Jika setiap orang ditanya tentang apa yang mereka inginkan, maka semua jawabannya adalah cerminan dari keadaan jiwanya. Bagi yang sedang kuliah, misalnya, tentu saja harapan terbesarnya adalah bisa segera menyelesaikan skripsi dengan baik dan lulus dengan nilai yang tidak begitu memalukan.

Begitu pun bagi mereka yang sedang memulai usaha, mereka tentu saja ingin usahanya sukses dan sustainable tanpa perlu ada kerugian segala macam. Sedang bagi mereka yang masih tuna asmara, maka sukses terbesar bagi mereka pastilah bisa segera menemukan calon pendamping masa depan.

Kita Sering Luput Bahwa Tuhan selalu Bersama Kita di Setiap Keadaan

Inilah kita, manusia. Diakui atau tidak kita sering lupa jika Tuhan itu selalu bersama kita. Sering kali kita merasa Tuhan itu hanya bersama kita saat kita mendapat kenikmatan. Sementara jika kita mendapat ujian, kita sering kali berprasangka bahwa Tuhan tidak adil dengan apa yang Dia lakukan.

Bukankah hanya karena takut dianggap kurang kekinian, kita lebih memilih memaki saat hal buruk menimpa kita? Saat tersandung batu di jalan, kita lebih memilih “shit”, “bang*sat”, “anj*ing” dan segala rupa hewan kebun binatang dari pada mengingat Tuhan. Begitupun saat berkali-kali draft skripsi kita harus berulang kali di revisi. Tak terkecuali saat pendamping hidup yang dinanti-nanti tak kunjung ditemui. Aduhai, bukankah kau ingat hidup di dunia ini adalah ujian yang tak kenal waktu dan tempat? Selalu bersedialah seperti promosi salah satu provider internet: Asyiknya Siang-Malam.

Advertisement

Merenunglah…!!!Di dunia ini Orang Sukses Adalah Mereka yang Terus Berjuang

Orang bijak bilang; Pelaut yang tangguh tidak dilahirkan dari laut yang tenang. Teman orang bijak itu menambahkan: semakin tinggi pohon maka anginnya semakin kencang. And the fact as we seen is like that, orang besar yang pernah kita dengar pastilah bukan pembuat cendol atau bakwan yang hampir setiap orang bisa membuatnya dengan sekali percobaan. Orang seperti Thomas Alfa Edison adalah tipe orang yang berulang kali meracik-racik bahan, gagal-ulang, gagal-ulang, gagal-ulang sampai akhirnya ketika pada percobaan ke ratusan kali sekian jadilah nyala sebuah lampu bohlam. Iya, bohlam, nenek buyut neon dan lampu hias yang dengan harga 5 ribuan bisa kita dapatkan dengan gampang sekarang.

Jika Kita pikir bahwa ujian itu adalah konspirasi Tuhan untuk menjatuhkan kita, maka ingatlah kisah-kisah para nabi dan utusan. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang paling dicintai-Nya di muka bumi. Apakah mereka bebas dari ujian? Nabi Nuh di rendahkan, perahunya dijadiakan tempat buang kotoran. Nabi Musa juga demikian, dia di fitnah, di kejar-kejar sampai harus migrasi ke negara orang. Begitupun nabi akhir zaman, Muhammad. Ia diludahi, di usir dari tanah kelahirannya, bahkan di musuhi oleh sebagian paman-pamannya sendiri. Jika demikian keadaannya, masihkah kita berpikir bahwa kita sendirian?

“Teruslah Berjuang dan Jangan Malas”: Pesan Cinta Dari Nabi Akhir Zaman

Sering kali, saat pukulan hidup demikian dahsyat kita rasakan, kita merasa down cukup dalam. Saat target kelar skripsi ternyata harus mundur, saat usaha yang kita rintis dengan mati-matian harus bangkrut, saat pernikahan tiba-tiba dibatalkan padahal segala sesuatu sudah disiapkan sedemikian rupa, kita merasa terpuruk, bahkan sampai tak bisa tidur berhari-hari sampai tak selera makan. Salahkah kita yang demikian?

Dulu, nabi yunus pernah putus asa mengahadapi kaumnya yang keras kepala. Bunda Maria juga demikian. Diceritakan dalam Qur’an bahwa sakitnya melahirkan membuat ia mendesis lirih: aduhai kiranya aku menjadi debu saja. Pun dengan Nabi kita yang kita cintai, Muhammad. Saat salah satu putranya meninggal, ia tak tahan dengan kehilangan, dan meneteslah air mata. Mereka bersedih, tapi mereka tidak larut dalam putus asa.

Ya, kita adalah manusia biasa. Tuhan memberikan rasa sakit untuk memberikan pelajaran pada kita, agar saat menang kita bersyukur dengan sepenuh jiwa karena Tuhan telah begitu baiknya membantu kita. Dan agar ketika kita kalah (setelah berjuang) kita sadar bahwa memang hanya Tuhan yang pantas dipuji sedemikian rupa. Karena itu Tuhan berjanji, bukan hasil yang akan dinilai, tapi semangat kita dalam menjalani kehidupan kita.

Keep fighting kakak…