Awal perkenalan kita memang tak punya kesan seperti layaknya cerita di novel-novel ataupun di film-film. Tapi sungguh, itu semua berarti bagiku. Karena hidup memang tak seperti khayalan, kan?

Aku bertemu denganmu dilingkungan baru yang harus kujalani selama empat tahun kedepan.Aku menjadi orang baru dilingkunganmu, sebagai mahasiswa baru, cukup sulit bagiku menyesuaikan diri. Denganmu yang sudah populer dari awal.

Sebagai mahasiswa baru, hal yang wajar untuk mencari orang-orang yang lebih berpengalaman dikampus untuk menjadi teman. Bahkan ada beberapa yang dari awal sudah berniat untuk memacarinya. Belum lagi jika memang tak ada satupun orang yang dikenal. Tapi aku bukan begitu, aku tulus hanya ingin bertanya. Aku ingat pesan pertamamu hari itu. Betapa jayusnya pesan-pesan singkatmu pada waktu itu. Tapi aku tau, pesan ini bukan hanya untukku, tentu. Sebagai senior pria dijurusan yang memang minim pria, kau tentu saja langsung populer.

Aku sadar sulit bagiku berjalan disisimu. Dengan fakta siapa dirimu, aku merasa malu dan tak percaya diri. Tapi kau selalu menggenggam tanganku.

Aku tersanjung saat kau membawaku, tanpa malu memperkenalkanku pada teman-temanmu. Walau tanpa menggenggam tangan didepan mereka, tapi kau selalu meyakinkanku.

Advertisement

Aku bermimpi tentang pria tampan nan romantis yang akan membawaku terbang ke awan. Tapi kau jauh dari kata romantis. kekonyolanmu justru yang membuatku terpikat.

Wanita mana yang tak ingin pria romantis? Yang membawakan setangkai bunga, menjemput sepulang kuliah, memberikan kejutan-kejutan kecil yang tak terduga dan makan malam romantis. Tapi aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali kau membuat kejutan, kecuali saat ulang tahun. Tentu saja aku juga tak pernah ingat kau memberiku bunga. Yang aku tahu hanya kau selalu tanpa malu berbuat hal-hal konyol bahkan memalukan untuk membuatku tertawa. Kau tak pernah malu berjoget tak menentu dan tanpa ritme didepanku. Tapi aku malah terpikat oleh kekonyolan dan kelucuanmu malah membuatku betah disampingmu. Walaupun kadang aku juga ingin diberikan kejutan. Tapi tak apa, aku tetap suka.

Hubungan tak selamanya baik. Sekali waktu ada perselisihan dan amarah yang menutup mata kita. Bahkan berpikir untuk mengakhiri pun acap kali terlintas.Tidak sekali dua kali aku ingin pergi. Terkadang aku lelah dan ingin memutuskan hubungan ini. Aku masih terlalu kekanakan dan egois. Kau selalu memberiku alasan untuk bertahan, tapi tak jarang sikapmu memakasaku untuk pergi.

Bahkan beberapa wanita pernah mendekati atau kau dekati. Dengan hati hancur dn cemburu yang membuncah, aku tetap menerimamu kembali. Semakin lama, hubungan kita tak lagi seperti dulu, aku mulai kebal dan tak memeriksa handphonemu lagi. Aku mencoba untuk berpikir positif.

Aku telah mengenalmu dengan sangat dalam. Aku bahkan bisa mengerti tinkah lakumu yang mencurigakan. Waktu telah menunjukan siapa dirimu.Aku membenci beberap aspek dalam hidupmu. Tapi dengan senang hati aku menerima. Bahkan jika itu menyakitiku. Aku tak bermimpi terlalu jauh untuk menjadi teman hidupmu. Perjalanan kita masih sangat panjang. Tapi itu bukan alasan untukku meninggalkanmu.

pada akhirnya, bahkan jika luka terus tertoreh, aku hanya perlu berthan. Sampai pada akhirnya, apapun itu yang akan terjadi. Entah pun itu kita harus berpisah suatu saat, setidaknya aku takkan menyesalinya. Setidaknya ada pelajaran yang bisa kupetik dari luka ini. Untuk menjadi wanita yang kuat dan baik untuk siapapun dimasa depan. Mempersiapkan diri untuk jadi wanita yang tepat, kan? Seperti yang selalu kau katakan padaku.