Hai kamu yang menyusup pelan mencuri rinduku. Aku tak kenal siapa dirimu sebelum kamu mulai mengajakku berbagi cerita. Cerita yang kadang tak masuk akal, dan kadang membuatku mengrenyitkan dahi lalu tertawa. Menertawakan kekonyolanmu dan keseriusanku mendengar ceritamu.

Hingga beberapa pertemuan antara kita terjadi, dengan waktu yang tak terduga.

Sungguh, ini yang pertama sejak aku terlalu asik menjaga luka hatiku yang lama. Jangan tanya alasan mengapa kamu.

Karena aku sampai sekarang juga tak mengerti mengapa harus kamu. Sebelumnya beberapa juga datang namun tak pernah kuijinkan untuk singgah. Mengapa hanya kamu yang kupersilakan singgah sayang?

Mungkin memang Sang Sutradara sudah membuatkan cerita untuk kita.

Advertisement

Berawal dari cerita kita menjadi cerita, sayang.
Cerita yang masih berjalan. Belum berakhir. Aku tak tahu ini akan jadi seperti apa. Aku menikmati cerita ini. Bahkan jika kamu harus berpaling. Atau ternyata kamu hanya main-main dengan cerita kita.

Ah tidak, aku tidak ingin menyerah dalam kita. Tenang Sayang, aku tidak akan egois memaksamu tinggal. Aku sudah menyiapkan hati selebar dan seluas samudra. Aku menawarkanmu untuk singgah disini. Singgahlah sejenak.

Jika suatu waktu kamu ingin pergi, aku tak akan mengeluh. Mungkin akan menyakitkan, tapi dengan doa aku yakin bisa melewatinya. Aku pasti baik-baik saja.

Atau kamu ingin tinggal, sayang? Aku pastikan tempat ternyaman di sini untukmu. Di hatiku. Penuh hiburan, agar kau tidak bosan. Walau aku memang tak mampu menjamin kamu selalu senang disini. Mungkin akan ada duka, amarah atau luka.

Karena aku tak bisa berjuang sendiri membuat bahagiamu, membuat bahagia kita. Aku hanya menyediakan hati yang luas untuk kita bersama mencipta bahagia.

Karena sungguh aku ingin menikmati cerita ini, Sayang. Hingga sang sutradara menutup ceritanya. Entah kapan dan bagaimana.