Kupandang langit cerah dari balik jendela rumahku. Suasana begitu menyegarkan jiwa. Ragaku ada di sini, namun pikiranku melayang padamu. Seseorang yang aku cintai. Sebagai wanita yang menyukai seorang laki-laki terlebih dahulu, membuatku mempunyai sifat pemberani, kupertaruhkan harga diriku untuk mengejarmu, mencarimu lagi sosok nasi goreng susu cokelatku.

Dahulu, kamu pernah menyukaiku terlebih dahulu, namun hatiku kosong saat kamu pergi. Genggaman tanganmu, senyummu dan tingkahmu yang pendiam dan penyabar membuatku rindu. Kubisikkan rindu ini padamu, seseorang yang jauh di sana. Yang kini aku tidak tahu kamu dimana, sedang apa, dengan siapa, apakah kamu sudah memiliki pendamping atau belum?

Pernah aku jawab sebuah kuis, sekedar iseng untuk mengisi waktu, menulis namamu di salah satu kolomnya, dan jawabannya, perasaanku mencintaimu.

Aku bingung dengan diriku sendiri, untuk waktu yang lama aku mengenalmu dengan baik, berpisahpun selalu kembali lagi padamu. Begitupun kamu selalu mencariku saat aku pergi dan saat kamu sendiri. Sempat kita sama-sama berjalan mempunyai kekasih, namun kita sama sama sendiri lagi dan akhirnya kita bertemu lagi. Apakah ini jodoh? Aku pun tidak tahu.

Januari, aku mendapat sebuah berita yang membingungkan.

Advertisement

Ini bukan pertama kalinya ada laki-laki yang serius padaku. Perjodohan. Orangtua dari laki-laki yang wujudnya belum aku temui meminta bertemu denganku. Di usia yang belum matang ini, dipertemukan dengan orangtua dan anak laki-lakinya. Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa sehingga aku memilih untuk dipertemukan dengan puteranya terlebih dahulu.

Malam itu, aku duduk di dalam dan menunggu orang asing. Siapalah itu, aku hanya tahu namanya dan dimana ia bekerja.

Ayah, aku pernah cerita padamu aku pernah menyukai seorang laki-laki, tapi..aku bingung karena ikatan kita sudah tidak terjalin lagi, namun aku belum sepenuhnya bisa melupakannya. Entah kenapa, walaupun selalu, akan selalu ada saat dimana ada laki-laki yang serius datang padaku, aku mengatakan aku belum siap, aku ingin memilih sendiri laki-laki itu tapi…

Kududuk di ruang tamu berhadapan dengannya, sesekali aku meminum teh di depanku. Dia adalah seorang kakak kelasku dahulu. Kami sama-sama satu SMA namun berbeda angkatan sehingga aku tidak pernah tahu tentangnya. Kemungkinan penilaian orang lain, dia memang hebat karena dia adalah seorang lulusan universitas ternama, walaupun menurut penilaianku biasa saja.

Kubicara panjang lebar dengannya, aku hanya tersenyum simpul. Makhluk di depanku, dia memang tampan, sopan, terlihat dewasa dan ramah. Terpaut umur 4 tahun, tapi wajahnya masih awet muda. Aku memandangnya. Tapi, hatiku dan pikiranku tidak bisa fokus padanya. Hatiku terasa beku, aku masih egois untuk meninginkannya, si bodoh itu, si nasi goreng susu cokelat.

Lama tak kunjung ada kabar, si nasi goreng meminta bertemu. Lama tak bertemu, kamu masih sama. Pagi itu kamu belum mandi sambil menggendong keponakanmu yang lucu. Saat aku memandangmu, hatiku sangat sedih. Walaupun aku tahu, aku sudah berpisah denganmu, kini aku harus berfikir, apa aku akan mempertimbangkannya atau aku ingin..entahlah aku juga bingung.

Sesekali aku tahu, mungkin sekarang kamu sudah memiliki kekasih. Tak apalah. Aku sungguh bisa bahagia saat tahu kamu punya kekasih. Asalkan dia bisa lebih baik dariku, bisa lebih menyayangimu daripada aku.

Aku putuskan menolak keseriusan dia. Laki-laki pilihan ayah. Tidak hanya sekali ini. Dulu, aku juga menolak dan menolak setiap ajakan serius dari laki-laki.Namun,,

Sekarang, aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah aku akan sendiri terus? Apakah aku harus menunggumu atau aku ikhlaskan kamu bahagia dengan kekasihmu?

Kurasa, jika waktunya tiba, saat aku sudah lelah menantimu menoleh padaku, aku akan iyakan seseorang yang datang padaku. Ketika aku sudah benar-benar tahu ada seorang wanita yang bisa menjadi bagian masa depanmu, aku akan mundur teratur dan menghapus gambarmu dari buku gambar besar rencana hidupku.

Aku hanya ingin kau tahu. Kamu pernah ada di tulisan masa depanku. Setiapku melangkah maju, setiapku akan meraih mimpi, aku menggambarmu dalam goresan pensil abu-abu. Kamu, kadang menari di gambaran anganku. Duduk berdua sambil memangku si kecil, atau kamu memakai baju santai sambil merawat tanaman di depan rumah.

Kamu, tergambar jelas menggandeng tanganku dan berlari di depanku memakai baju serba putih itu. Kamu, mungkin yang pernah singgah dalam waktu yang lama di hatiku. Kini saatnya kuselipkan doa agar kamu selalu bahagia.

Perasaanku sekarang sudah tidak egois lagi untukmu. Apabila kamu sekarang sudah bersamanya, aku doakan agar kalian bahagia, andaikan kamu masih sendiri aku doakan yang terbaik apapun yang kamu mau semoga bisa tercapai. Kamu, satu-satunya orang yang tidak bisa aku benci. Terima kasih sudah menyembuhkan sebagian lukaku.