Berbahagialah di mana pun kau berada, jauh dari kota pertemuan kita, jauh dari perempuan yang beberapa waktu lalu kau puja dan kau banggakan, jauh dari perempuan yang begitu enggan kau sakiti. Terik mentari di ujung jalan kota ini serasa telah redup tertelang bayang-bayang kenangan, canda dan tawa, bersuka-suka nampak enggan bercerai-berai.

Sepasang mangkok bakso dan sedikit kebungkaman mengiringi perjumpaan kita, ku lihat kau duduk resah di hadapanku menikmati semangkok bakso yang terhidang rapi di hadapanmu, begitu lahap dan menikmati. Namun tahukah kau duhai pemuda batinku saat itu sedang ketakutan ibarat petir di hutan belantara mengaung seakan-akan ingin memuntahkan keluh-kesahnya pada raja hutan. Gelagatmu telah kutemui begitu aneh ku rasa, itulah firasat seorang perempuan kiranya seperti itu.

Selang sehari semuanya terasa begitu menyakitkan, kejujuran yang tak pernah salah di mata Tuhan, cinta yang tak pernah salah di mata Tuhan, selalu suci dan bersih. Hanya saja kita manusia membuatnya ternoda, saling membahagiakan kemudian menghancurkan, sekiranya inilah hal yang tak pernah terencanakan.

Bisikmu memecah tidurku begitu piluh ucapmu, begitu singkat keputusanmu, begitu mudah bibir manismu mengucap kata jenuh untuk hubungan kita, untunglah perempuanmu sangat tenang dan sabar. Dosa kita anggan masa depan kita seakan tak kau ingat lagi, aku masih mengigat semua hal yang pernah kita perbuat canda tawa bahkan suka.

Tapi apa daya aku tak sekejam mawar merah yang disukai para kaum wanita, anggun cahayanya namun bersembunyikan duri dibalik permadaninya, bukan menuntutmu menjadi seperti diriku sebab manusia punya pemikiran serta keputusan berbeda-beda, aku hanya setitik gemercik air di penghujung wajahmu ketika mentari menyapa tidurmu berharap satu pengertian yang suci dari hati yang suci untuk batin yang tak pernah diragukan kesuciannya.

Advertisement

Kau bisikkan lagi padaku sekuntum pengharapan sebuah penenang, katamu "aku hanya butuh sendiri untuk beberapa waktu, jika kau sudi menungguku, tentu aku akan kembali kepadamu". Duhai penyendiri di sudut kota dimensi, selain menunggumu sebari memperbaiki diri aku tak punya pilihan lain, kau tentu mengerti maksudku, kita sama-sama paham tentang semua yang telah terjadi.

Kini, biarkan rasa lapar menggigitku, biarkan pulah rasa haus membakarku, biarkan aku mati dan binasa, sebelum kuangkat tanganku untuk cangkir yang tidak kau isi, dan mangkok yang tidak kau berkati. Namun sebelum itu tanyakanlah pada hati nuranimu, apa aku pernah berkeluh-kesah serta mengeluh akan hubungan kita padamu ? aku tidak pernah pergi, aku selalu berusaha mencairkan kejenuhan itu, hanya saja dirimu kurang memahaminya.

Berbahagialah wahai penyendiri, di sini aku tetap sama sebab senja tak pernah mengingkari janji dan tentang wajah ibumu yang selalu nampak di wajahmu itulah alasan pertama dan terakhirku untuk tetap menunggumu dengan kenyakinan bahwa kau pasti kembali.

Aku menyayangimu.