Paling sabar, adalah kata yang kukira tak berlebihan sebagai gambaran diri seorang wanita, wanita tangguh setelah Ibuku..

Kekasihku, tak pandai aku berkata-kata. Kau pasti paham. Kau kerap kali menertawaiku ketika aku mencoba merayumu dengan kata-kata manis bak anak muda. Padahal otot-otot wajahku mencoba untuk serius, tetapi tetap saja seperti lelucon dihadapanmu. Aku sedikitpun tak tersinggung. Bukan keahlianku merayu wanita memang.

Kekasihku, apa kabar ? Semoga Tuhan tak bosan mendengar namamu yang selalu terselip didalam doa-doa yang terpanjat kepada-Nya tiap sepertiga malamku. Apakah kau masih menyempatkan sedikit waktumu untuk memikirkanku disela kesibukanmu ?

Kekasihku, banyak hal yang tak terucap dari bibir ini. Bukan karena aku tak peduli, tapi kumengira diam adalah cara agar semua masalah selesai. Ternyata aku salah. Kau mungkin mengiraku tak pernah menghiraukan perasaanmu, rasa khawatirmu.

Teringat terakhir kali kita berjumpa bulan lalu, pertemuan yang meninggalkan luka sebab emosiku yang tak bisa kukendalikan. Hingga aku harus menyaksikan kau menangis dihadapanku. Apa yang aku lakukan? Aku malah membanting pintu dan meninggalkanmu diruangan itu. Kekasihku, mengertilah.. tiada hal yang lebih menyakitkan daripada melihat seorang wanita yang kucinta menangis. Sesungguhnya hati ini tak tega.

Advertisement

Engkau wanitaku, yang mau mengorbankan sebagian masa remajanya hanya untuk menemaniku sedari aku yang tak lebih dari lelaki tak berarti, yang rela menunggu kepulanganku, rela berteman dengan kesepian, dan rela mengorbankan mimpimu hanya untuk bisa bersanding denganku.

Tiada hal yang lebih indah dari anugerah Tuhan sepertimu. Rasanya terimakasih saja tak cukup untuk membalas semua yang telah kau berikan kepadaku. Hingga sampai mimpiku terwujud, yang kuberikan kepadamu tetaplah rasa sepi dan tuntutan untuk bersabar.

Setinggi dan sebesar apapun emosiku, kau pun mampu untuk tetap tersenyum. Hingga entah setan apa yang merasukiku malam itu, emosiku membuat air matamu yang selalu bisa tertahan tak terbendung lagi malam itu.

Di dek kapal, tiap malam penyesalan mendekapku. Seperti ribuan duri menancap di hatiku. Seperti cambukan Tuhan terhadap dosaku, membuat wanita yang telah kunikahi menangis. Hingga tak terasa air mata ini mengalir.

Kekasihku, maafkan aku. Sungguh tiada maksud melukai hati kecilmu. Tiada maksud menuduhmu, pikiran itu muncul begitu saja. Kata maafku mungkin tak akan dengan mudah menghapus rasa sakitmu terhadapku. Tapi percayalah, aku menyesal. Maaf, aku yang tak selalu bisa menemanimu. Tak selalu ada saat kau butuh, tak berada disisimu ketika putra pertama kita hadir didunia.

Maaf.. maaf jika waktuku untukmu tak pernah selalu lebih banyak dari tugas dan perintah. Kerja kerasku, keringatku dan waktu menjadi saksi, kaulah wanita yang selalu dibelakangku. Selalu menjadi bagian dari perjalananku menuju puncak.

Tetaplah menjadi wanitaku yang selalu sabar untuk menunggu kepulanganku. Kerja keras dan semua pengorbanan ini, hanya untuk putra kita, untukmu, untuk kita bertiga. Aku mencintaimu wahai Kekasihku..