku kehilanganmu. Dan benar saja hubungan kita tiba-tiba saja tak sebaik dahulu. Entah siapa yang pergi dan entah siapa yang menjauh. Kita seperti tidak saling mengenal, hingga aku menyadari kau menemukan sesuatu yang baru. Lebih tepatnya seseorang yang baru. Kau tahu? aku terpuruk. Entah hal buruk apa yang kulakukan hingga dengan mudah kau menempatkan pada posisi tidak seperti dulu.

Untuk alasan itu aku menjauhimu. Orang lain itu sudah membuatku memeram kebencian. Kau pergi tanpa pernah punya alasan. Hingga membuatku pun tak memiliki alasan untuk melupakanmu. Seharusnya kau tahu bahwa malam-malam ku terbuat dari rindu yang berbuah luka esok harinya. Hingga saat ini aku belum melupakanmu dan mengganti posisimu dalam hatiku dengan seseorang yang lain. Kau masih saja sama seperti dulu.

Untuk kali ini, untuk sesuatu yang mungkin tak terjamah olehmu. Aku tak pernah bermaksud menggangumu lagi. Aku hanya ingin sejenak membuatmu ingat bahwa ada seseorang yang selalu berbahagia melihat kebahagiaanmu. Ada seseorang yang selalu mendoakanmu dari jauh. Seseorang yang terlalu banyak pertanyaan yang jatuh hati pada yang tak bisa menjelaskan.

Untukmu, seseorang yang ku anggap sebagai jawaban tuhan.

Dari, seseorang yang selalu bertanya banyak hal kepada tuhan.