Budaya kita memang terkadang kejam. Bilamana anak gadis yang telah berumur, dan belum juga menikah, maka siulan buruk akan terdengar di sudut-sudut kampung. Ia berbunyi layaknya senandung indah di setiap lorong, dan dinikmati pula oleh banyak orang. Tentu hal itu melukaimu hingga membuatmu murung bertahun-tahun. Sungguh menyedihkan! Maka izinkan aku menuliskan topik ini untukmu.

Aku memang sok tahu soal isi hati seorang gadis. Tapi keceriwisanku ini bukan tak beralasan. Aku sudah banyak berpengalaman tentang ini. Pertemuanku dengan banyak gadis nampaknya telah memberiku mata batin baru, melihatmu dari sisi yang berbeda. Dalam pandangan feminist yang kuanut, sikapku ini disebut reading as a women, menjadi seorang yang punya mata batin perempuan. Itu yang kudapatkan di bangku kuliah dulu. Wajar jika aku sedikit cerewet tentang perkara ini.

Sejak kuliah penelitianku membahas tentang isu kekerasan perempuan. Kekerasan berupa fisik, biologis mau pun psikologis. Sedang menurut jenisnya, kekerasan terhadap kalian kaum perempuan itu bisa bersumber dari budaya, instansi atau media.

Nah, kau termasuk dalam kategori kekerasan psikologis. Dimana sosial menjadi hakim atas hidupmu. Kau dicecoki sebuah pemahaman yang sungguh bersilangan dengan kerangka pikirmu. Jelas, aturan mereka memang tak tertulis, tapi mereka cukup kuat untuk mendramatisi kasus Kejombloanmu. Sepertinya kau harus membentengi diri.

Sekarang aku sedikit pede berbicara soal dirimu, gadis yang sedang menanti pujaan hati. Biarlah aku melanjutkan catatan ini. Bismillah! dari hasil riset, kutemukanlah sebuah paradigma baru.

Advertisement

Aku menemukan alasan-alasan logis mengapa seorang perempuan selalu dihantui oleh perasaan takut akan menua, hingga menutup usia. Alasan mengapa perempuan disebut cantik, mengapa bunga selalu dikatai cantik dan semua yang indah-indah selalu dikatai cantik. Aku temukan itu, dalam skripsiku.

Jika aku bertanya padamu, “Mengapa kau dipanggil cantik?”
Aku yakin bisa saja kau tak mampu menjawabnya. Biarlah kuterangkan sedikit. Menurut Oakley, dalam buku karyanya Putnan Tong disebutkan bahwa yang membuat kalian–gadis–menderita itu adalah sosial. Kau dibentuk oleh sosial, baik itu sikap, sifat hingga gaya hidup.

Label cantik itu sudah termasuk di dalamnya. Dari sifat cantik kau diajari bagaimana berjalan lemah gemulai, berdandan ayu, gaya bercakap, dan lain sebagainya. Itu semua bentukan sosial. Sebuah pemaksaan identitas.

Hidupmu memang harus menjalani aturan masyarakat, yang kau sendiri tidak sepakat tentangnya. Aturan yang dipakai adalah sistem ortodoks, kolot dan suka mengunci perempuan dalam kungkungan budaya, bahkan tak sejalan dengan aturan agama. Sringkali aturan budaya itu lebih sakti dibanding dalil alquran, menurut mereka. Sebab itu aku ingin melawan budaya itu dengan caraku sendiri. Termasuk memberimu ruang pemikiran lewat catatan ini.

Dalam kasus ini aku tidak sedang menetang sebuah budaya. Sekali lagi tidak. Catatanku ini hanyalah naluri kepedulian terhadap kau yang sedang menanti pujaan hati. Tetapi selalu tersakiti oleh lingkungan dan asumsi sosial. Tapi biarlah. Saat ini kau hanya butuh keyakinan bahwa kau tak berjalan di jalan sepi.

