Aku mau ngomong sesuatu.

Hei. Masih ingatkah kamu saat hari itu kamu mengajakku bertemu. Kamu menjemputku di depan rumahku. Tapi tak seperti biasanya, wajahmu yang selalu ceria dan selalu merentangkan tanganmu untuk memelukku, hari itu digantikan dengan senyum masam yang dipaksakan. Oh Tuhan, apa yang salah denganku, pikirku dalam hati. Aku hanya menurut saat kamu memintaku naik ke boncengan motormu. Tanpa obrolan penuh semangat seperti biasanya, kamu hanya mendiamkan aku. Aku pun canggung saat ingin memeluk pinggangmu, seperti yang biasa aku lakukan, apalagi untuk memulai pembicaraan. Otakku sudah dibanjiri oleh pikiran-pikiran negatif.

Kamu sadar ngga sih, kita nggak bisa gini terus.

Aku masih ingat betapa bingung dan kalutnya hatiku saat kamu menanyakan pertanyaan itu. Apa? Apa yang salah? Iya, aku tahu, saat itu kita memang lebih sering beradu pendapat, saling memaki, dan akhirnya mendiamkan beberapa saat. Tapi aku pikir, itu hal yang wajar. Mungkin hubungan kita sedang dalam proses diuji?

Kita harus putus.

Advertisement

Betapa peningnya aku saat kata-kata itu menggetarkan gendang telingaku. Ini salah. Apakah dia bilang bahwa dia.. ingin putus denganku? Tidak tidak. Aku pasti salah dengar. Tapi ada apa dengan wajah serius dan sendu itu? Dia mau putus denganku? Ya Tuhan, bangunkah aku dari mimpi buruk ini. Oh tidak. Itu sama sekali bukan mimpi. Kamu memang ingin berpisah denganku.

Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku.

Betapa doa yang sangat basa-basi. Saat aku mendengar kamu mengatakan hal itu, betapa inginnya aku berteriak di depan wajahmu bahwa kamulah satu-satunya yang aku ingini menjadi yang terbaik untukku

Dua tahun telah lewat. Kini aku hanya ingin berterimakasih atas doamu waktu itu. Tuhan mendengarkan, dan Ia mengabulkan.

Aku tahu setelah kini aku mendapatkan yang lebih baik darimu dan engkau melihat kami begitu bahagia, hatimu tersulut oleh percikan rasa cemburu. Ya, kamu harus tahu, dia begitu baik padaku. Aku tak akan mengingatkanmu betapa kamu sering membuatku menangis waktu itu, tapi dia sungguh berbeda. Dia selalu berusaha keras agar aku selalu bahagia dan menyemangatiku saat hariku sedang buruk. Dia memelukku saat moodku sedang berantakan, bukan seperti kamu yang malah mendiamkan aku.

Sudahlah. Bukan maksudku ingin membandingkan kamu dengan kekasihku sekarang, tapi terimakasih sudah melepaskanku waktu itu, untuk mendapatkan yang terbaik daripada kamu. Semoga kamupun begitu.