Sayang, aku sangat mengerti kegelisahanmu mengenai masa depan kita. Tentang bagaimana kita akan hidup. Tentang bagaimana anak kita kelak. Aku tahu kasih sayang mu kepada anakmu sangatlah besar bahkan sebelum dia hadir di dunia. Kau tak ingin dia menderita. Kau ingin agar kita mampu memenuhi segala kebutuhannya. Itulah mengapa aku memutuskan untuk berada disampingmu hingga saat ini.

Rasa tanggung jawabmu membuat aku semakin kuat bertahan. Tidak peduli tentang kenyataan saat ini. Beruntunglah kita, Sayang. Kita mampu memenuhi kebutuhan kita masing-masing dan belum dibebani oleh tanggung jawab yang lain. Beruntung kita masih diberi kesempatan untuk belajar, kesempatan untuk memantaskan diri sebagai orang dewasa.

Tenanglah sayang, kau tak sendirian. Ada aku disini. Mari kita tata bersama-sama. Kita mulai bersama-sama. Aku yakin kita bisa. Waktu kita masih panjang. Aku memang tak janjikan kita akan hidup bergelimang harta. Tetapi aku janjikan untuk selalu setia selama kau berusaha. Aku tak akan menuntut apapun usahamu. Lakukan sesuai hati kecilmu. Tak peduli berapa penghasilan yang akan kau terima. Rejeki biarlah Tuhan yang tentukan. Karena aku pun percaya, tak akan ada hasil yang mengkhianati usaha. Tuhan tak akan pernah salah memberi rejeki.

Aku pun tak ingin menjadi naïf. Aku tak akan pernah mengatakan bahwa aku mampu hidup tanpa harta denganmu. Aku masih cukup logis dan tahu bahwa kebahagiaan terkadang datang dari harta. Namun akupun tak ingin terlalu memujanya. Karena ada jalan alternatif lain untuk menuju bahagia.

Jangan risau. Memulai memanglah dari awal. Jika tak dari awal, itu berarti kau tak pernah memulai. Dan satu lagi. Tak pantas rasanya kita merisaukan tentang materi apalagi di masa depan ketika kita lihat saat ini masih banyak orang yang lebih kekurangan. Manusialah kita, karena kita belum mampu bersyukur.

Advertisement

Barulah saat ini kita menyadari, beratnya menjadi dewasa. Sisa hidup ini rasanya kita habiskan untuk bekerja. Bekerja pun untuk melanjutkan hidup. Dan kesimpulannya adalah kita hidup untuk bertahan hidup. Baiklah sayang, kembali ke pembicaraan kita. Berhenti memikirkan hal yang belum terjadi. Terkadang kita dituntut untuk berjalan terpejam, agar tak perlu takut melihat tantangan di depan kita. Jalani hari 24 jam. Lakukan kewajiban untuk tetap bahagia dan membahagiakan. Garis tangan sudah digenggaman. Bekerja, berusaha dan berdoa. Aku yakin itu kuncinya. Lakukan bagianmu semampu yang kamu bisa, selanjutnya biarkan Tuhan yang melakukan yang kau tak bisa.