“Jangan pernah hubungi aku lagi.” Pesan singkat yang kau kirimkan padaku kala itu, telah menghancurkan sebagian hidupku. Kalimat singkat itu telah menggoyahkan mimpi yang telah kita rajut berdua selama ini. Sakit, hancur, perih memukul setiap detik waktuku.

Tidak pernah sebelumnya aku banyangkan hidupku tanpamu. Hari-hariku selalu dipenuhi oleh tentangmu. Kita yang awalnya selalu bersama, berbagi canda tawa, menangis bersama, kini aku harus hidup tanpa bayangmu lagi. Inilah satu hal yang sangat membuatku takut. Ya, aku takut jika aku harus kehilangan dirimu, aku takut jika aku tidak bisa melihat senyummu lagi. Tapi, kenyataan yang aku terima, kau meninggalkan diriku. Jarak yang selama ini menjadi penghalang membuat kita menyerah. Waktu yang tidak pernah berpihak pada kita membuat kita berhenti berharap. Dan kenyataan itu datang, aku harus hidup tanpa dirimu. Ketahuilah awalnya sangat berat.

Setiap langkah yang aku pijak selalu teringat tentang dirimu. Setiap tempat yang aku temui selalu ingat tentang semua kenangan itu. Langkah yang aku buat semakin berat, hingga aku rasanya tidak sanggup aku berlari. Cahaya yang awalnya ada di hadapanku berlahan redup dan menghilang. Aku tidak bisa melangkah lagi, saat aku tahu kalau dirimu telah menggandeng cinta yang lain.

Penghianatan yang kau lakukan padaku sangat menapar diriku. Rasanya tidak percaya saat tahu dirimu telah melupakan diriku dengan semudah itu. Tapi, inilah kenyataan yang aku terima. Dendam? Tidak. Menyesal? Tidak. Karena ini yang Tuhan berikan padaku. Tuhan tidak mungkin memberikan masalah yang tidak bisa diatasi oleh hambaNya. Dan aku percaya bahwa ini adalah yang terbaik.

Melupakanmu adalah hal terberat yang pernah aku lakukan, tapi mengikhlaskan dirimu adalah hal yang paling bahagia dalam hidupku. Dan cahaya yang ada di hadapanku berlahan menerangi jalanku. Tidak ada keraguan lagi saat melangkah kedepan. Keikhlasan itu telah membuatku menjadi pribadi yang kuat. Hatiku tidak selemah yang pernah kau bayangkan lagi. Ketahuilah bahwa diriku telah menjadi pribadi yang berbeda, diriku telah belajar untuk menerima apa yang seharusnya bukan milikku. Diriku tidak pernah memaksa kehendak orang lain untuk mengikuti apa yang aku inginkan. Dan diriku tahu kemana harusnya melangkah.

Advertisement

Saat semua yang pernah aku lewati berdua, bergandengan tangan berdua, dan berbagi kesedihan berdua. Tapi kini diriku telah mantap untuk melangkahkan kaki. Tanganku mengayun sendiri dengan ringan, tanpa perlu bergandeng tangan lagi. Langkahku penuh dengan keyakinan bahwa ini tidaklah akhir dari segala. Biarlah cinta pertama itu terbang menuju rembulan di angkasa sana, terbawa arus tenggelam di dasar samudra. Tapi, aku tidak akan pernah selemah itu lagi.