Kalau Allah kasih jodohku itu kamu, aku yakin kamu yang terbaik. Kalau kamu gimana?

Akupun tersenyum getir jika mengingat pesan yang pernah kau kirimkan. Mungkin saat ini satu pertanyaan yang ingin kuajukan hanyalah 'Masihkah kau ingat ucapan itu, Mas?'

Aku tidak pernah mengerti mengapa perasaan ini bisa timbul begitu saja. Aku tidak pernah menyadari sejak kapan perasaan ini menguasai emosiku. Aku tidak pernah merasakan sejak kapan namamu, dirimu, tatapanmu dan senyummu selalu memenuhi rongga hatiku.

Pertemuan itu… Pertemuan singkat kurang dari 30 detik. Pertemuan hanya sebatas mata tanpa suara. Pertemuan dengan tatapan teduh mengikat hati yang alih-alih sedang mengobati luka yang sebenarnya tidak pernah terasa sebelumnya.

Pertemuan yang pernah berlanjut menjadi obrolan singkat yang tidak akan pernah terputus dari matahari yang menyongsong semangat paginya hingga temaram bulan yang meniupkan angin tenangnya dan mengajakku untuk mengarungi pelangi indah di dalam mimpi bersama bayanganmu.

Advertisement

Pertemuan yang membawamu untuk menyapaku di pagi itu, angin semilir dan aku bergegas menuju ke kantor hingga ada yang berpapasan denganku, kaos merah dan senyummu. Ya, senyum manis itu yang masih sangat kuingat jika aku melintasi jalan kenangan itu. Hanya berharap bahwa kau akan melakukannya lagi untukku.

Pertemuan yang membawaku untuk menceritakan masalah keluargaku yang bahkan sebelum bertemu denganmu, aku tidak akan pernah berani mengangkat topik itu. Hanya saja, nyaman. Perasaan itu yang kurasa hingga aku menceritakannya dengan wajah tersenyum meskipun dalam hatiku sangat malu untuk menceritakan semuanya.

Pertemuan yang juga membuatku menawarkan diri untuk menjadi partner kerjamu karena kau pun mulai bercerita perihal keluargamu. Sedangkan yang kutahu bahwa kau adalah orang yang sangat tertutup jika kita membahas masalah itu.

Namun kini …… pertemuan itu harus kuakhiri secepatnya. Secepat kabar yang telah aku dapatkan dari orang-orang yang sibuk mencarikan belahan jiwaku. Aku telah mendengar bahwa kau telah menemukan sosok pengisi ruang hatimu. Sosok yang telah berhasil mengobati luka lama di hatimu. Sosok yang telah mengambil hatimu untuk kembali jatuh cinta. Sosok yang pernah secara tidak langsung kau utarakan kepadaku, dulu.

Ya, akulah sosok lamamu. Sosok pelepas lelahmu. Sosok yang selalu merindukanmu. Sosok yang selalu berharap dapat melihatmu seperti dulu. Sosok yang selalu memanjatkan doa agar kau selalu dalam lindunganNya. Sosok yang masih akan terus berharap bahwa kau akan melihatku disini sebagai seorang wanita yang dengan bangganya mengakui perasaan ini dan bukan hanya sebatas adik temanmu yang seharusnya kau tanggapi dengan gamblang.

Sosok yang pernah dengan puas memandangimu saat kau beribadah, tersenyum, menikmati secangkir teh hangat di tempat parkir itu, makan, serius, dan ekspresi lainnya yang pernah kau keluarkan tanpa paksaan.

Kini aku hanya dapat mengucapkan terimakasih. Terimakasih karna kau pernah hadir dalam hidupku. Terimakasih karna Allah sangat baik hingga menitipkan perasaan ini kepadaku. Terimakasih atas kenangan singkat yang pernah kau berikan secara tidak langsung.

Aku telah menikmatinya dan aku tengah menikmatinya. Mencintaimu dalam diam dan doaku. Memasrahkanmu kepada Sang Kuasa. Menitipkan hatiku kepada Sang Maha Membolakbalikkan Hati. Dan memandangi setiap recent update yang kau buat. Setidaknya aku hanya ingin memastikan kau selalu bahagia dan baik-baik saja.

Selamat tinggal Mas, senyum yang telah kau ukir di hati ini begitu indah adanya. Cukup hanya aku, Allah dan catatan ini yang tahu betapa bahagianya aku disini melihatmu bahagia. Jika suatu saat memang Kau dijodohkan olehNYa kepadaku, maka itu adalah mukjizat terindah yang akan kita rasakan. Aku berhenti bukan karena aku menyerah, pahamilah.