Bertahun lalu kita pernah bertemu di senja berhujan itu. Dengan tangan yang dingin kau genggam tanganku dan ungkapkan perasaanmu. Malu-malu ku tersenyum dan anggukkan kepala mengiyakan. Ternyata itu adalah awal hubungan jarak jauh kita karena esoknya kau harus kembali ke daerah asalmu.

Tak ku sangka hubungan kita bisa bertahan lama meskipun dalam jarak yang jauh. Perbedaan provinsi tidak lantas membuat kita jenuh saling berkirim pesan dan telepon meski hal tersebut banyak menyita waktu. Selama tahun-tahun awal bisa kita lewati meskipun baru bisa bertemu beberapa bulan sekali.

Berbagai rencana tentang masa depan sudah kita susun bersama. Meskipun terdengar klise, gombal, dan kekanak-kanakan, aku yakin bahwa perasaanmu setulus perasaanku dan kita bisa bersama meski banyak halangan yang membuat hubungan kita terlihat tidak mungkin. Dan aku tetap yakin padamu.

Tapi itu dulu.

Akhir-akhir ini kita berbeda. Aku berbeda. Kamu berbeda. Mungkin aku lelah karena kegiatan perkuliahan yang semakin sulit. Mungkin kamu lelah karena tekanan pekerjaanmu yang semakin besar. Hal-hal kecil membuat kita berdebat. Apalagi komunikasi yang hanya bisa dilakukan lewat pesan tertulis membuat maksud kita sulit tersampaikan. Aku tidak menyalahkan keadaan, tapi hanya ingin membuatmu mengerti keadaan kita. Aku tidak ingin menyalahkan jarak. Memang rindu sering membuatku kesepian namun aku ingin bertahan. Ketika kau jarang membalas pesan-pesanku, aku ingin tetap bertahan dan berpikiran positif. Ketika banyak pertengkaran mewarnai hubungan kita, ketika ku lihat lebih banyak tisu yang sudah basah di kamarku, aku masih tetap ingin bertahan. Ketika ku tanya tentang pertemuan kita, kejelasan hubungan kita, masa depan kita, hanya jawaban “nanti” yang ku dapat. Memang terlihat aneh, tapi entah kenapa aku masih ingin bersamamu. Mungkin bisa dibilang aku terlalu menyayangimu.

Advertisement

Namun suatu waktu, ada hal yang merubah pandanganku terhadap kita. Dulu aku berpikir bahwa kebahagiaanku adalah kamu. Tapi ketika ku sadari, meletakkan kebahagiaan kita pada orang lain adalah hal yang salah karena saat orang itu berbeda dan pergi maka kita akan hancur. Ketika kita berpisah, hal yang sangat berat bagiku. Karena perpisahan kita meletakkanku pada titik terendah hidupku. Ya, terdengar menyedihkan. Setiap manusia pasti punya cerita patah hati macam ini, dan aku tidak malu untuk berbagi karena ini membuatku memahami hidupku sendiri.

Awal perpisahan kita terasa berat dan ku lalui dengan air mata. Beruntung ada keluarga, sahabat dan berbagai aktivitas kampus yang membuatku semakin sedikit memikirkan kita. Dan suatu sore, akhirnya ku ketahui bahwa orang tuaku ternyata tidak memberi restu bagi hubungan ini. Bukan karena hal-hal seperti materi dan jabatan, namun karena wajahku lebih banyak terlihat murung dari pada tersenyum selama kita bersama. Aku juga jarang bersama keluarga karena terlalu fokus pada ponsel dan dunia maya, mengirim berbagai pesan padamu. Fakta itu membuatku tersadar bahwa lebih baik menjaga komunikasi dengan cinta yang dekat (keluarga) yang lebih pasti, dari pada mempertahankan cinta yang jauh (kamu) yang belum pasti kejelasannya. Perpisahan denganmu juga membuatku lebih dekat dengan Tuhan, karena sebelumnya waktuku selalu habis untuk menatap layar ponsel. Satu hal yang saat ini membuatku bersyukur.

Memberi ruang untukmu sendiri bukan karena aku tidak mampu bertahan. Berhenti mengirim pesan padamu bukan karena aku tidak ingin. Kau tak tahu betapa susahnya aku menahan diri untuk tidak menghubungimu di awal perpisahan kita. Hanya saja ketika berbagai cara sudah dilewati, ketika berbagai keinginan untuk berdua sudah diungkapkan tapi tak kunjung ada kejelasan, mungkin lebih baik kita sendiri seperti ini.

Bagi orang-orang penganut aliran mandiri dan pengambil keputusan hidupnya sendiri, pilihanku mungkin terlihat pengecut. Aku memahami bahwa cinta harus diperjuangkan, tapi bila lebih banyak membuat kita menyalahkan diri sendiri, lebih baik dilepaskan. Dari sudut pandang seorang perempuan sepertiku, mahasiswi yang masih sepenuhnya bergantung pada orang tua, yang percaya bahwa restu orang tua adalah restu Tuhan, ku sadari hubungan kita memang telah mencapai bab penutup.

Aku tidak marah padamu. Dan aku harap kamu tidak menaruh kebencian padaku. Terima kasih telah mewarnai hari-hariku selama beberapa tahun ini meskipun hanya bisa kita lalui dengan untaian pesan. Ketika kau bilang “aku yakin kita akan bertemu lagi kalau berjodoh”, aku hanya mengucap “amin”. Semoga memang kita saling memperbaiki diri untuk hubungan yang lebih baik, entah untuk tetap bersama atau entah bersama siapa.

Aku tidak lagi larut dalam kenangan kita. Aku tidak lagi berkali-kali mengecek ponsel berharap ada pesan masuk dari kamu. Aku tidak lagi terbawa perasaan meskipun banyak hal-hal kecil yang berhubungan denganmu. Aku tidak memungkiri kalau terkadang aku mengingatmu dan berpikir tentang hubungan kita. Tapi aku melihatnya dalam kacamata positif, mencoba selalu berpikir positif. Aku, tidak lagi sama.

Dan sekarang, aku sudah bisa tersenyum ikhlas saat menyadari senja ini kembali hujan.