Baca cerita ini sampai selesai, lalu kamu akan menyadari bahwa menjadi orang yang gampang baper itu nggak ada faedahnya. Justru, kamu harus jadi orang yang tegas mulai sekarang!


Dulu awalnya semuanya terasa biasa saja. Bahkan aku merasa tak nyaman berteman denganmu karena banyak sikapmu yang tak ku sukai. Sehingga aku selalu berusaha untuk menjauhimu. Aku selalu memandang negatif dirimu. Hingga ruang dan waktu memisahkan kita. Dan sebelum kita berpisah, kau sempat berbicara banyak hal kepadaku. Sehingga aku mulai memahami kenapa selama ini kau bersikap begitu. Kau terlalu banyak masalah sehingga kau menjadi tak ramah, bahkan kadang mudah marah.


Berawal dari hal itu aku mulai belajar memahamimu. dan perlahan-lahan pula mulai memudar kebencianku terhadapmu karena aku mulai sadar kalau kamu itu adalah gadis yang pintar dan baik hati.


Sejak saat itu ku ingin selalu di dekatmu dan mendengar semua curhatanmu untuk membebaskan segala beban pikiranmu. Namun, ruang dan waktu tak berpihak pada kita. Aku dan kau sama-sama melanjutkan pendidikan namun di tempat yang sangat jauh jaraknya. Sehingga kita hanya bisa bertemu satu tahun sekali pada saat hari raya. 

Kini kau dan aku masih sama-sama saling berkomunikasi walaupun hanya sebatas chat di Whatsapp. Kau masih saja sering curhat kepadaku tentang keadaanmu disana. Tak jarang pula kau bercanda lewat chatmu. Namun,tetap terasa beda antara berkomunikasi lewat chat dengan berbicara langsung secara empat mata denganmu.

Advertisement


Seasyik apapun chat kita di Whatsapp tetap saja tak mampu mengalahkan asyiknya pembicaraan kita saat bersama.


Dan perlahan-lahan aku mulai merindukan kehadiranmu. Aku ingin selalu ada untukmu. Dan entah mengapa kau mulai memenuhi seluruh ruangan di pikiranku. Mungkin aku mulai menyukaimu. Namun, aku selalu berusaha untuk menepis pikiran itu. Namun,perasaanku tak pernah bisa berbohong kalau sebenarya aku menyukaimu. Namun, aku sangat malu untuk mengatakannya. Karena aku hanyalah pria pendiam yang lebih suka menyembunyikan rasa.

Sekian lama aku memendam perasaan ini kepadamu tanpa pernah kau tau hal itu. Dan tak jarang pula ada rasa cemburu dan khawatir denganmu yang ada di seberang sana. Namun, aku tak bisa berbuat banyak hal selain diam dan memendam segala rasa yang berkecamuk di dalam jiwa. Ku lakukan semua itu karena aku sadar kau hanya menganggapku sebagai teman.

Walau terkadang ada rasa sesak dalam dada ketika rasa tak menemukan jawabnya. Namun, aku berusaha untuk mengikhlaskan itu semua. Aku terlalu takut bila ku ungkap semua rasa dan itu akan menciptakan jarak diantara kita karena kau tak merasakan hal yang sama. Biarlah kini ku pendam semua rasa. Aku tidak pernah mempermasalahkan saat kau hanya menganggapku teman asalkan kau merasa nyaman.