Untukmu yang membiarkanku berjuang sendiri, Kali ini ku ikhlaskan. Silahkan pergi.

Ingatkah kamu beberapa ratus hari yang lalu, ketika kau sedang mengejarku. Duniamu serasa hanya ada aku, mungkin itulah yang aku rasakan saat itu. Dari aku membuka mata hingga menutup mata, kau selalu menyapaku. Menceritakan banyak hal, yang belum aku ketahui tentangmu. Dulu, aku baru saja patah hati. Membuka hati untukmu, memerlukan proses yang lama. Namun, kau meyakinkanku bahwa dunia akan bahagia jika aku bersamamu. Akhirnya setelah enam bulan kita saling dekat. Tepat pukul 00.00 WIB kau meneleponku, entah apa yang aku pikirkan waktu itu sampai selarut itu aku belum tidur. Kau tak banyak menceritakan banyak hal, hanya kau bilang “aku tak bisa tidur, aku harus mengatakannya dulu padamu”. Aku hanya menerka-nerka saja apa yang akan kau katakan, sudah GR saja malam itu. Kau bilang lagi “ kita jadian aja yuk”. Kau memang bukan tipe lelaki romantis, kau selalu terkesan kaku, namun itu memang kau, tak kaget pula caramu mengungkapkan rasanya padaku. Karena waktu itu, hatiku telah jatuh padamu, tak kupikir panjang langsunglah ku jawab “iya”.

Kita menjalani hubungan LDR (Long distance relationship) sedari awal. Kau menemuiku 2 bulan sekali. Dua minggu kau bersamaku, dua bulan kau pergi untuk kembali ke pekerjaanmu. Selama ini, aku selalu bersabar dengan begitu sibuknya pekerjaanmu. Kegiatan teleponan diantara kita memang jarang, namun kita selalu ngobrol lewat watshapp. Dari bangun tidur, sampai mau tidur. Kau sering membicarakan mengenai pekerjaan yang membuatmu lelah, bos mu yang selalu menekanmu, sampai teman yang mencurangimu. Tapi, kau tak pernah menanyakan hal tentang diriku, tapi aku selalu tahan. Sebagai pacar, aku selalu menyemangatimu. Aku tak akan tidur sebelum kau mengabariku kau sudah sampai di rumah. Kadang sampai larut malam, meski kita tak bersama aku hanya ingin seolah ada aku yang selalu disampingmu.

Bulan demi bulan kita lalui. Kita bukan manusia sempurna, mulailah banyak hal yang membuat kita tak cocok satu sama lain. Kebiasaanmu yang sudah mulai tak mengabariku lagi, membuat aku semakin kesal setiap harinya. Satu, dua, tiga, empat, lima kali aku selalu memaafkanmu. Sampai akhirnya perdebatan ini hampir menaungi kita setiap malam. Bahkan, terkadang sampai beberapa hari aku mencarimu kau tak kunjung menghubungiku. Aku masih sabar kala itu, mungkin karena rasa cintaku padamu. Banyak orang bilang “cinta itu tak kenal logika”. Kuakui, waktu itu aku benar-benar mengalaminya. Rasanya sakit, ketika kau tak lagi memprioritaskan aku. Sosial mediamu selalu online, kau bisa membalasa chat teman-temanmu. Tapi, untukku satu katapun tak kau balas. Sampai pada akhirnya, hari itu aku merasa lelah. Perdebatan kita berujung dengan kata-kata darimu “kita berteman saja”. Sakit rasanya, selama ini aku memperjuangkanmu. Kau tak menghargaikupun aku masih menerima. Aku selalu berusaha untuk mengalah, berharap kelak kau berubah. Tapi, yang kudapat adalah sebuah kata perpisahan, yang membuat tangisan semalaman.

Hari itu aku belum bisa menerima, namun semua orang terdekatku mengatakan bahwa aku lebih baik berpisah dengannya. Mereka meyakinkan aku, kelak aku berhak dapat yang lebih baik darinya. “Buat apa kau berjuang sendirian?”, begitu kata salah satu temanku. Kalimat itu seakan menamparku untuk kembali sadar akan kehidupan yang sebenarnya. Ketika itu, pola pikirku berubah, aku sadar selama ini aku hanya berjuang sendirian, aku sadar selama ini aku hanya berharap terlalu berlebihan kepada hubungan yang tidak sehat ini. Jika bukan kau yang mengajakku, aku tak akan berjalan sejauh ini dan mungkin jika dulu aku tak mau denganmu, aku tak akan sesakit ini sekarang. Kau yang memintaku untuk hidup bersamamu, namun kau juga yang memintaku untuk pergi dari hidupmu.

Advertisement

Kali ini aku sadar, aku masih punya banyak impian yang bisa kukejar. Daripada aku hanya bertahan atau berjuang dengan lelaki yang tak memperjuangkanku, aku lebih baik pergi. Kali ini, aku ikhlas. Silahkan kau pergi sejauh yang kau mau, kau berhak mendapatkan wanita yang jauh bisa menerimamu daripada aku. Ku ucapkan terimakasih karena sudah menemani ratusan hariku, kau tetap memiliki tempat di hatiku. Namun, jika kau ingin kembali padaku, maaf aku lebih memilih untuk tidak. Berjuanglah bersama-sama dengan yang bisa berjuang denganmu.

Selamat tinggal, kamu yang dulu selalu ku perjuangkan. Kali ini aku mengikhlaskanmu untuk pergi.

Dari,

Wanita yang dulu selalu memperjuangkanmu.