Cinta adalah suatu hal yang tidak bisa diprediksikan kedatangannya. Begitu juga kamu, kamu hadir di saat aku merasa bahwa dia bukanlah untukku.kamu hadir di saat aku ragu akan rasa dia kepadaku. Salahkah aku jika aku membalas keramahanmu saat itu kepadaku?

Tapi keramahanku kepadamu nyatanya tidak berangsur lama. Karena aku sadar, bahwa aku masih memiliki status sebagai " kepunyaan dia ". Akupun mulai membalas singkat semua isi pesanmu kepadaku.

Maafkan aku yang telah dengan sengaja berbuat seenak hati kepadamu.

Hingga suatu hari kamu pun mulai menghilang dari hari-hariku. Dan sampailah aku memberanikan diri untuk mengirimu pesan pribadi yang bisa dikatakan sekedar basa-basi. Tapi sejujurnya saat itu aku merindukanmu.

Kamu pun mengeluarkan semua kekesalanmu padaku. Sungguh, hatiku pun seolah-olah merasakan apa yang kamu rasakan kepadaku. Aku kesal kepada diriku sendiri, dan aku menyesal telah membuatmu sampai sesakit ini. Sekali lagi, maafkan aku.

Advertisement

Hingga akhirnya kehangatanku datang kembali padamu. Tapi katamu, kamu tidak bisa melulu seperti ini. Kepastian, ya itu yang kamu mau. Begitupun aku, sayang.

Aku merasa malu pada diriku sendiri, mencintai dua orang laki-laki yang salah satunya adalah kamu.

Kamu yang sangat hangat kepadaku, kamu yang selalu sabar mengahadapi betapa konyolnya tingkahku, kamu yang sakit akan rasa yang kamu miliki kepadaku. Tentu saja, aku akan memilihmu. Tapi selagi itu, aku meminta waktumu, waktu untuk menyelesaikan urusanku dengannya.

Dan satu pintaku, ku mohon sabarmu akan banyak kepadaku, ini bukanlah hal sesederhana semacam mengcancel suatu orderan ketika hal yang dibutuhkan sudah datang lebih dulu. Ini urusan waktu dan perasaan, sayang. Ku mohon kamu mau banyak bersabar kepadaku.

Dariku perempuan yang menyayangimu, tetapi selalu membuatmu merasa sakit.