Begini kawan.

Apapun yang akan kamu lakukan sekarang, kamu harus siap. Bahwa hari-harimu saat ini tidak akan ada dia. Percaya atau tidak, kenyataannya kamu sudah sendiri. Terserah hatimu di masa lalu atau pun masa depan.

Kawan, kalau kau ingin bercerita tentang dia. Ceritakanlah! Aku disini mendengarmu. Apapun yang kamu akan ceritakan, akan aku dengar. Kamu selalu merasa butuh solusi, tetapi aku yakin, kamu bukan butuh solusi. Kamu hanya butuh teman untuk mendengarkan ceritamu. Saran apapun dariku, atau dari teman teman lain, tidak akan membuatmu berhenti bercerita. Tidak akan membuatmu berhenti mengingatnya. Tidak akan membuatmu menjadi melupakannya. Memang bukan itu kawan yang kamu butuhkan saat ini. Kamu hanya butuh media untuk mengungkapkan apa yang kamu rasakan.

Kawan, aku tidak akan melarang apapun pilihanmu. Mau tetap ingin balik kepadanya? Atau mau mulai meninggalkannya. Tapi aku tahu pasti kawan, kau tidak bisa memilih, antara ingin mengajaknya balikan, atau ingin melupakan. Yang bisa kau lakukan saat ini kawan, berhenti menghubunginya. Itu saja.

Tenang kawan, jangan berfikir aku menyarankanmu untuk meninggalkan. Tidak. Sama sekali tidak. Keputusan untuk mengajaknya balikan atau mencari yang lain itu kau sendiri yang putuskan. Aku hanya menyarankan untuk berhenti sejenak, jangan menghubunginya. Jika kau punya kontaknya, jangan gunakan untuk menghubunginya. Jangan. Diamlah untuk sementara waktu. Sampai suasana hatimu tenang. Karena jika kamu tetap berusaha mengajaknya balikan. Itu bukanlah ajakan penuh cinta. Tetapi paksaan penuh amarah. Aku hanya membantumu kawan. Memastikan bahwa kamu akan baik-baik saja.

Advertisement

Pendekatan apapun yang kamu gunakan saat ini, hanya akan membuat tekanan kepadanya. Baik langsung maupun tak langsung, baik sengaja atau tidak. Paksaan ini yang tidak akan membuatnya menjadi simpati kepadamu. Tetapi justru membuatnya kehilangan respect kepadamu. Jadi kawan, aku ingatkan kepadamu. Berhentilah menghubunginya. Semakin kamu mendekat, ia akan semakin jauh. Diamlah disini aku masih menemanimu.

Jangan takut kawan. Jangan takut jika dia akan memilih orang lain. Kalau kau memang masih mencintainya, hal yang paling baik untuk saat ini hanya membiarkan dia bersama pilihannya. Jangan apa apakan. Jangan kau hadir menjadi pengganggu. Tapi juga jangan kau pergi seperti terganggu. Biarkan saja.

Kawan. Lakukan saja hal lain yang memang perlu kamu lakukan. Ada langkah demi langkah yang harus kamu jalani. Tidak perlu melempar kenangan itu jauh kebelakang. Tidak perlu juga memaksakan untuk menyeretnya bersama langkahmu yang terseok. Saat ini yang kamu perlu lakukan adalah, berjalan selangkah demi selangkah.

Kau pergi jauhpun, tidak akan bisa membuatmu lupa kepadanya. Aku tahu. Kau mendekati banyak perempuanpun tidak akan membuatmu jatuh cinta lagi dengan perempuan lain. Aku sangat tahu itu. Aku mengerti. Tapi percaya padaku kawan. Dia tidak akan pernah menerimamu kembali selama kamu masih tidak bisa berdiri.

Kawan. Ayo berjalan bersama. Bangkit demi dia. Lakukan pelan-pelan. Tidak usah terburu buru. Kadang kadang memang yang dilupakan adalah waktu. Bukan sedetik, semenit, sejam ataupun sehari untuk bisa memulai berjalan lagi. Berapa besarpun tenaga yang kamu punya saat ini, yang perlu kita lakukan adalah berjalan pelan pelan.

Jangan meratapi, kau boleh menyesal, tapi jangan diratapi. Ingat-ingat saja bahwa kau pernah salah. Bahwa kau pernah disakiti. Kau tidak akan lupa. Tidak akan. Tetapi sikapmu yang harus dirubah. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Diam. Jangan hubungi dia. Sampai hatimu tenang. Berapapun waktu yang kamu butuhkan. Lakukan selama yang diperlukan.

Dan setelah engkau tenang nanti kawan, kau akan tahu. Seberapa layak dirimu untuk mendapatkannya kembali. Atau justru kau akan bertanya, seberapa layak dia untuk kamu dapatkan kembali.

Kawan. Diamlah sementara. Untuk tenang.

Berapapun lamanya. Tetaplah tenang.