Hai kekasih,

Bagaimana hari harimu. Aku harap tetap sama seperti sedia kala. Saat dimana kau masih menemani dan menitih rindu bersama seorang yang selalu kau sebut namanya dalam doamu, aku.

Sudah sekian lama sejak amarah itu merasuki hubungan ini, entah apa yang ada di benakku dulu sampai aku harus mengucap amarah secepat itu. Kini aku telah menyesal, dan rasanya ingin menarik kembali kata-kata tak bernada itu. Semua terjadi begitu cepat, amarah yang perlahan memerankan peran dalam hatiku.

Mungkin karena aku telah kecewa dengan keadaan yang ada sebelumnya, hingga aku terasa sanggup dan mampu mengucap kata perpisahan yang sebenarnya tak pernah aku harapkan. Itu karena rasa sayang yang membutakan mata hatiku, hingga separuh waktu yang aku jalani bersamamu terasa sirna di hadap mata.

Untukmu yang kini berjalan jauh, dan semakin jauh.

Perpisahan sebenarnya tak aku harapkan. Namun waktulah yang membuat jarak, perlahan. Hingga mampu baginya untuk mengubur kenangan kenangan masa silam yang sebenarnya masih layak untuk di kenang. Toh, itu hanya beberapa waktu dari perpisahan ini.

Masih teringat senyum khas wajahmu yang mengendap di dasar ingatan. Senyum yang membawaku dalam badai kerinduan. Senyum yang memberikan suntikan semangat bagi hari hariku yang jenuh dan berat. Namun, segala sirna dalam sekejap. Semua telah berbeda, kini.

Advertisement

Tak ada lagi senyum tawa canda manis nan bahagia. Semuanya terganti, berganti luka dan lara dalam diri yang menjadikan benci pada momen dalam diri sanubari. Tiba kalanya kerinduan itu tak bermakna apa apa, hanya berteman sepi.

Untukmu yang masih ku taruh seutas harap untuk bersama.

Tak lelah bagiku untuk mengucap kata maaf. Mungkin telingamu akan terasa bosan mendengarnya. Namun inilah yang bisa ku perbuat atas kesalahanku. Tak adil bagimu mungkin, kala aku merengek tuk membalikkan keadaan. Waktu ini terasa sulit bagiku, hingga membuatku tetap menunggu dan mengurung perjumpaan yang tak kunjung datang.

Harapanku masih sama seperti waktu dulu, menemani langkahmu walau jauh. Aku masih berharap lebih untuk satu hal yang sebenarnya mungkin telah engkau binasakan perlahan. Namun, inilah aku. Aku masih menanti dalam segenap harap.

Terima kasih, cinta.

Cinta yang membuatku masih bertahan sampai hari ini. Yang membuatku masih merindukan senyum lebarmu, sayang. Tak pernah terbesit dalam benak ini untuk menyerah dengan waktu dan keadaan. Namun jika suatu saat perjuangan tak selalu seimbang dengan keadaan, mungkin itulah saatnya.

Saat dimana aku harus melepas semua tangis, semua lelah dan beranjak pergi, menitih karirku, hari hari sibukku dan melupakan segalanya. Namun jika semua telah kembali pulih, aku berharap janji di antara kita tak hanya sekedar kiasan belaka.

Terima kasih atas rindu yang tak berukur kepadaku dulu. Meski sekarang jaraklah yang mengukur rindumu. Mengukurnya hingga menjadikan bimbang. Cinta tak mengenal waktu, jika kau tahu itu, namun ia hanya mengenal jarak. Namun jika cinta, maka jarak tak akan jadi masalah yang berarti.

Dari, kekasihmu yang selalu merindukan harap.