Bolehkah kurangkum cerita kita, wahai mantan?

Semuanya bermula saat itu. Ketika aku menganggukkan kepala atas pertanyaanmu.

"Maukah kamu menjadi kekasihku?"

Pengorbananmu selama enam bulan demi merebut hatiku telah sukses. Aku rasa cukup. Aku siap bersanding menemani hatimu. Hari-hari indah pun dimulai. Aku ingat, saat aku merajuk padamu. Kamu kayuh sepedamu hanya demi memberiku sebuah es krim kesukaanku. Aku ingat, saat kamu dan aku meniti tiap langkah bersama menuju negeri di atas awan. Sebuah tempat yang penuh dengan kenangan kita, yaitu atap Jawa Barat.

Kamu senantiasa dekat denganku dan menghiraukan dia yang mencintaimu. Wanita dengan sejuta kelebihan yang tak dimiliki olehku. Kamu berlari menghampiriku yang memiliki sejuta kekurangan ini. Ya, kamu memilihku. Dan ingatkah kamu? Ketika ibuku tak memberikan restunya padamu, kau dengan berani dan perlahan tapi pasti mencuri hati ibuku. Sampai beliau pun bisa menerima, bahkan sayang padamu. Kamu menunjukkan dirimu bahwa kamu bisa diterima di keluargaku dengan usahamu.

Advertisement

Maafkan aku, mantan kekasihku…

Ketika kamu terpuruk, aku hanya bisa menggenggam tanganmu dalam segala keterbatasanku. Berbeda denganmu yang selalu berusaha menguatkanku ketika aku terjatuh. Aku ingat pengorbananmu di setiap hari paling istimewa dalam hidupku. Dari mawar merah sampai kue ulang tahun yang tak pernah kamu lupa berikan padaku. Selalu kamu buat aku meneteskan air mata bahagia. Kamu rela membuat dirimu lelah hanya untuk membuatku tersenyum.

Dan perlu kamu tahu, aku merasa benar-benar bersyukur pernah memilikimu.

Semuanya indah. Setiap badai datang menghampiri, kita masih tetap berdiri bersama. Hari-hariku terasa amat indah saat bersamamu. Sampai pada suatu hari, badai besar datang menuju kita. Kamu yang menciptakan badai besar itu. Kamu yang kini sudah berpangkat tinggi melepaskanku. Aku tak menyalahkanmu. Aku mengerti. Kamu anak yang berbakti pada ibumu sehingga ketika beliau berkata padamu untuk "meninggalkanku" KAU PATUH.

Aku mengerti, sangat mengerti. Aku bukanlah wanita dengan karir yang hebat. Tak juga terlahir dari keluarga yang bergelimang harta. Ya, aku sederhana. Beginilah aku apa adanya. Mungkin karena itulah, ibumu menyuruhmu untuk meninggalkanku. Aku tahu diri dan ikut bahagia bila memang kelak kamu akan mendapatkan wanita yng mampu membuat ibumu menunduk.

"Maafkan aku yang tak bisa berusaha sepertimu."

Seperti saat dirimu berjuang merebut hati ibuku. Maafkan aku yang tak bisa berjuang banyak untuk kita. Karena aku tahu, sekuat apapun aku berjuang, aku tak akan pernah bisa menggapaimu. Dan karena aku pun sadar bahwa aku bukanlah wanita yang layak disandingkan denganmu. Aku hanyalah wanita yang mencintaimu dalam diamku, baik dulu hingga kini. Namun aku tak akan pernah membuatmu terbebani akan cintaku. Aku mengikhlaskan dirimu pergi, membawa separuh hatiku.

Temukanlah wanita yang lebih baik dariku! Agar dia bisa membuat keluargamu bangga dan menjadi calon menantu yang baik untuk ibumu.

Ingat, wahai engkau pria yang dulu sering aku panggil sayang. Buat dirimu lebih baik lagi agar bisa membuat orang yang kau sayangi merasa bahagia.

~anonymous

aku adalah wanita yang masih saja terjerat oleh hatimu