Aku tidak menyukaimu.

Kau, perempuan asing, yang tiba-tiba hadir dalam hidupku, lalu merampas lelakiku yang paling berharga nomor dua–setelah ayahku. Lalu, kau berpikir aku akan menyukaimu? tidak! Kau salah besar.

Dia memang bukan sosok kakak lelaki yang sempurna seperti dalam novel atau komik yang kubaca. Dia cuek, galak, dan mengerikan. Tapi tetap saja, dia satu-satunya yang bisa kuandalkan disaat seluruh dunia menuli. Dia yang menjagaku dari jauh. Dia lelaki yang mencintaiku tanpa syarat.

Aku tidak menyukaimu,

Karena kehadiranmu mengubah segalanya. Fokus dirinya tak lagi aku. Perhatiannya tak lagi utuh untukku. Pun hanya namamu, yang kini selalu terucap di bibirnya saat dia pulang ke rumah dan berkisah pada ibu.

Advertisement

Kau tahu, kau telah membuatku ketakutan setengah mati. Ketakutan akan masa depan yang tak bisa terhindari, dimana dia akan benar-benar kau bawa pergi. Pergi ke dunia dimana pembatasnya menjadi begitu tinggi.

Aku tidak menyukaimu,

Karena kau perempuan pertama yang membuat dia memarahiku. Kami memang tak pernah kehabisan alasan untuk bertengkar…, namun melihatnya marah hanya karena membelamu itu benar-benar menyebalkan.

Kau tidak tahu kan, betapa inginnya aku menjambak rambut lembutmu, dan mencakar wajah cantikmu. Tapi tenang, saja, hal itu tidak akan kulakukan. Karena sebesar apapun rasa tidak sukaku padamu, hal itu tidak lebih besar dari keinginanku untuk melihatnya bahagia.

Ya, aku ingin melihatnya bahagia. Dan jauh di dasar hatiku yang terdalam, aku menyadari… bahwa hanya kau satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya bahagia.

Aku hanya belum siap. Hal ini terjadi begitu cepat. Aku sungguh-sungguh belum siap kehilangannya. Terlalu banyak waktu kami yang dihabiskan untuk bertengkar. Kami bahkan belum cukup banyak membuat foto bersama untuk memenuhi sebuah album.

Dan itulah yang membuatku terkadang bersikap tidak rasional kepadamu. Aku memang sengaja mencari-cari masalah. Semua sikap sinis, jutek, ketus dan menyebalkan ini… sesungguhnya hanyalah ungkapan ketidakberdayaanku saja. Semua ini tidak akan terjadi kalau dia belum bertemu denganmu.

Namun kita tidak bisa membekukan waktu…

Yang bisa dilakukan hanyalah melangkah maju. Masih ada waktu sebelum dia benar-benar menjadi milikmu.

Maka, aku memohon padamu… buatlah agar aku bisa menyukaimu. Mungkin bisa kau mulai dengan cara…

Berhentilah mengajakku berperang untuk berebut perhatiannya.

Kalau kau belum sadar juga, paling lama hanya dua atau tiga tahun lagi aku bisa memilikinya secara eksklusif. Setelah itu, dia akan hidup bersamamu. Menjadi ayah dari anak-anakmu. Menghabiskan sisa umurnya bersamamu. Justru kau harusnya meyakinkanku, untuk memastikan bahwa dia akan tetap menyayangiku sekalipun nanti sudag menjadi milikmu.

Mengalahlah.

Kita memang sebaya. Namun suka atau tidak suka, jika kau memang ingin bersamanya… maka kau harus memposisikan diri menjadi yang lebih tua jika berhadapan denganku. Perlakukan aku seperti adik kandungmu. Aku memang kasar, tapi aku luluh dengan kelembutan. Saat aku marah, maka mengalahlah –jangan malah mejauh dan memusuhiku–. Minta maaflah sekalipun bukan kau yang salah. Percayalah, itu akan mengubah sikapku padamu.

Jangan meminta/mengambil apapun dariku

Kau sudah mengambil milikku yang paling berharga. Jadi, aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani mengambil barangku atau milikku yang lain. Serakah itu namanya. Tapi yakinlah, ada waktunya dimana aku akan menghadiahimu atau memberimu kado yang spesial. Kupastikan itu adalah sesuatu yang terbaik.

Dewasalah

Setidaknya di depanku. Jadi aku bisa belajar bagaimana menjadi kakak ipar yang baik. Karena mana tahu, aku akan berada di posisi yang sama persis denganmu, karena kekasihku ternyata juga punya adik perempuan. Darimana lagi aku belajar bersikap menjadi dewasa jika tidak dari dirimu?

Kuharap, kau mengerti setelah membaca ini. Oh iya, mungkin ada satu hal yang luput darimu. Bahwa di dalam diriku, juga mengalir darah yang sama dengan yang ada di pembuluhnya. Darah yang sama persis, dan hanya dimiliki oleh kami berdua –karena terbentuk dari buah cinta kedua orang tua kami. Jadi, jika dia mencintaimu, bagaimana mungkin aku bisa membencimu?

Aku juga mencintaimu.

Diam-diam aku selalu mendoakanmu. Mendoakan dia. –untuk kebahagiaan kalian.

Karena Aku percaya Tuhan tahu yang terbaik. Dan memang semuanya adalah terbaik. Meski harus dimulai dengan cara yang tidak baik.