Mungkin aku hanya satu dari seribu perempuan yang mengagumimu. Salah satu yang memimpikan bisa setiap hari berada di dekatmu. Aku tak tau mana yang lebih beruntung; aku yang telah banyak melewati tawa, tangis, dan curahan cerita denganmu—dulu, atau mereka yang memang tak pernah merasakan itu denganmu namun saat ini selalu bisa tertawa bebas di dekatmu.

Ah, siapalah aku, hanya sekeping serpihan kisah masa lalumu.

Mungkin kau tak pernah tahu betapa aku seringkali menatapmu diam-diam, mencuri pandang ke wajahmu yang dulu pernah begitu dekatnya denganku. (Sedikit) iri pada mereka yang bisa menyapamu tanpa canggung. Berusaha mencuri senyum yang dulu bisa kunikmati tanpa jarak yang membuatku merasa terlalu jauh. Lantas mengabadikan kenangan tentangmu di lembar-lembar kertas yang andai bisa bicara, barangkali akan mengeluh jenuh karena yang kutulis hanya itu-itu saja, hanya tentangmu saja.

Tapi aku bisa apa? Hanya itu caraku memilikimu. Bayanganmu mengikatku sedemikian eratnya hingga tak bisa aku lari menjauh. Dan nyaris aku lupa bahwa sekali lagi, itu hanya bayang-bayang, yang sebenarnya tak pernah nyata. Hanya mengikutiku saja, tanpa bisa secara kuraih, kusentuh, apalagi kumiliki, karena bila senja tiba, ia lantas menghilang, meninggalkanku sendiri berteman sepi dan gelap malam. Seandainya saja bayangan berwujud nyata, akan kukeluarkan ia dari kepalaku, kuseret ke tengah jalan raya, kutinggalkan sendiri biar ditabrak lari lalu mati. Supaya aku bisa melanjutkan hidupku sendiri.

Tapi tidak bisa.

Aku tak mampu, tak peduli sekeras apa aku mencoba. Maka kuputuskan akan kuambil langkah yang berbeda; aku tak mau lagi mencoba menghilangkanmu. Kuputuskan untuk berdamai dengan masa laluku. Tak akan kuusir lagi bayanganmu yang mengganggu.

Akan kupersilakan dia duduk di sini, di singgasana hati, merajai ruang hati ini sepenuhnya hingga ke sudut terkecil. Walau mungkin tak akan ada tempat lagi untuk yang lain, biarlah, aku tak peduli.

Advertisement

Karena akupun tak berharap akan merasakan lagi apa yang dulu pernah kurasakan padamu—untuk kemudian mendapati kenyataan bahwa aku harus terluka lagi, kesepian lagi, sendirian lagi. Tidak. Kalau memang aku harus hidup dengan rasa sakit ini, biarlah. Akan kujadikan sesak yang kerap muncul ini sebagai penanda bahwa aku pernah mencintai seseorang begitu tulusnya, seseorang yang membuatku bahagia begitu dalamnya.

Kalau memang harus selamanya luka ini membekas, biarlah. Tak perlu bekasnya hilang. Kelak akan kujadikan pengingat bahwa luka ini membuktikan betapa kuatnya hatiku, bahwa ia pernah diangkat begitu tinggi lantas dijatuhkan menjadi begitu hancur, namun masih sanggup bertahan hingga kini.

Dan kamu,

Aku tak menyesal walau harus hidup dengan rasa sakit ini. Terima kasih telah menciptakan hari-hari terbaik yang pernah aku miliki.

Dan aku,

Aku masih akan di sini, menghidupimu dalam ruang hati yang dirajai kenanganmu. Masih akan di sini, bertemankan gelap malam yang masih selalu memelukku.