Dear seseorang yang tengah aku rindukan, aku menyebutmu sebagai rindu sejak kali terakhir perjumpaan kita sebelum kepergianku. Apa kabar di sana? Tahukah kau, aku selalu menyebut namamu dalam doaku? Tentang rindu yang kerap kali kita ungkap, aku bahagia setiap kali mendengar rindu yang kau ucap, pun jika sebenarnya itu hanya kebohonganmu semata. Biar. Biar saja aku begini, seolah memilikimu padahal sebenarnya aku tak pernah benar-benar memilikimu Biar aku terus menikmati sabit di bibirmu pun jika kelak aku akan kehilangan segala tentangmu, ketika kau kembali padanya, kekasihmu.

Barangkali ini adalah kebodohan. Tapi siapa yang mampu terus mendustai perasaan? Tak ada, dear. Tidak denganku pun denganmu. tidak pula dengan kita atau pun mereka. Aku hanya ingin jujur pada perasaankku sendiri. Aku kerap merindukanmu di sini, meski kau tak tahu akan kerinduan ini pun barangkali kau tak pernah merindukanku seperti kumerindukanmu Ah, memangnya siapa aku? Berharap kau rindui. Bukankah aku tak lebih hanya sekedar pengisi waktu kosongmu?

Entah bagaimana awalnya dan sebab apa, kau kerap kali berhasil menangkap kerinduanku, dan aku kerap kali berbohong menyembunyikannya darimu. Kau tahu mengapa? Aku takut. Takut kalau-kalau kau tahu perihal rindu ini, lantas menjauhiku. Karena kehilanganmu adalah salah satu hal yang tak pernah aku inginkan, meski aku tak pernah memilikimu. Ada yang harus segera aku sadari, perihal kepulanganmu pada kampung halamanmu beberapa waktu yang akan datang. Sejak kudengar pernyataan itu darimu, netraku kerap berembun, bahkan menimbulkan rintik yang menggenang. namun tak ada satu kata pun yang mampu menjadi alasanku untuk mencegahmu, memintamu untuk tetap tinggal, atau pun memintamu segera kembali. Aku sadar siapa diriku dalam hidupmu.

Aku hanya mampu berharap dan berdoa, takdir dan waktu akan berbaik hati. Setidaknya untuk membawamu segera kembali di hadapanku, meski tak untuk menjadi milikku. Semoga kau mengerti perihal segala rasa pun asa yang kuuntai.

Untukmu, (A)ku.