Dear kamu,

Aku nggak tau harus memulai dari mana. Di hari valentine ini aku ingin mengungkapkan betapa lelahnya aku di posisi ini. Orang lain mungkin berbagi kasih dan kebahagiaan di tgl 14 Feb ini , tapi aku malah mengurung diriku di rumah, membiarkan memori kenangan tentang kita menguras air mata yang entah sejak kapan mengalir tanpa permisi.

Dua tahun kebersamaan bukanlah waktu yang singkat dan bukan hanya sedikit momen-momen indah yang tercipta. Di waktu susah dan senang kita selalu berbagi cerita, menangis bersama ketika dunia tak memihak kita, tertawa bersama ketika dewi fortuna beserta kita.

Kita memang bukan pasangan pada umumnya yang bisa bertemu setiap harinya , kita harus berpuas diri dengan mendengar kabar lewat telpon di sela-sela kesibukan kita masing-masing. Tapi itu tak jadi masalah, aku percaya sama mu, aku percaya kamu akan menjaga hati ku di sana.

Tapi aku nggak tau apa yang membuatmu berubah.

Advertisement

Entah mungkin karna jarak atau karna memang ada orang ketiga. Kini tak ada lagi komunikasi di antara kita, tak ada lagi SMS penyemangat ketika pagi aku membuka mata, tak ada lagi sebaris doa yang selalu ku dengar tiap aku ingin berbaring di waktu malam.

Apa salah ku ?

Dimana dirimu yang dulu selalu mengkhawatirkan ku, dimana dirimu yang dulu selalu marah-marah jika aku lupa memberi kabar ? Mana janji mu dulu yang tak akan pernah pergi meninggalkan ku ? Kenapa harus berubah ? Jawab aku, kenapa ?

Kenapa harus pergi ketika aku udah merasa nyaman ? Kenapa mengenalkan ku dengan rasa ini jika tak berniat untuk tetap tinggal di sini ?

Ada banyak hal yang mungkin perlu kamu dengar. Dimana pun kamu sekarang dan bagaimana pun keadaan kamu. Aku bertrima kasih untuk semua yang kamu berikan selama 2 tahun ini, trimakasih selalu ada dan memotivasi ku di saat sedih ku. Terima kasih selalu menyediakan waktu untuk mendengar keluh kesahku. Terima kasih telah mengenalkanku dengan keluargamu, terima kasih pernah perhatian sama aku. Terima kasih pernah menungguku 2 jam di depan kampus ketika kita berantem dulu. Terima kasih pernah mengantarku ke kampus ketika aku lagi males. Terima kasih pernah mau menjemputku ketika ban motor ku bocor malem-malem.

Terima kasih pernah memarahi seseorang yang menjentik telingaku ketika aku lagi berdoa. Terima kasih telah membuatku merasa special. Aku senang bisa mengenalmu, senang bisa menjadi orang yang kamu percaya selama ini. Aku senang bisa jatuh cinta sama kamu. Kamu harus tau, dua tahun terakhir ini adalah dua tahun yang tak mungkin bisa kulupakan seumur hidupku.

Aku nggak tau bagaimana menjalani hidupku setelah ini. Setiap hari yang bisa kulakukan hanyalah menangisi dan mengharapkan kamu akan menelponku kembali dan menjelaskan semuanya.

Kamu boleh menganggapku bodoh, karna memang benar aku bodoh terus menyiksa diri dengan memikirkan orang yang belum tentu memikirkan ku.

Salahkah aku jika berharap kamu kembali dan semuanya bisa seperti dulu ?

Aku tak tau bagaimana bisa melupakan mu jika di setiap detik yang ku lalui selalu hadir bayang dirimu, Ini benar-benar menyiksa ku. Kilasan kenangan bersama mu selalu terlukis di kepala ku dan membutakan ku. Sudah hampir sebulan kita seperti ini tapi sakit itu masih begitu nyata. Aku tidak pernah bahagia atas kepergianmu ini.

Akhir kata : di mana pun kamu dan dengan siapa pun kamu saat ini, berbahagialah. Aku mungkin masih mengharap mu kembali tapi aku tak berniat merusak kebahagiaan mu.

Aku akan tetap setia dengan cinta ini, karna aku yakin jika kita jodoh kita pasti akan di pertemukan kembali.

Dari ku,

Seseorang yang selalu kamu panggil "Nono Mao".