Kamu yang telah menyatakan cinta namun belum bisa tegas dalam mengartikan hubungan ini. Ketahuilah bahwa aku di sini sedang menunggu kepastianmu.

Aku mencintaimu namun masih bergulat dengan perasaaanku karena ketidakpastianmu dalam hubungan yang abu-abu.

Ketahuilah aku telah cukup lama memendam rasa ini; jika itu yang membuatmu ragu untuk menegaskan hubungan ini. Aku tahu kamu bukan tipe romantis dan bukan itu pula yang membuatku jatuh cinta padamu. Kekonyolanmulah yang telah membawaku sampai pada perasaan ini. Tetaplah seperti itu, karena itulah yang akan membuatku semakin mencintaimu.

Dalam hubungan yang abu-abu ini, aku telah menganggapmu sebagai pasanganku. Mungkin terlalu cepat bagimu. Tapi aku juga tidak mau berjalan lambat. Itulah yang membuatku selalu menginginkanmu mengirim pesan untukku. Mungkin itu membuatmu kurang nyaman karena aku tahu kamu memang tidak terbiasa untuk itu. Aku tidak menuntutmu untuk mengirimiku ratusan pesan seperti seseorang di masa laluku. Cukuplah saja kamu mengabariku bahwa harimu berjalan baik-baik saja atau sekedar menanyakan kabar dan bagaimana aku menjalani hari ini. Tidak muluk bukan? Sederhana membuatku bahagia.

Aku lelah jika aku harus selalu memulai dan selalu berakhir dengan pesan yang kamu biarkan begitu saja. Bagaimana bisa aku lelah dengan hubungan yang bahkan belum di mulai?

Advertisement

Kamu seperti novel baru yang sangat berbeda dari novel sebelumnya. Aku baru saja membacanya di awal dan aku sudah merasa kesulitan memahami isinya. Walaupun begitu aku ingin membacanya sampai akhir. Bukan hanya membaca, tapi aku ingin memahami isinya.

Kamu sangat berbeda ketika sekedar berkirim pesan dan ketika kita berjumpa untuk saling bertukar rindu. Kamu seolah-olah adalah dua sosok yang berbeda, berkepribadian ganda. Kamu dan pesanmu membuatku bertanya apakah pernyataan cintamu waktu lalu adalah omong kosong? Sedangkan kamu dan setiap pertemuan kita membuatku merasa yakin kita memiliki rasa yang sama.

Dan selalu di ujung perjumpaan itu, kamu selalu meninggalkan warna yang menggoda. Membuatku selalu bertanya kapan kita kembali berjumpa.

Kita memiliki rentang usia yang berbeda, hampir 1 tahun jaraknya. Membuatmu selalu menggodaku dengan memanggilku kakak kelasmu. Dasar adik kelas yang tidak tahu diri! Haha. Sosokmu yang manja memang memberiku warna yang berbeda.

Kamu memang mengajarkanku bagaimana bersabarnya menahan rindu. Ketika yang lain bisa melampiaskan rindunya dengan ber-chatting ria, sebaliknya denganku. Mengirimkan pesan untukmu sama saja menguji emosiku. Menunggumu membalas satu pesan saja, harus membuatku menunggu berjam-jam. Ingin rasanya membalasmu untuk itu, sekedar membuatmu jera, membuatmu tahu bagaimana rasanya menunggu. Tapi ketika handphone-ku berdering dan namamu tertera disitu, tak kuasa aku mengabaikanmu!

***

Kamu tahu bagaimana rasanya menunggu? Kamu tahu rasanya merindu? Sepertinya tidak, karena aku tidak pernah membiarkanmu menunggu dan merindu. Aku selalu menunggu agar kamu tidak menunggu. Aku selalu menunggu agar kamu tidak sempat merindu. Menunggumu dalam diamku, merindumu setiap waktu.

Kamu adalah candu yang membuatku merasa ingin selalu bertemu. Kamu adalah rindu yang selalu hadir dalam nafasku. Aku tahu aku telah menjelma menjadi anak kecil ketika aku bertemu denganmu. Merengek manja kepadamu setiap menahan rindu.

Aku sangat ingin bersamamu, menemani harimu, setidaknya itu yang aku rasa beberapa bulan lalu dan sampai saat ini. Aku akan bertahan semampu dan sekuat yang aku bisa menikmati hubungan abu-abu ini sampai di batas di mana aku merasa tidak mampu lagi.

Semoga kamu yang selalu aku semogakan segera memperjelas hubungan ini dan mewarnainya dengan tinta warna-warni.