Berpisah denganmu sekalipun tak pernah aku cita-citakan. Sudah terlalu panjang jalan yang kita tempuh berdua. Sudah deretan pahit dan manis berhasil kita jalani berdua.

Bahkan dengan berani ku rajut rencana masa depan menghabiskan sisa hidupku mendampingi mu.

Lalu Tuhan berkata lain, dia tunjukkan padaku bahwa aku hanya manusia yang hanya sebatas bisa berencana. Pada akhirnya Dia lah Sang Sutradara utama nya. Entah kamu yang tak sabar, atau aku yang terlalu banyak kekurangan. Hingga akhirnya kau lebih memilih meninggalkanku dengan seorang yang baru beberapa hari kau kenal. Aku pikir kau hanya tergoda, sebagai seorang laki-laki wajarlah saja.

Tapi tidak, aku terlalu percaya diri. Kau benar-benar berpaling dan tak pernah kembali.

Seperti anai-anai tersapu angin, hati ku terburai. Aku masih saja tak percaya akhir yang kau pilih untukku. Ku besar-besar kan hati untuk menerima pilihanmu. Belum sembuh benar, kau cecar aku dengan segala salah dan kurangku. Semua kau ungkit seakan kau tak pernah alpa. Tidak puas mencecar ku, kau buat cerita apik untuk menyudutkan ku di depan teman-teman mu, teman-teman mu, teman-teman kita. Ah, habislah akal ku. Lelah ku coba membela diri, mengklarifikasi semua bualanmu.

Advertisement

Hingga pada titik dimana aku harus benar-benar diam.

Menanti saat Tuhan menunjukkan siapa yang sebenarnya sedang memainkan drama kebohongan. Ingin ku lihat bagaimana kau bisa tenang dan bahagia dengan sakit ku yang tak terhapus bahkan bertahun-tahun setelahnya. Maka hari ini, ku katakan padamu, jika tak ada lagi cintamu untukku setidaknya biarkan aku tenang tanpa harus menerima penghakiman penuh palsu mu.

Aku tak akan mengumbar semua kurang mu, karena memilihmu dulu adalah benar keputusan lahir dan batinku.