Hai, Wanita di Masa Lalu Lelakiku.

Perkenalkan, aku adalah wanita yang saat ini ia panggil sebagai "Istriku". Aku ingin menulis tentangmu, berharap kau akan membaca ini di suatu tempat di saat senggangmu.

Kisahmu dan lelakiku membuatku bertanya-tanya semenjak tanpa sengaja kutemukan media sosialnya tak ter-log out tempo hari, yang berakhir dengan scroll laptopku bergulir naik menelusuri awal kisah kalian.

Tidak, aku tidak cemburu. Pun bukan sengaja aku ingin tahu tentang kisahmu dan lelakiku. Namun, entah mengapa naluriku memaksa jari-jariku untuk terus mencari tahu tentangmu.

Dalam chat yang kau rangkai dengan lelakiku dulu, aku bisa melihat dia begitu tulus menyayangimu, ingin menjagamu, melindungimu. Tidak, sungguh, aku tidak cemburu. Kepadamu yang dulu menempati singgasana hatinya, bukankah itu hal wajar jika dia berbuat begitu?

Advertisement

Cara dia menanyakan kabarmu hari itu, caranya mengungkapkan kerinduan padamu yang selalu harus jauh dari pandangannya karena kewajibannya bekerja di luar kota, caranya mengingatkanmu untuk makan yang cukup, caranya memujimu, semua itu sangat khas dirinya.

Semakin lama aku membaca obrolan kalian di dunia maya, aku justru semakin tidak mengerti. Mengapa kau seakan tak punya hati untuknya? Mengapa kau seakan hanya menganggap ia kawan baik saja?

Lalu yang membuatku ternganga adalah saat membaca bagaimana kau remukkan dan patahkan hatinya, semangatnya, begitu saja. Seketika. Aku bisa membaui harapannya yang saat itu lenyap hilang tak bersisa, tanpa suara.

Aku hamil. Dengan orang lain… Maafkan aku.. Aku bingung harus bagaimana…

"Teganya kau…" bisikku saat membacanya. Kau tak tahu, bukan, air mataku berlinangan seketika? Terlebih ketika kau dengan tak tahu malu mengatakan padanya,

Jika kau bisa, tolong bicaralah pada orang tuamu. Bisakah jika kau menikah denganku?

"Apa kau gila?!" teriakku saat itu.

Beraninya kau! Beraninya kau meremukkan hatinya dengan cara macam itu. Beraninya kau mengkhianatinya seperti itu. Meski ia jauh, bukankah hanya kau yang selalu ia pedulikan? Bukankah setiap kali ia memiliki waktu, jauh-jauh dia mendatangimu, dan malah tidak menengok kedua orang tuanya?

Teganya kau mengatakan itu padanya. Apa yang kau harap akan dikatakannya? Lelaki itu dulu begitu mencintaimu, setulus-tulusnya. Kau berharap dengan mudah ia akan berkata "ya", bicara pada orang tuanya, "Ayah, Ibu, aku ingin menikahi wanita itu, dia hamil tanpa suami, dan anaknya bukan anakku.", dan pernahkah kau bayangkan akan sehancur apa hati kedua orang tuanya? Kau berharap ia akan membawa rombongan keluarganya ke pintu rumahmu? Begitu?

Ya, aku marah, selepas membaca permintaanmu. Apalagi ketika lelakiku sempat menanggapi bahwa ia akan mencoba mendiskusikan dengan ayah ibu. Tidak, aku tidak marah lelakiku. Aku marah padamu!

Untunglah saat itu ia sadar kemudian, bahwa menikahimu bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Setelah ia lihat gurat-gurat wajah Ibunya yang semakin menua, setelah menengok kembali betapa selama ini demi kau ia nyaris menjadi durhaka, ia menjadi yakin bahwa bukan kau yang harus ia buat bahagia.

Dia memutuskan terus berjalan. Menyudahi segala ikatan denganmu dan menjemput segala kebaikan masa depan. Sejak saat itu, baginya. kau. hanya. sebuah. kesalahan.

Aku juga wanita. Kau dan aku mungkin bisa merasakan hal-hal sama. Tapi di sini jelas, kuota logika di kepala kita berbeda.

Aku paham, bahwa saat itu kau pasti sangat menderita, bingung tiada tara. Namun, pantaskah kau memohon hal itu padanya?

Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu saat ini, pun dimana kau kini. Tapi semoga kau belajar dari masa lalu yang kau miliki.

Untukmu aku doa kupanjatkan, semoga kau memiliki seindah-indahnya kehidupan, yang tidak menyakiti dan menyakitkan, yang damai dan mendamaikan.

Bukalah lembar-lembar baru kehidupanmu, jangan lagi mengulang dosa-dosa masa lalu. Semoga Tuhan selalu bersamamu.