Setelah dengan jelas ia tampak tak membuka tangannya untuk rasa yang kamu sodorkan dan kamu masih saja berharap? Ah, tak masalah. Siapa yang menyangka hati punya kendali atas pikiranmu.

Sudah mulai musim hujan, apa kabar dengan hatimu? Masih terpaku pada sosoknya? Sudah berapa kali musim hujan terlewati? Coba hitung sejak pertama kamu mulai mengaguminya secara sepihak! Sementara ia menghabiskan hari dengan memikirkan orang lain, dan kamu hampir mati menekan rindu tak tersampaikan padanya. Jika saja rintik hujan yang turun tiap tahun itu sama, maka pasti ia akan mengetok kepalamu setiap badai hujan.

“Bagaimana mungkin setiap aku datang menemui bumi, yang kulihat hanya kamu yang memandangi pundaknya. Sementara ia yang melirik sedikit dari ekor matanya merasa tidak berani membalasnya dan berlari pada perasaan lain” – celetuk hujan.

Berbahagialah ia yang tidak pernah merasakan siksanya melupakan. Entah sesakit apa ia tersakiti, hati punya waktu sendiri untuk menyembuhkan dirinya. Jika bukan pergi maka melupakan. Jika bukan melupakan, maka termakan kenangan sendiri. Sulit kan melupakan? Iyalah. Bagaimanapun ia yang pernah sangat berharga dihidupmu pergi. Lalu membiarkanmu menguatkan diri sendiri. Memandangi pundak yang perlahan menjauh dan akhirnya menghilang.

Apa yang kamu sesali dari itu semua? Apakah melupakan sesulit itu? Apakah memang membangun rasa tidak ada campuran bahan melupakan di dalamnya? Ataukah mungkin dia terlalu dalam menenggelamkanmu dalam lautan hingga sulit untuk keluar?

Advertisement

Tidak perlu memaksa hati untuk melupakan yang menyakitimu, yang pergi darimu, ataupun yang tidak memperjuangkanmu. Seseorang dihadirkan dalam hidupmu karena sebuah alasan. Entah untuk mendewasakan atau mengajarkan cara untuk mengikhlaskan. Walau terkadang hanya sebatas dipertemukan dan bukan untuk disatukan setidaknya ia pernah mengajarkanmu cara memberi hati dengan tulus kan?