Mungkin baru lusa kita bertemu, bertatap muka, bercanda ria dan bersenda gurau layaknya teman di masa kecil yang baru bertemu kembali. Terkadang aku berfikir, apakah kau merasakan perasaan yang sama denganku? Perasaan yang tak biasanya datang ku fikir, yang benar benar sudah lama sekali tak hinggap di dada ini. Perasaan itu mulai timbul kembali ketika ku lihat senyum manismu terpancar cerah di wajah kekanak kanakanmu.

Hari itu, pertemuan kita pertama kalinya. Pertemuan yang dimana benar benar aku merasakan sesuatu hal yang berbeda di dalam dirimu. Rasanya ingin ku dekap dirimu ketika kita mengobrol bersama disebuah tempat makan sore itu. Namun, aku masih ingin menjaga kehormatanmu, juga kehormatanku dengan tidak menirukan gaya pacaran anak muda jaman sekarang.

Andai saja, kau tahu rasa yang sedang sekarang aku rasakan. Mungkin tak ada kata kata yang bisa menjelaskan tentang semua rasa ini kepadamu. Kau jauh disana, aku pun jua begitu. Kita terhalang oleh jarak dan waktu, jarak yang memang memisahkan kita dan juga waktu yang terus menerus menyita kita pada prioritas utama hidup di dunia, yaitu menggapai cita – cita.

Jujur, aku sudah terlalu lelah dengan perjalanan cinta yang menurutku berujung sama dengan yang sudah – sudah. Di usia yang tak lagi muda ini, cobalah berfikir ke depan, apakah kau masih harus terus begitu? Apakah kau masih belum menerima diriku apa adanya? Belum meyakini semua ini bisa berjalan dengan baik? Dan komitmen apa yang bisa membuatmu percaya kepadaku dengan adanya hubungan ini?

Ketika aku menanyakan hal ini kepadamu, kau malah membingungkan kepalaku dengan jawaban yang cukup memilukan. Jawaban yang masih sampai sekarang terngiang – ngiang dikepalaku, yang tak bisa membuat hidupku tenang. Padahal aku telah membuat suatu keputusan untuk tidak lagi “mencari” setelah aku bertemu denganmu di hari itu.

Advertisement

Jika memang kau perlu bukti, bukti apalagi yang kau inginkan dariku? Apa kau perlu membelah hati ini dan kau lihat betapa banyak namamu tersirat bersamaan dengan doa yang setiap malam ku panjatkan kepadaNya supaya aku bisa bersanding denganmu nanti di pelaminan?

Mungkin sedikit terdengar konyol ya baru usia seperti ini sudah membicarakan tentang pelaminan. Namun tidak bagiku, karena aku sudah tidak mau lagi bermain main dengan api cinta, api asmara yang membara dan hanya membuat secercah dosa bagi penikmatnya yang belum sadar akan kerugian yang ia tanam sewaktu masih pacaran dulu.

Yang hanya aku inginkan darimu adalah kepercayaan yang sepenuhnya berasal dari dalam hatimu. Tak usahlah berbicara tentang komitmen dan segala yang bisa membuat hati tenang dengan janji janji penuh omong kosong belaka. Jika hubungan jarak jauh ini adalah salah satunya alasan mengapa kau tak bisa membuat suatu kepercayaan kepadaku, ya paparkan saja. Jangan membuatku bingung dan mencari – cari dimana letak kesalahanku padamu yang bisa membuat kau tidak percaya sepenuh hati dengan hubungan ini.

Kalau memang ada yang lebih lebih dan lebih baik dari diriku, bolehkah aku tahu siapa gerangan? Bukan bermaksud untuk mencampuri urusanmu. Tetapi aku ingin tahu, seberapa baik dirinya bisa menggiringmu ke arah yang lebih baik lagi. Jika memang kau pernah bercerita tentang masa lalumu yang kelam, maka itulah yang aku takutkan. Kembalinya lagi dirinya masuk kedalam hidupmu ataupun ada orang baru, patut kau perhatikan apa tujuannya jelas untuk membimbingmu ke arah yang lebih baik lagi atau mungkin malah mengembalikanmu kembali ke masa kelam dirimu?

Semua orang mempunyai masa kelam, mungkin masa kelammu tak sekelam masa kelamku, maka dari itu aku ingin mengubah hidupku ke arah yang lebih baik lagi, ke hubungan yang lebih serius lagi. Hubungan yang sehat, dimana kita dipisahkan oleh jarak dan waktu sehingga kita hanya berputar dan berputar mengelilingi roda kerinduan yang tiada tara atas nama Cinta kita berdua.

Dengan ini, izinkan aku membawamu masuk ke dalam hidupku, masuk ke dalam buah pemikiranku sebagai calon Imam dari keluarga kecil kita kelak nanti. Bila memang kau masih belum bisa mempercayaiku, semuanya akan ku kembalikan kepada dirimu lagi, dan ku harap kau mengerti apa isi hatiku sekarang.