Aku seorang wanita yang sudah sekian lama menjauhkan diri dari laki-laki, aku sudah terlalu bosan berganti-ganti pasangan yang tak pernah berujung keseriusan. Hubunganku tak pernah lama, berjarak antara satu sampai tiga bulan. Aku berakhir pada kenyamanan sendiri tanpa didampingi laki-laki, hanya saja bukan berarti benar-benar tanpa laki-laki. Aku adalah seorang wanita yang sangat nyaman bermain bersama teman-temannya, karena aku merasa telah memiliki mereka (perempuan dan laki-laki) aku merasa tidak perlu memiliki kekasih yang mungkin hanya melukai hati.

Akan tetapi, entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengganggu dipikiranku. Tatapan mata yang teduh, dan senyuman yang amat manis itu. Milikmu. Lelaki yang entah bagaimana mampu mengalihkan perhatianku. Kamu seorang pendiam dan pemalu, tapi kamu ramah dan menarik. Setelah ku ingat-ingat, mungkin semua berawal dari candaanku karena kamu tampan dan menggemaskan. Tapi pada akhirnya aku yang terjebak sendirian dalam lingkaran perasaan yang berlebihan.

Berawal dari pertemuan kita yang tidak sengaja pada suatu acara, aku mulai seringkali melihat dan menatapmu lain. Kamu terasa berbeda dari lelaki biasanya. Kamu tidak terlihat seperti orang yang berusaha mencari perhatian dan merasa dirimu tampan, tapi tanpa kusadari kamu benar-benar telah masuk jauh di dalam hati.

Entah kenapa, semenjak saat itu aku mulai sering bertemu denganmu meskipun tanpa kesengajaan. Di dalam maupun di luar lingkup kampus kita. Mulai dari ocehan-ocehan teman-temanku yang konyol karena mengucapkan kode-kode yang seolah aku menyukai dirimu, sampai aku menyadari bahwa sesungguhnya kamu tahu selama ini aku memperhatikanmu.

Sejujurnya aku malu. Seorang wanita yang selalu menjunjung harga dirinya ini akhirnya jatuh pada dua mata dan sunggingan senyum manis seorang lelaki yang bahkan mungkin enggan menatapnya. Aku seperti terhipnotis. Layaknya orang yang terganggu pikirannya, aku mulai meluncurkan kode-kode gila lewat media sosial. Ini memalukan. Tapi rasa kesal lebih menghantui pikiranku. Kamu menyukai postingan-postingan gila yang ku tujukan padamu, tapi hanya itu. Kamu tidak berusaha mendekat dan membuatku merasa serba salah.

Advertisement

Untukmu yang telah mampu mengalihkan perhatianku, sesungguhnya aku yakin jika kamu tahu perasaanku. Tapi kenapa kamu malah menggoreskan luka-luka kecil yang melebar ini? Jika kamu tidak suka kenapa kamu menyukai postingan-postingan gila itu? Tapi jika kamu suka kenapa aku tidak melihat usaha atau kode balik darimu?

Ah, sudahlah. Mungkin aku yang terlalu berlebihan menanggapi apa yang kamu lakukan. Kurasa kamu memang ramah dan baik pada semua orang. Kuanggap saja "suka"mu terhadap postinganku itu hanya hal yang biasa kamu lakukan terhadap akun-akun lain juga. Maaf sudah mengganggu kehidupanmu dengan tatapan dan senyum berlebihan dari aku yang kegeeran. Tapi aku suka kamu.