Potongan qoute tersebut masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sampai detik ini aku masih menunggu sosokmu yang cintanya sulit sekali aku raih. Memang terdengar sangat bodoh dan sia-sia tapi inilah cinta. Tulus dan tidak pernah memaksa.

****************

Belasan tahun lalu Tuhan mempertemukan kita, sungguh kamu adalah ciptaan Tuhan yang tak terkira indahnya.

Pertemuan kita memang sudah direncanakan oleh Tuhan. Saat itu kita masih kanak-kanak dan sangat polos. Kini kita telah beranjak dewasa dan siap untuk melawan kerasnya dunia. Selama itu aku mengenalmu sebagai temanku. Tetapi ada perasaan yang tidak wajar yang sudah menyerangku sejak dulu. Entah mengapa setiap kali aku melihatmu jantungku rasanya dipacu untuk berdetak lebih cepat dari biasanya.

Aku adalah seseorang yang diam-diam memujamu

Kamu tidak tampan, tidak juga menawan tetapi ada sesuatu dalam dirimu yang terus menarikku untuk memperhatikanmu. Ada kesenangan tersendiri ketika aku memikirkan bagaimana caramu tersenyum, caramu memandang, caramu berbicara dan apa-apa yang berhubungan denganmu. Diam-diam aku mengagumimu. Rasa kagum itu semakin hari semakin menggebu dan aku tidak mengerti rasa apa lagi yang sedang bermain-main dalam hatiku karena memang aku masih terlalu kecil untuk menyadarinya. Mungkin ini yang dinamakan cinta monyet, cinta pertamaku. Sekian lama aku menjadi pemuja rahasiamu, menikmati keindahan dirimu dalam diamku.

Advertisement

Darimu aku mengenal cinta dan patah hati untuk yang pertama kali

Cinta terlalu dini untuk dimengerti oleh anak seusiaku dulu, tetapi semakin hari aku semakin yakin bahwa rasa yang tidak wajar itu adalah cinta. Tetapi suatu hari aku menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengisi hatimu dan itu bukan aku. Perasaan aneh kembali menyerangku, kini bukan lagi rasa yang membuatku bahagia tetapi rasa sakit yang tak terhingga. Menyakitkan sekali ketika menyadari cintaku tak berbalas. Rasanya dada ini sesak harus menahan perasaan yang selama ini tumbuh dengan liar tetapi tidak disambut baik olehmu. Aku ingin marah, aku ingin menagis tapi apalah dayaku, aku hanyalah wanita yang diam-diam mencintaimu. Marah dan kecewapun aku tak berhak.

Aku Harus Bisa Mengubur Perasaan Itu Dalam-Dalam

Setelah aku menyadari cintaku tidak bersambut, aku berusaha untuk membiasakan diri untuk tidak memiliki rasa kepadamu. Aku mengubur dalam-dalam semua rasa dan harapan-harapan yang sempat aku impikan. Aku berfikir hal itu akan sangat mudah untuk dilakukan karena usiaku yang masih kanak-kanak dan belum sepantasnya merasakan hal seperti itu. Tapi semakin aku berusaha mengubur rasa itu dalam-dalam semakin rasa itu tumbuh dengan liar. Sampai aku beranjak remaja, rasa itu masih ada dalam hati. Berkali-kali aku melihatmu berusaha mengetuk pintu hati satu wanita ke wanita lain, berkali-kali aku merasakan sakitnya patah hati tetapi apalah dayaku, sampai detik itu aku hanya diam karena memang aku tidak pernah mengutarakan isi hatiku, aku terlebih dulu sadar diri akan posisiku dihatimu. Sampai detik itu aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, aku hanya bisa menyebut namamu dalam setiap perbincanganku dengan Sang EmpuNya hidup.

Waktu Terus Berjalan, Tapi Rasa Itu Masih Setia Tinggal Dihatiku

Lambat laun aku bisa membiasakan diri dengan perasaanku, membiasakan diri melihatmu dengan wanita lain. Aku tidak lagi merasakan sakitnya cinta tak berbalas karena dengan melihat senyummu saja rasa sakitku sudah bisa terobati. Waktu terus berlalu dan aku sudah memasuki bangku SMA. Aku mulai membuka hatiku untuk laki-laki lain. Beberapa hati sempat tinggal sesaat dihatiku dan hal itu bisa membuatku lupa akan dirimu. Tetapi suatu hari kamu menghubungiku dan tiba-tiba aku merasakan detak jantungku kembali dipacu untuk berdetak lebih cepat, rasa itu kembali muncul. Tuhan mengapa bisa begini? Ternyata pemikiranku salah. Waktu memang terus berjalan tetapi rasa itu masih setia tinggal dihatiku.

