Untukmu, yang pernah hadir dalam angan-anganku…

Aku bertemu ibumu pertama kali di suatu acara pernikahan warga komplek kita. Kau tahu? Ibumu sedang mencari wanita yang pantas untuk menjadi menantunya. Ya, calon istri untukmu yang sudah 26 tahun ini belum menikah.

Kau tahu? Malam itu juga aku langsung mencari keberadaanmu dan mencari facebook-mu. Ternyata kau tidak tinggal di kota yang sama denganku dan tidak pula tinggal di Indonesia. Kau berada di negeri Doraemon sana.

Kau tahu? Dari situ aku mulai berharap kepadamu. Berharap bahwa aku bisa bertemu denganmu dan aku bisa mengenalmu lebih dekat.

Kau tahu? Aku mulai resah dan gelisah ketika temanku mengatakan bahwa mereka sedang dekat dengan seorang pria, aku hanya takut mereka lebih dahulu mengenalmu dariku.

Advertisement

Aku menunggu update-an mu setiap hari hanya untuk mengecek apakah kau masih available ? Aku menunggu setiap weekend karena kau akan meng-upload fotomu di Facebook. Selama dua tahun lebih aku menunggu, dan sabar menanti.

Kubuka hati ini hanya untukmu dan kubuka angan-angan tentang indahnya tingga di negeri Sakura, kubayangkan kita akan berjalan di bawah indahnya Pohon Sakura yang sedang bermekaran. Kubayangkan juga kita merasa bahagia karena ini adalah salju pertama kita di tahun ini. Kubayangkan aku akan memasak setiap hari sambil menunggumu pulang dan aku akan mengatakan “okaeri” saat kau pulang kerja.

Harapan demi harapan selalu kubuat, semua bayangan indah sudah kukhayalkan, semua tempat-tempat wisata di sana juga sudah aku lihat agar kelak kita tidak hilang arah setiap minggunya karena kita akan menjalani kehidupan yang baru di sana.

Kau tahu? Aku sangat ingin bertemu denganmu sekali saja, berkenalan denganmu dan memulai kehidupan kita yang akan seperti roller coaster, ada bahagianya, ada sedihnya. Tak mengapa, asal itu kujalani bersama denganmu. Aku juga siap jauh dari orangtuaku untuk pertama kalinya, asalkan aku dekat denganmu selalu.

Aku siap menjadi ibu dari calon anak-anak kita dan mengajari mereka Bahasa Indonesia karena aku yakin anak kita akan kesulitan dalam berbahasa karena sekolah mereka tidak akan mengajarkan Bahasa Indonesia. Aku juga siap membuatkan bento untuk anak-anak kita,dan tentunya aku juga akan membuatkanmu bento karena kamu pasti takut akan makanan yang tidak halal di kantormu. Aku juga siap menghadapi dinginnya saat winter tiba. Aku juga siap menghadapi panas saat summer menyengat.

Bahkan akupun siap jika harus mendaki gunung hanya berdua denganmu, menyusuri jalanan setapak berhari-hari hanya untuk melihat keindahan alam yang diciptakan oleh Allah.

Aku hanya takut jika suatu saat nanti kau pulang ke Indonesia bukan untukku, tetapi untuk yang lain. Aku hanya takut aku tidak pernah bertemu denganmu, menjabat tanganmu, menjadi ibu dari anak-anakmu, membuat bento untukmu dan anak-anak kita, merasakan salju bersamamu, menikmati indahnya sakura bersamamu, mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak kita kelak.

Semua harapan sudah kugantungkan hanya kepadamu. Semua mimpi sudah kugantungkan kepadamu, hingga akhirnya semua ketakutan itu menjadi nyata. Aku harus mengatakan kepada semesta bahwa aku kalah. Aku kalah sebelum aku berjuang, aku kalah sebelum aku mengenalmu, aku kalah sebelum aku bertemu denganmu.

Kau tahu rasanya hati ini berkeping-keping ketika aku harus melihat update-an yang selama ini paling aku takutkan? Ya, semua rasa takutku yang menjadi kenyataan itu sukses membuatku seakan aku adalah manusia paling bodoh saat ini. Dua tahun lebih aku hanya melihatmu dari facebook, dan tidak ada keberanian dariku untuk berteman denganmu di facebook, dua tahun lebih aku membayangkan semua mimpi-mimpi indah yang akan kita lewati bersama.

2 Mei 2016, kau melamar pujaan hatimu, wanita yang belum pernah aku ketahui siapz, wanita terbaik pilihan orangtuamu. Kau tahu rasanya hati ini terluka? Kau tahu rasanya kalah sebelum berperang? Tanyakan kepadaku bagaimana rasanya. Tanyakan kepadaku bagaimana rasanya mencintai orang yang belum pernah aku temui. Tanyakan padaku rasanya menjadi orang yang sangat menyesal saat itu. Tanyakan padaku rasanya melihat senyuman bahagia yang kau lontarkan dari bibirmu saat kau memegang “bola-bola semangat” itu.

Aku sungguh menyesal tidak pernah mengungkapkan rasa ini, tidak pernah mengklik add friend di facebook.

Vi, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi saat ini, kau membaca tulisan ini atau kau tidak membaca tulisan ini. Jika kau membaca tulisan ini, kuharap kau bisa bahagia dengan istrimu. Aku harap pernikahanmu menjadi pernikahan yang Samawa. Tetapi jika kau tidak membaca tulisan ini, cukup aku yang memendam rasa ini.