Hari-hari terasa sepi saat dimana harus selalu menunggu kabar darimu. Diriku selalu menangis saat merindukanmu, hati ini resah tanpamu rasanya ingin menceritakan semua keluh kesahku padamu dan menyandarkan kepala ini dipundakmu. Namun, kenyataanya saat ponsel berdering, arloji terus berputar dan dari matahari terbit hingga terbenam, tidak ada pesan satupun darimu. Diri ini mengharapkan satu kalimat yang bisa membuat jiwaku hidup kembali untuk menjalankan setiap aktifitasku yang jauh darimu, tetapi semua harapanku hanya sebuah mimpi.

Hari pun terus berganti, rasa rindu bukannya semakin pudar malah semakin membuatku sakit dan terus menggangguku. Aku mencoba menghibur diriku sendiri, pergi menikmati indahnya pantai. Pemandangan di pantai begitu indah sampai aku lupa akan semua fikiranku tentang dirimu, karna disitu aku menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan. Tak terasa langkah kaki begitu jauh namun tidak merasakan lelah. Aku berfikir bahwa aku akan baik2 saja saat aku fokus pada Allah dan meninggalkanmu karna Allah.

Berjalannya waktu aku yakin memori tentang dirimu pelan-pelan akan terhapus. Saat ini aku mulai memutuskan untuk berjalan tanpamu dan memulai hariku dengan penuh keyakinan bahwa takdirku tidak akan menjatuhkanku saat aku percaya bahwa tuhan selalu bersamaku. Aku akan tetap berjalan mengikuti arus kehidupanku. Pilihan hidupku adalah pergi dari mu dan memilih memperbaiki diriku yang masih banyak kekurangan.

Harapanku ketika aku sudah memilih pergi untuk introspeksi diri, persahabatan yang dulu pernah kita jalin tidak akan terhapus, karna tidak akan pernah ada yang namanya mantan sahabat. Persahabatan kita akan tetap berjalan walau kita tidak saling bersatu dalam ikatan cinta. Aku tidak menyesal karna pernah mencintai sahabatku sendiri walaupun semua tidak berjalan seindah cerita persahabatan yang berakhir dipelaminan.