Untukmu yang pernah tersentuh hatinya. Duduklah bersamaku malam ini. Dengarkan aku menuntaskan cerita. Simaklah. Walaupun kau tahu tak semua cerita berakhir bahagia.

Ingatkah kau tentang semua kenangan yang pernah kita lalui bersama? Menghabiskan waktu hanya berdua. Di musim panas yang akhirnya menembus hujan. Ingatkah kau tentang semua rayuan yang kaulontarkan setiap harinya? Ingatkah kau tentang memo yang semakin hari semakin menumpuk di dinding kamarku? Ingatkah kau tentang malam-malam semu yang menjebak perasaanmu? Ingatkah kau tentang cerita hati yang terbagi dua? Jika kau ingat, kumohon, lupakan. Jangan kau kenang. Karena sesungguhnya semua yang kau rasakan tak lebih dari sebuah fatamorgana rasa dalam hatimu.

Jika kepastian tak melingkupi perasaanmu, untuk apa kau bersusah payah mencari celah? Karena pada akhirnya keraguanlah yang menguasai permainan rasa di antara kita.

Untukmu, seseorang yang pernah terjebak perasaannya. Dengarkan hati yang ingin sendiri ini. Berhentilah berharap pada sebuah ketidakmungkinan. Berhentilah mencoba pada jiwa yang tak mau menerima. Berhentilah berlari pada hati yang tak mau pergi. Karena pada akhirnya, kau menyakiti diri sendiri.

Simaklah baik-baik setiap kalimat yang kaubaca. Jangan berpaling. Tetap di situ. Di tempat dudukmu. Karena jika kau beranjak pergi, aku takut kau malah berpetualang kembali mencari ketidakmungkinan sesuka hati.

Advertisement

Semua yang kaurasakan selama ini, hanyalah ilusi. Tak pernah lebih. Jika kau menginginkannya melebihi dosis, aku tak berani jamin perasaanmu akan terobati.

Jika kau masih menyimpan sesuatu yang kuberikan padamu. Jika barang itu malah akan menyakitimu. Jika barang itu malah hanya akan menggelisahkan jiwa dan pikiranmu. Buanglah! Jika menyimpannya adalah sebuah hukuman, lepaskanlah. Aku tak memaksa kau tetap menjaganya. Itu bukan tugasmu. Yang harus kau lakukan saat ini adalah berlari dan pergi menjauh dari pandanganku.

Sedekat apapun kita dulu, jangan sampai kau terjebak di masa lalu. Seakrab apapun kita kemarin, jangan sampai kau terjebak semakin dalam untuk sesuatu yang tidak terjamin. Sehangat apapun hubunganku denganmu, jangan sampai kau mendamba aku akan jadi selimutmu ketika kedinginan mulai merajai hatimu.

Lihat aku. Siapa aku bagimu? Buka matamu. Aku tak ingin menolakmu. Karena kutahu, penolakan tak bersahabat denganmu.

Lihat dirimu. Di mana posisimu? Dengan siapa kau bersanding saat ini? Jangan terlalu banyak berlari jika pada akhirnya akan ada hati yang tersakiti.

Jangan terlena dengan angin yang berhembus di kala senja. Selembut apapun angin itu membelaimu, seindah apapun melodi yang dibawa angin itu padamu, senyaman apapun angin itu hingga sampai membuatmu tertidur, sadarlah.

“Karena semuanya hanya sementara. Esok ataupun lusa, angin itu tak memberimu kepastian untuk kembali.”

Jangan berseteru lagi. Sudahlah, kita akhiri.