hai mantan kekasih ku,,, apa kabar?

semula aku hancur dengan kenyataan hubungan ini, 5 tahun bertahan bersamamu, hancur lebur begitu saja dimakan waktu yang usang. entah aku harus berterima kasih atau sedih dengan semua kenyataan tuhan ini, tapi aku lebih besyukur sekarang, setidaknya semua yang ku pertahankan dulu hancur dan mengantarkan ku pada ketenengan ini.

kau tahu sayang… saat kau menikah dengannya kemarin, bagaimana hancurnya hatiku, rokok adalah pelarian ku saat itu, sajaddah saksi tangisku tiap malam, aku yang tadinya aman dengan kondisiku, tiba-tiba hancur kembali dengan kabar pernikahanmu, ahhhhh ingin rasanya ku katakan pada tuhan saat itu bahwa kau adalah milikku. ingat MILIKKU.

hancurnya hubungan kita memang aku yang meminta, ya salahkan saja aku dalam hal ini, karna aku tak mengelaknya, aku yang memutuskan hubungan kita, karna aku tak kuat bertahan dengan seribu kesakitanmu itu, kau jerat aku dengan cinta yang membuatku semakin dekat dengan dosa dan melanggar janji ku pada tuhan. sebulan setelah kita berakhir aku tahu bahwa banyak wanita yang telah menjadi penggantiku, aku tak mengenal lagi dirimu, kau berubah saat hubungan kita menginjak usia dua tahun. aku yang tadinya bahagia kecewa dimakan luka.

saat ku lihat kau dengan dia yang memelukmu mesra dari belakang, sementara kau didepan dengan sadar melewatkan sepeda motor mu didepan ku, aku malihat itu dengan mata kepala ku sendiri, diselingi dengan aduan dari teman-teman kita yang mengadukan kelakuanmu padaku, entah wanita mana saja yang kau bawa di depan mereka, tapi yang ku lihat waktu itu adalah dia yang sekarang menjadi istrimu, dan menjadi ibu dari anakmu yang baru lahir itu.

Advertisement

selamat kini kau telah menjadi seorang ayah. ku harap sosok dirimu yang ku kenal dulu tak lagi seperti dulu, semoga sifat kekanakanmu itu hilang di telan oleh keadaanmu yang sekarang, ingat tanggung jawabmu semakin besar, aku tak ingin mendengar aduan ibu lagi tentang kau yang mengatakan tak cinta dengan istrimu yang sekarang. omong kosong, jika tak cinta mungkin jagoanmu takkan ada sekarang.

ingat dua hari sebelum kau ijab qabul dengannya, kau masih sempat mengunjungiku di rumah, rumah yang sudah lama tak kau singgahi, sudut yang sudah lama tak kau isi dengan kegilaan kita, ayunan itu yang jadi saksi, dimana semua ceritamu dan ceritaku terekam. sore itu kau datang, mengatakan ingin menikah lusa kemudian, kau meminta maaf pada ku atas semua dosa yang kau lakukan,kau katakan lagi CINTA padaku, kau goyahkan aku yang mulai tenang dengan hatiku sendiri, aku bergejolak saat itu, ingin ku berlalri masuk ke dalam dekapanmu yang dulu pernah memberikan kenyaman untukku, yang dulu slalu setia mendekap kala hatiku merasakan apapun, kau katakan bahwa semua ini adalah salahku, salahku yang meminta putus, salah ku yang lari setiap kali kau ingin kembali, salahku yang selalu mengacuhkanmu, dan salahku yang slalu buang muka saat kau mendekatiku.

jika aku salah, apakah wanitamu yang sekarang itu benar sayang? kenapa tak kau salahkan dia yang hadir, masuk ke dalam ke kehidupan mu yang dulu sudah memiliki aku, dia tahu dulu kita berhubungan, dia tahu bahwa kita bukan hanya sekedar komitmen biasa, dia tahu berapa lama aku membangun semua ini, ku bangun kau dari titik, tak ku hiraukan kata teman dan keluargaku yang mengatakan aku ini bodoh, menerima mu yang mereka bilang bagaikan bumi dan langit perbedaannya, ku kokohkan kau saat itu, ku temani langkahmu untuk menggapai mimpi demi membuktikan pada semuanya bahwa aku tak salah memilihmu. apakah dia tahu bahwa dia masuk ke rumah orang yang salah saat itu, dia mengetuk hati yang salah, jika dia wanita yang baik apa tak dia pikirkan nasib hatiku yang memiliki naluri sama seperti dirinya, atau aku lebih pantas menyalahkanmu yang memang terpikat dengannya, benarlah jika si pencuri dan penghianat lebih cocok untuk bersama.