Cinta Ini Semacam Benang Kusut

Lama sekali kita tidak bertemu, kini kita sudah mulai memasuki usia dewasa. Aku memang masih belum bisa memusnahkan cintaku kepadamu karena tanpa kamu sadari kamu telah membuatnya tumbuh semakin liar. Beberapa kali kamu datang kepadaku dan mengutarakan isi hatimu tetapi kamu tidak pernah benar-benar serius akan hal itu. Kamu hanya datang sesaat kemudian pergi begitu saja. Aku memang benci akan kelakuanmu tetapi aku hanya diam. Pertahananku untuk tidak mengutarakan isi hatiku masih sangat kuat. Sampai pada suatu hari kamu kembali datang dan mengutarakan isi hatimu, akupun sudah tidak bisa menahan diri untuk menyimpan perasaan itu. Dan akhirnya aku mengutarakan isi hatiku kepadamu. Kamu datang kembali ketika ada laki-laki lain yang sedang menjalin hubungan denganku tetapi pada saat itu hubunganku sedang diuji dengan pertengkaran-pertengkaran yang membuatku lelah. Sungguh waktu yang tidak tepat. Sakit sekali ketika cintaku mulai bersambut tetapi waktu tidak memberikan kita kesempatan untuk bersatu. Untuk beberapa saat aku berfikir, aku mengalami pergulatan hati yang cukup hebat. Disatu sisi aku ingin memperjuangkan perasaanku yang bertahun-tahun aku simpan tapi disisi lain terasa sayang untuk mengakhiri hubunganku yang berjalan cukup lama. Pada akhirnya akupun memutuskan untuk melepaskan lelaki yang menemani hari-hariku karena hubunganku tidak hanya diuji dengan pertengkaran tetapi juga diuji dengan restu dari kedua belah pihak. Terlalu besar dinding yang membatasi kita berdua. Ketika aku sudah sendiri kenyataan pahit harus aku terima. Kamu tiba-tiba menghilang seperti kebiasaanmu dahulu. Aku benar-benar kecewa dan patah hati. Tapi ini kehidupan nyata bukan cerita cinta dalam dongeng yang menyederhanakan perjalanan cinta seseorang sehingga semuanya berakhir bahagia. Pada saat itu aku merasa berada dalam fase rapuh. Setiap hari aku tersakiti akan rasa yang bertahun-tahun aku coba musnahkan. Tapi hidup harus terus berlanjut. Tanpa aku sadari ada laki-laki baru yang mencoba mengetuk pintu hatiku. Hari-hariku yang sempat tidak berwarna kini kembali berwarna. Akhirnya aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Tetapi suatu hari kamu kembali datang dan meminta agar nanti aku bisa menguncimu. Aku benar-benar marah kepadamu tetapi apalah dayaku rasaku lebih kuat dari amarahku. Aku kembali mengalami pergulatan hati yang cukup hebat. Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan kekasih baruku. Kenyataan pahit kembali harus aku terima. Kamu kembali pergi begitu saja dan entah sampai kapan hal seperti ini akan terus terjadi. Sungguh cinta ini seperti benang yang kusut.

Inilah Cinta.Tulus Tanpa Paksaan

Berkali-kali kamu datang mengutarakan perasaanmu dan berkali-kali pula kamu pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan tapi aku selalu menerimanya dengan lapang dada. Aku masih bertahan menunggumu meskipun aku tahu kamu tidak pernah memperjuangkanku, aku masih bertahan dengan rasaku meskipun aku tahu rasa itu tidak berbalas. Aku tidak pernah memaksamu memiliki rasa yang sama kepadaku, yang terpenting aku sudah mengutarakan semua isi hatiku.Aku tidak lagi mencintaimu dalam diam. Biarkan ujung dari rasa ini ditentukan oleh sang Khalik. Apakah akan terus bertahan atau semakin memudar seiring berjalannya waktu.