Sebagian orang berkata, jika kamu cinta maka perjuangkan cintamu. Sebagian lagi malah mengatakan sebaliknya, saat kamu cinta maka relakanlah ia yang kamu cinta. Dan aku termasuk dalam golongan yang ingin memperjuangkan cinta.

Bukan hal baru bagi kita untuk membicarakan pernikahan. Apalagi di usia kita yang tak muda lagi. Aku selalu membayangkan bagaimana nanti resepsi pernikahan kita. Bagaimana nanti kita berdua membangun rumah tangga. Bagaimana nanti kita membesarkan anak-anak kita. Aku selalu bermimpi, kita akan berakhir di pelaminan. Aku dan kamu, bersama. Ya, sebut saja aku pemimpi. Aku tak peduli.

Kamu yang jaraknya ribuan kilometer dariku, sama antusiasnya denganku. Setelah sekian lama kita bersama, setelah kita benar-benar memantapkan diri untuk melangkah berdua, kamu pun menghampiriku, menjemputku untuk bertemu kedua orang tuamu. Entah apa yang merasukimu. Walaupun aku begitu inginnya menjadi pendamping hidupmu, namun ada rasa cemas terbersit dalam hatiku. Aku mencemaskan penilaian orang tuamu. Kita memang sudah bertahun-tahun bersama, namun aku belum sekalipun bertemu dengan mereka. Ini pertama kalinya dan sepertinya ada yang mengganjal hatiku. Aku tak tahu apa itu.

Selayaknya pertemuan pertama calon mertua dan menantu, suasana terasa canggung. Keramahan orang tuamu tak cukup mencairkan suasana. Aku pun mencoba tetap tenang. Senyum tak lepas dari wajahku, begitupun ibu dan ayahmu. Pertanyaan demi pertanyaan mereka lontarkan. Bagiku ini tak terlalu sulit bagiku, aku hanya harus menjadi diriku apa adanya dihadapan mereka. Namun ternyata ini jauh lebih sulit, saat ibumu bertanya tentang pekerjaanku dan latar belakang kedua orang tuaku. Aku mencoba tenang, menjelaskan aku yang masih mencari lowongan pekerjaan, menjelaskan ibuku yang hanya seorang ibu rumah tangga, dan ayahku yang hanya seorang guru.

Ketahuilah, kedua orang tuamu tak pandai berbohong Senyum ibumu tiba-tiba menguap, hilang dari wajahnya. Ia seperti kehilangan kata. Sedangkan ayahmu terlihat penuh tanda tanya. Jelas saja mereka kaget, ayahmu seorang direktur perusahaan, dan ibumu seorang pejabat teras pada salah satu instansi di kotamu. Mungkin mereka merasa tak pantas jika aku anak orang biasa harus bersanding denganmu yang anak konglomerat. Ibumu kehilangan keramahannya, begitupun ayahmu. Mereka menolakku. Bahkan sebelum sempat kamu menyampaikan keinginan hati kita untuk menikah. Namun dengan senyum, kamu coba menenangkanku. Katamu, mereka hanya terkejut namun percayalah mereka akan menerima kamu. Dan aku percaya. Usaha demi usaha, kita coba untuk membuat orangtuamu menerimaku. Kita benar-benar ingin memperjuangkan hubungan kita. Namun semuanya percuma. Apakah status sosial sepenting itu bagi keluargamu? Apakah cinta tak ada artinya bagi mereka? Kamu pun akhirnya berubah. Tak lagi semanis dulu. Tak lagi berusaha mendekatkanku dengan orangtuamu. Mungkin kamupun sudah lelah mencoba. Tiba-tiba kamu ingin mengambil jeda sebentar dari hubungan kita. Aku mencoba menguatkan hatiku. Mungkin kamu butuh waktu untuk berpikir. Mungkin kamu mencoba meluluhkan hati orangtuamu. Percayalah, aku memang senaif itu.

Advertisement

Setelah beberapa bulan kita berpisah, datanglah kabar itu. Kabar dari seorang yang selalu aku nantikan, namun kabar yang tak pernah aku bayangkan. Kamu, seseorang yang bersamaku selama hampir 9 tahun, yang baru beberapa bulan meminta jeda sebentar, akan berakhir di pelaminan dengan wanita lain. Ternyata wanita itu adalah anak salah seorang kolega ayahmu.Wanita yang menurut orangtuamu sederajat dengan keluargamu.

Jangan tanya bagaimana hancurnya aku. Aku malu, bahkan untuk beranjak dari tempat tidurpun aku enggan. Aku merasa dipermainkan oleh takdir. Takdir memang kadang selucu ini jika bercanda. Aku menunggu dengan sabar, saat kamu sedang merancangkan hidup bahagia dengan wanita lain.

Saat berjuang sudah tak lagi ada artinya, mungkin merelakan adalah satu-satunya jalan.

Untukmu, terima kasih pernah berbagi mimpi indah denganku. Terima kasih pernah sama-sama merajut asa bersama. Terima kasih pernah mencoba memperjuangkanku. Ucapkan permohonan maafku bagi kedua orangtuamu, maaf karena aku tak cukup pantas menjadi menantu mereka. Maaf karena aku tak cukup pantas untuk bersanding denganmu. Semoga kamu bahagia, semoga kedua orangtuamu bahagia. Aku akan berusaha memantaskan diri bagi seseorang yang tak hanya menerima kelebihanku, namun juga kekuranganku.