Hai tuan baik hati….

Sebelumnya aku ingin bertanya kabarmu? Sedang tak enak badankah dirimu hari ini? Tiba-tiba saja kau ngelantur dan berbicara perasaan denganku. Sadarkah kau pada siapa kau meminta hati? Aku ini temanmu. Yang kau kenal tak begitu dekat, mungkin saja sebatas nama. Saling sapapun seperlunya. Apa sebenarnya kau sedang main- main denganku? Sungguh aku tak menyukai permainanmu.

Tapi kau nampak serius. Tak pernah ku lihat sebelumnya, tatapanmu yang tajam dan kata-kata yang hangat darimu. Kau yang biasanya gila, konyol, dan dingin. Ah! Tuan baik hati kenapa kau ini!!! Telat minum obatkah? Atau gilamu ini semakin parah? Aku sangat terkejut dengan pernyataanmu itu.

Terlepas dari semua yang mengherankanku, aku ingin menyadarkanmu sedikit. Siapa aku ini dan bagaimana aku ini.

Siapkah kau berpasangan denganku yang selalu serius soal perasaan, berbeda denganmu yang selalu santai.

Advertisement

Hai tuan baik hati, aku ini bukan seperti kawanmu yang seru diajak untuk bercanda. Aku adalah sosok perempuan yang sensitif dan peka terhadap segala situasi. Apakah kau mau berdampingan denganku yang sulit mencerna humor dan tidak bisa diajak main-main soal hati ini? Aku terlalu kaku memang jika itu soal perasaan.

Aku pendiam dan perlu adanya waktu untuk sendirian. Apakah kau mau mengerti itu pula.

Tuan baik hati, tentu walau tak begitu dekat kau pasti tahu bagaimana aku. Aku tak suka banyak bicara. Aku jauh berbeda denganmu. Aku tak pandai membuat percakapan yang seru dan asik atau banyolan lucu. Kadang aku butuh waktu sendirian. Me time, saat mood-ku naik turun.

Aku lebih suka mambaca, menulis dari pada nonton dan nongkrong.

Aku tak memiliki banyak teman sepertimu. Jadi kadang aku menghabiskan banyak waktu dengan sahabat setiaku, buku dan bolpoin. Dengan keduanya aku bisa mengahabiskan waktu seharian dan bisa tak menggubris sekitarku. Aku sering tenggelam dalam imajinasiku sendiri. Dan kadang menyelami berbagai imajinasi orang lain, dengan membaca karya-karyanya. Aku tak suka lama-lama bercengkrama di tempat ramai. Aku tak suka gelapnya bioskop.

Aku suka pantai dan pegunungan, dan sangat membenci mall juga cafe.

Aku tahu kau suka sekali minum kopi dan duduk-duduk dalam lalu lalang manusia. Aku berbeda denganmu yang suka sekali senja dan hamparan hijau alam. Aku lebih suka mendaki gunung berkeringat dibanding hanya ngopi di kedai kopi. Aku suka hembusan angin yang menenangkan dan ombak yang membuyarkannya.

Aku ini sangat berambisi terhadap masa depan dan mengejar apa yang aku inginkan.

Tuan baik hati, tak bisa sesantai dirimu menghadapi hidup. Ada beberapa hal yang ingin aku capai. Dan aku akan sibuk sekali mengejarnya. Apa kah kau akan siap dan menerima betapa ambisiusnya aku dan mungkin akan mengabaikanmu?

Aku yang punya obsesi tinggi namun percaya jika Tuhan telah menggariskan jodohku.

Aku memang berobsesi tinggi dengan cita-cita tapi tak pula melupakan cinta. Aku hanya percaya jika waktunya nanti akan tiba sendiri jodohku yang memang menerimaku apa adanya dan mampu beradaptasi denganku. Karena memang jodohku adalah tulang rusukku, maka aku percaya antara aku dan dia tidak akan saling komplain satu sama lain. Lalu bagaimana denganmu? Yakinkah kau tuan baik hati?

Aku ini keras kepala dan juga memiliki ego yang tak kalah denganmu.

Di balik sikapku yang pendiam, aku ini keras kepala dan egois. Ada kalanya aku tak bisa mengendalikannya jika aku anggap keras kepalaku ini, memang benar. Aku tak suka mengalah dengan penyelesaian yang menggantung. Denganku kau mungkin akan banyak berdebat karena sudah jelas sikap kita yang kadang sama kerasnya. Dan semua tergantung pada diri kita bisakah jika kita bersama saling meredamnya?

Kadang aku yang nampak dewasa ini bisa kekanak-kanakan.

Ah… Pasti kau tahu bagaimana perempuan. Ia bisa sangat bijak tapi juga sangat menyebalkan dengan sifat kekanak-kanakannya. Apa kau siap yang menghadapiku seperti anak kecil yang merengek manja?

Aku ini wanita yang moody, kadang akan marah tanpa sebab dan menyalahkanmu yang tak salah.

Apa kau siap dengan begitu merepotkannya aku ini. Yang akan membuatmu pusing setiap bulan karena marah tak jelas dan akan memancing keributan dengan hal kecil yang sebenarnya tak salah kau lakukan.

Aku hanya berdandan seperlunya saja.

Aku tak suka memakai bibir merah juga bedak. Aku hanya rajin mencuci muka dan memakai pelembab. Lebih sering menampilkan diriku yang sederhana tanpa make up setiap harinya. Hanya seperlunya saja saat berdandan seperti ke kondangan atau ulang tahun teman.

Mungkin itu sedikit tentangku yang akan memusingkanmu. Bagaimana, apa kau siap? Atau kau ingin mundur saja? Aku sendiri masih ragu apa yang ada dalam perasaanku. Aku masih merasa heran denganmu yang tiba-tiba saja.