Pertama kali aku melihatmu, tidak pernah terlintas bahwa suatu hari kamu akan menjadi berarti untukku. Kamu bahkan bukanlah tipeku. Lalu di sore hari yang mendung itu, tiba-tiba kamu berbicara kepadaku, mengajak aku makan malam bersama. Aku mengiyakan, karena aku ingin bersikap baik, tidak berharap apa-apa. Kamu selalu mencoba mengajak aku pergi, meski awalnya aku selalu menolak karena aku tidak ingin menjalani hubungan yang lebih dari sekedar kenal denganmu, sekali lagi, kamu bukan tipeku.

Selanjutnya, yang aku ingat adalah aku menjadi ketagihan dengan kehadiran kamu. Aku rasa, aku mulai tertarik kepadamu. Mendadak, sifatmu yang membuat kamu bukanlah tipe pasangan idealku menjadi tidak masalah. Aku mendadak bisa menerima kekuranganmu. Kita semakin dekat, dan aku menikmati saat-saat berbicara denganmu di telepon. Hingga aku setuju untuk makan malam denganmu. Usai makan malam, aku menutup malamku dengan senyum lebar, mengetahui bahwa hatiku mulai menerima kehadiran kamu. Dan begitu saja, aku mulai menunggu telepon darimu. Seperti itulah, aku mulai suka jika melihatmu.

Namun, ditengah-tengah permulaan yang baru saja terjadi, aku tak memperhitungkan seberapa lama kamu akan betah berada di dekatku. Tiba-tiba saja kamu berubah, seperti hilang minat terhadapku. Kamu, ya kamu orang yang sama, yang bukan tipeku, yang telah kuijinkan untuk datang ke hatiku, yang mulai membuatku nyaman, namun kemudian pergi disaat aku sudah mulai berharap akan hubungan kita. Kamu membuatku bertanya-tanya akan hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan.

Kamu membuat aku tidak percaya diri. Apakah aku tidak menarik lagi? Aku tidak cantik lagi? Apakah aku tidak pantas bersanding denganmu? Apakah aku kurang pintar untuk bisa jadi pendampingmu yang cerdas? Apakah karena aku tidak datang dari keluarga kaya, yang kami ketahui setelah mengantarkan aku ke rumah? Apakah tingkah lakuku aneh saat kita makan bersama? Apakah kamu menemukan wanita lain yang lebih segalanya dari aku? Apakah dari awal kamu memang iseng mendekatiku?

Begitulah, hey kamu… Aku mempertanyakan segala sesuatu yang tidak pernah kupermasalahkan. Setelah perubahan sikapmu yang menjauh dariku secara tiba-tiba, untuk beberapa hari hatiku terasa kosong. Seakan ada bagian dariku yang diambil. Lucu, karena kamu bahkan belum menjadi pacarku, namun kamu sangat berarti untukku. Kamu… aku merindukanmu teramat sangat. Kamu… Melihatmu dari belakang saja aku sudah bahagia, karena berarti kamu masih ada di dunia ini. Kamu membuat aku menyayangi seseorang tanpa syarat, karena hanya melihatmu dari kejauhan, aku sudah cukup senang.

Advertisement

Mengetahui bahwa kamu sehat, aku sudah tenang. Untuk kamu, calon kekasih hatiku yang tidak pernah terjadi, janganlah lagi kau lakukan hal serupa kepada wanita lain. Biar aku saja yang merasakan sakitnya merindukan seseorang yang hampir menjadi bagian hidupku. Untuk kamu yang telah datang dan berhasil membuka hatiku yang awalnya tertutup untukmu, terima kasih. Karena kejadian ini, aku jadi belajar menyayangi tanpa syarat, dan belajar untuk tidak mudah membuka hati.

Salam, aku yang awalnya tidak menyukaimu namun lalu tergila-gila akan kamu dan merasa hampa karena kamu meninggalkanku.