Dulu aku begitu menyukia hujan. Setiap kali hujan datang, aku akan tersenyum dan berlari ke jendela kamarku untuk menatapnya dan bercerita padanya tentang kisah-kisaku. Namun kini setiap kali hujan datang, aku merasa dia datang untuk menyalahkanku atas keegoisanku.

Aku tahu aku salah, namun aku tak punya keberanian untuk memperbaikinya, kau tahu kenapa? Karena sudah tidak ada lagi kesempatan itu, kesempatan yang telah ku lewatkan begitu saja.

Aku melepaskan kau yang ku cintai dalam derasnya hujan, aku meninggalkan dirimu berdiri di sana bercerita pada hujan tentang rasa sakit yang kau rasakan, itulah mengapa setiap kali hujan datang, hujan selalu menyampaikan pesan mu untuk ku, mengingatkanku akan rasa sakit yang kau rasakan.

Tahukah kau bahwa aku juga sakit, bahakan sangat sakit. Aku menyadari betapa sakitnya kehilangan dirimu, lebih sakit lagi adalah kenyataan bahwa aku kehilanganmu karena keegoisanku sendiri. Standar yang terlalu tinggi untuk orang yang akan mendampingiku, sifat perfeksionis yang mungkin berlebihan, mengabaikan perasaan mereka yang tulus mencintai ku demi keinginanku dan semua analisa tinggi yang ku pakai untuk setiap mereka yang ingin singgah di hatiku. Namun tahu kah kau, setelah sekian lama aku mampu bertahan, kau orang yang mampu meruntuhkan dinding pertahanan itu sekaligus membawahku kedalam sebuah kondisi yang tak pernah ku alami sebelumnya. Patah hati.

Hati yang ku patahkan sendiri. Aku bukan terlalu sempurnah bagimu, seperti yang kau katakan, aku hanya manusia yang juga memiliki perasaan sama sepertimu, bedanya kau mampu mengungkapkan perasaanmu dan aku tidak. aku memilih memendamnya hanya demi sebuah standar yang kini ku sesali setelah kehilanganmu. Aku tahu kamu sakit, aku dengar kamu menangis malam itu, namun aku tak berani berlari ke sana,mendatangimu dan memelukumu sama seperti yang selalu kau lakukan untuk ku.

Advertisement

Karena aku membiarkanmu merasakan sakit itu, makanya aku tahu bahwa aku tak pernah pantas bagimu. Bukan aku yang terlalu sempurnah bagimu, namun kaulah yang terlalu sempurnah bagiku. Aku tidak layak bagimu yang terlalu baik bagiku.

Tahukah kau, aku selalu menyesali keputusanku itu. Wajahmu selalu menjadi alasan aku terjaga di setiap tidurku, bayangmu menjadi sapaan pagiku dan kenangan tentangmu selalu menjadi ucapan sebelum aku tidur.

Rasa bersalah akan kebodohanku sendiri selalu menjadi alasan aku tidak pernah berlari lagi ke arahmu, biarkanlah aku berlari ke arah yang lain, untuk membiarkan waktu mengobati rasa di hatiku dan doaku juga untuk agar waktupun mampu mengobati rasa di hatimu.

Aku menyesal, sangat menyesal… ini yang ingin aku katakan bagimu, namun melihat dia yang kini ada di sampingmu, benar-benar membuatku ciut. Aku berharap dan selalu berdoa agar dia yang kini ada di sampingmu adalah yang dikirim Tuhan untuk membahagiakanmu.

Aku pergi, pergi dalam sebuah penyesalan yang dalam. Maafkan aku.

Tahu kah kau, aku menyampaikan permintaan maaf dan penyesalanku pada hujan? Aku berharap hujan juga bisa menyampaikannya padamu, hingga waktu bergulir dan menghapus semua senggang di antara kita, agar aku bisa kembali walau hanya untuk sekedar menyampaikan permintaan maafku padamu.

Aku pergi dengan cinta yang masih ada untukmu, namun aku tak pernah berharap kau akan datang lagi dalam hidupku. Semoga kau bahagia, hanya itu doaku.