Sudah lama rasanya aku tak melihat langit secerah dulu. Aku selalu merasa langit seakan ditutupi awan hitam nan pekat. Entah hal ini mungkin saja karna mendung enggan beranjak dari kedua mataku. Aku rindu pelangi yang tersenyum setelah gemiricik hujan. Warna-warni itu tak jua muncul meski aku lelah menanti. Entah karena aku sendiri yang enggan memberi warna pada hidupku atau pelangi yang enggan melihat sorot mendung dari mataku.

Rasanya sangat sulit saat aku ingin kembali melukis kehidupan dengan banyak warna. Aku kesulitan menemukan warna-warna itu. Seakan tiba-tiba saja buta warna akut menyerang sejak kau menghilang. Hanya hitam yang terlihat olehku. Katakan apa yang bisa aku lukis dengan warna hitam ini ? Katakan bagaimana bisa kau menutup semua warna dihatiku dengan warna sepekat ini ?

Katakan bagaimana lihai nya dirimu menggaris sedikit demi sedikit luka hingga menghasilkan lukisan luka bertema kepedihan dihidupku? Lukisan dengan tinta permanen yang tak mampu kuhapus.

Katakan,

Apa aku harus berteriak hingga ragaku hancur, agar kau bisa mengatakan bagaimana caramu membuat ku terpuruk dalam luka yang kau ukir.

Advertisement

Aku benci hitam !

Aku benci gelap !

Dan aku benci mendung !

Kau telah membuat aku benci semua hal itu.

Kenapa melukis pelangi, jika kau turut membawa warna hitam bersama warna lain. Apa ini cara mu membuatku bahagia di awal,lalu menghancurkan ku di akhir.

Di saat aku sibuk mencari cara membuat mu bahagia, kau malah mencari cara bahagia bersama orang lain.

Sesakit inikah cerita yang kau tawarkan? Andai saja waktu itu kau izinkan aku membaca cerita yang kau tulis, akan kuhapus bagian terjahat dari cerita itu dan akan aku rangkai dengan cerita indah dari rencanaku. Mungkin menurutmu, bagian yang kuanggap jahat adalah sebuah lelucon untuk melengkapi ceritamu.

Dengar !

Ini adalah seburuk-buruk candaan yang pernah kuterima. It"s not funny ! Terima kasih atas lukisan hitam dan cerita cinta yang kau tawarkan terhadapku. Aku masih berusaha melukis kembali pelangi yang pernah kau rampas dalam hidupku dan merangkai cerita bahagia tanpa ada skenario terjahat seperti lelucon yang kau rangkai diceritamu.Hingga akhirnya aku mampu mengucap kalimat selamat tinggal kenangan.