kau tahu lelakiku, berapa malam aku menangis seperti sebuah kematian, ku tangisi kebahagiannmu saat itu, aku kehilangan diriku lagi, rokok pelarian utamaku, aku tahu aku salah menggunakannya, aku sadar itu tak baik untukku, tapi aku ingin bermanja sebentar dengannya, tak salah jika aku mengucurkan semua air mata ini padanya kan? kau tahu seberapa galau aku memilih kado pernikahanmu saat itu, untung ada dua sahabatku yang juga temanmu ikut mendampingi kesakitanku, mereka teman segala kondisi, mereka tulus, tidak sepertimu.

hari pernikahanmu pun tiba, ku siapkan segala kondisi hatiku untuk kuat menlangkah memenuhi undanganmu, ku lihat mamaku yang tak kalah antusiasnya denganku, dia diam tak mengatakan apapun, tapi aku tahu dia lebih rapuh dariku, dia mengerti kondisiku, dia tahu diam adalah segala jawaban yang dia berikan untuk menguatkanku, ku tebar senyum setulus mungkin saat aku memasuki area partymu, ku sambut uluran tangan ibumu yang langsung membawaku ke dekapannya, di bisikkannya kalimat yang hampir membuatku jatuh saat itu, dia bilang "inilah seharusnya menantuku", bagai daun yang di terpa badai, aku hampir linglung mendengarnya, ku tabahkan hatinya, ku tebar senyumku, ku katakan bahwa tuhan telah mengatur jodohku dan jodohmu sebaik mungkin, jika ini yang terbaik.

pesta berakhir, kekuatanku pun semakin hari semakin melemah, banyak nasihat yang mama berikan untukku, banyak masukan dari teman-temanku yang mengatakan bahwa kau bukan yang terbaik untukku, skripsi ku macet saat itu, kesibukanku hanyalah menyendiri dengan asap-asap yang keluar dari lubang hidungku, seminar proposal yang deadline mundur begitu saja, skripisi yang harusnya selesai tak tersentuh sedikitpun, jadwal wisuda sebulan mendatang tak lagi terlaksana. ku renungi nasibku, aku kembali mundur kemasa kita dulu, ku lihat dimana titik amarahku saat meminta putus, ku renungi semuanya kembali, aku sadar banyak kesalahanmu disitu.

kembali aku bangkit perlahan, ingin ku buktikan bahwa kau bukanlah oksigen untuk kehidupanku, tak seharusnya aku hancur, sisa rokok yang ku simpan di kamar kos ku, ku buang begitu saja, ku patahkan bersama dengan semangat yang ingin ku mulai, skripsi yang ku abaikan ku ambil kembali, ku mulai dengan menemui dosen-dosen pembimbingku, saat toga itu terpakai kan ku buktikan padamu, jika aku mampu bangkit dari semua ini, ini bukanlah kiamat untuk kehidupanku.

sekarang aku sadar, bahwa semua telah berlalu, ku renungi kembali nasibku, pengganti mu memang belum ku temukan, bukan aku masih terpuruk, tetapi aku tak ingin lagi salah langkah, ku mulai semuanya dengan memaafkan diriku sendiri, semua kebodohanku, ku ikatkan janjiku lagi pada tuhan, mama, dan juga alm. papaku, ku mulai juga untuk menerima kenyataan bahwa kau bukan lah jalanku, kenangan kita memang takkan bisa terhapus, tapi aku tak butuh memo itu untuk mengenang mu sekarang, aku hanya butuh masa depanku, dengan sosok yang lebih bertanggung jawab lagi atas diriku. aku percaya ini adalah rencana tuhan untuk kehidupanku, aku bersyukur sekarang mengapa tuhan tak satukan kita, jika aku dan kau bersatu maka nasib yang dia rasakan sekarang akan menimpa ku, ku sadari bahwa cinta tuhan lebih besar padaku, di saat aku berjalan merangkak menujunya, dia berlari mendekapku.

terimakasih atas semua luka dan kesakitan dulu, semuanya memberikan banyak pelajaran hidup untukku, terimakasih telah menjadi penanggung jawab atas diriku, setelah papa pergi dulu, terima kasih atas segalanya, tak ada yang ku sesali dalam hidupku, perkenalan kita, hubungan yang 5 tahun itu, kepergian papa, dan pernikahanmu sekalipun, aku percaya sekecil apapun itu allah telah mengatur baik tentang hidupku. terimakasih kamu lelaki ku yang dulu…. selamat berbahagia, semoga keluargamu selalu dalam lindungan allah SWT, aku tak memiliki dendam atau kebencian apapun, percayalah aku berdoa baik untuk kebahagiaanmu dan kelaurga kecilmu.