Sebelumnya aku tak pernah menyadari, membahas tentang profesi, kemapanan, ataupun keuangan. Bagiku melalui hari-hari bersamamu sudah begitu menentramkan dan membuat hari-hari yang ku lalui diliputi kebahagiaan.

Kau membuatku menjadi seseorang yang begitu dipentingkan, karena waktumu selalu ada untukku.

Hingga suatu ketika, aku mulai memberanikan diri bercerita tentangmu. Bahwa kau adalah laki-laki baik yang telah menghiburku dengan sikap yang begitu manis. Namun, aku terhenyak seketika itu, yang mereka tanyakan ternyata tentang profesi, bagaimana kesibukan dan keadaanmu.

Aku terdiam dan mulai berfikir untuk segera mengutarakannya padamu. Bagiku memang bukan masalah, karena pribadimu sudah cukup membuatku bahagia, tapi tidak dengan orang tua, mereka yang telah memperjuangkan hidupku dengan segala jerih payahnya, mengaharapkan pasangan yang bisa menjamin kelayakan hidup putrinya.

Akhirnya ku putuskan untuk mulai merangkai kata, dan menyiapkannya sedemikian rupa agar tidak sampai menyinggung kehormatanmu sebagai laki-laki. karena ku tahu kau belum memiliki profesi.

Advertisement

Ada secercah harapan yang berpendar saat kau ternyata memutuskan untuk memperjuangkanku dan akan melawan segala terpaan yang mungkin menghujam.

Hatiku memang berbunga, sebelum kau memutuskan untuk pergi dan tidak ingin menghubungiku sebelum menuai kesuksesan.

Aku mengiyakan, dan melalui hari-hari yang begitu menyesakkan.

Kadang aku tak percaya, kau benar-benar telah pergi, entah kemana, namun aku yakin kau sedang memperjuangkanku disana.

Kadang aku memaki pada waktu, aku telah menyerah dalam rengkuhanmu, kau membuatku menunggu, merasakan detik-detik yang terasa begitu panjang untukku. Tak jarang, aku meyakinkan diri, bahwa ini akan menjadi hari terakhir kalinya aku merengek agar kau segera hadir. seharusnya aku bisa menahan, seberapa lamanya, tapi detik demi detik terasa lambat dan hanya membuatku tersengal diterpa kesunyian.

Kepercayaan ini mungkin begitu penuh padamu, sehingga aku tidak menyisakan ruang untuk berfikir berhenti menunggu, kecuali kau hadir dengan sebuah keputusan, senyum atau diam terpaku.