“Aku tidak memaksamu untuk membalas cintaku dan mau bersamaku, tapi aku mohon bukalah hatimu, bukan hanya untuk aku, tapi untuk siapapun yang ingin masuk dalam hidupmu, berikan mereka kesempatan untuk sedikit saja masuk dalam hatimu. Jangan biarkan hatimu tertutup sedemikian lama hanya untuk orang yang bahkan tidak memberikan harapan kepadamu”

Kalimat tersebut mengalir lembut dari seorang lelaki yang berkata kepada wanita di depannya. Aku tak sengaja mendengar perkataan mereka. Namun dari kalimat pembuka itu, kuputuskan untuk kembali mendengarkan mereka. Dari balik layar laptopku aku bisa melihat wanita di depan lelaki itu hanya menangis, menunduk tak tahu harus berkata apa.

Mungkin mudah bagi orang lain untuk memintamu membuka hati. Tapi membuka hati tidak semudah membalikkan tangan bukan? butuh proses. Bukan proses melupakan, tapi melepaskan dan mengikhlaskan. Aku tahu, dia pasti pernah mencoba membuka hati, mungkin ratusan kali. Ia bahkan merasa tertekan karena harus menyakiti hati orang lain. Tapi hati tidak bisa dipaksa,mungkin ia sudah bisa melupakan, tetapi belum bisa melepaskan apalagi mengikhlaskan. Itulah yang membuat hatinya masih beku, masih terkunci oleh gembok ketidakpastian.

Wanita dengan jilbab merah dan mata sembab itu kemudian menghela napas panjang, mencoba melepaskan segala beban

Aku minta maaf kepadamu dan kepada siapapun yang pernah mencoba datang dalam hatiku. Sungguh aku mohon maafkan aku atas segala penolakan yang aku lakukan. Bukannya aku tidak mau menerimamu atau siapapun itu, tapi aku tidak mau menyakiti hati seseorang hanya karena hatiku yang masih belum bisa mengikhlaskan seseorang yang lain.

Aku tidak mau seakan aku memberikan harapan, dan kemudian aku menjatuhkannya. Jujur jauh dalam hatiku aku memang masih berharap untuk pada akhirnya aku dapat bersamanya, walaupun saat ini terlihat tidak mungkin.

Tuhan yang memberikan perasaan ini kepadaku dan aku yakin Dia punya alasan kenapa Ia masih mempertahankan perasaan ini tinggal dalam hatiku, walaupun sejuta kali aku meminta untuk menghilangkannya jika itu yang terbaik. Aku mohon pengertianmu, jika aku memang belum bisa membuka hati ini untukmu dan untuk siapapun. Aku yakin Tuhan yang akan membukakan hati ini, untuk seseorang yang tepat, bisa saja itu kamu atau siapapun, ini hanya masalah waktu.

Tuhan masih punya alasan untuk mempertahankan perasaan ini ada dalam hatiku. Jadi, untuk yang terakhir kalinya aku mohon pengertianmu dan jangan paksa aku untuk membuka hati ini sekarang

Advertisement

Dan aku tersenyum. Kemudian pergi meninggalkan mereka yang terjebak keheningan.

endahwords.wordpress.com