Ada orang yang sedang memantaumu dari jauh, sekadar berjaga-jaga, jika suatu hari ada banyak hakim sosial yang sok tahu menzalimi. Aku siap jadi benteng pertahan batinmu, jika kau kalah melawan arus budaya ortodoks itu.

Dalam pergumulan banyak kutemui gadis yang sedang gundah. Tak hanya dirimu saja. Hidup mereka penuh dengan cerita haru. Mereka dihiasi perasaan nelangsa sepanjang hari. Ingin keluar rumah, tapi rasanya kaki mereka dirantai. Sejengkal kaki mereka melewati pagar, maka cibiran dari luar akan berhamburan menyerbu telinga. Tentu hal ini sungguh tak mengenakkan bagiku, juga bagimu yang tersakiti. Pun mereka yang di luar sana. Iya kan?

Tak sampai di situ, di kampus banyak kutemukan kasus yang sama. Ketika semester sembilan, aku juga sempat melihat banyak gadis yang dilema. Pangkat mereka telah melambung tinggi, tapi mereka hidup dalam kesendirian. Lebih menyakitkan lagi, mereka dijadikan topik pembicaraan. Dalam meja diskusi kecil-kecil yang tak formal, mereka hangat dibicarakan.

Para gadis itu dilabeli sebagai gadis malang, gadis menyedihkan, bahkan dihakimi gadis itu tak laku. Sudah jadi perawan tua dan pasti di usia 30 tahun tak akan punya keturunan lagi. Kalau kau adalah gadis yang dibicarakan itu, aku yakin betul perasaanmu akan seribu kali lipat panasnya melebihi merapi.

Bahkan, dendammu bisa saja lebih ganas dari lahar yang sedang meleleh dari sebuah gunung. Tapi apa boleh buat. Topik itu benar adanya. Karena memang kau adalah gadis yang belum menikah. Lalu dengan apa kau membantah?

Maka dalam gambaran seperti ini. Aku ingin menawarkan obat hati dari lukamu yang perih itu. Barangkali, sedikit dari apa yang kusampaikan, dapat juga meredam naluri kesedihan di hatimu. Anggaplah ini nasehat dari seorang kakak, anggaplah begitu. Atau seorang saudara laki-laki yang juga ikut terlibat dalam perjalanan hidupmu. Berikut ini butiran nasehatku.

Yakinlah kepada Allah

Dalam hidup ini, tak ada tempat kau berserah diri selain Allah. Dia zat yang maha kuasa, sosok yang akan mendampingimu makakala kau tak sanggup berpijak di atas bumi ini. Terus yakinkan dalam hatimu bahwa jodoh yang kau nanti pasti akan datang di saat yang tepat. Kau hanya perlu menunggu dengan sabar sambil terus memperbaiki diri.

Kau pasti telah mendengar titah agama kita, ” Perempuan yang baik akan dipasangkan dengan lelaki yang baik.” Kau harus mengimani itu. Tak usah kau memusingkan perkataan buruk orang-orang. Kalau pun dirimu hidup dalam kesendirian, dan menerima takdir untuk tidak menikah seumur hidup, mungkin ada sejuta rahasia Allah yang ingin disampaikan lewat takdir itu.

Yang perlu kau lakukan adalah benahi diri dan terus perbanyak silaturahim. Insyaa Allah, sang pangeran datang dengan sendirinya. Semua sudah ada garis takdirnya.

Kau tahu, sebagai kakak, yang juga memiliki saudara perempuan, pernah juga merasakan gelisah. Pertanyaan dengan siapa nanti adikku menikah, bagaimana nanti kehidupan keluarganya, dan kemana nanti dia akan dibawa, sudah berkecamuk dalam ruang kepalaku.

Tapi, seiring waktu, ternyata semua baik-baik saja. Pikiran buruk dan was-was ternyata hanya membuat kita putus asa akan rahmat Allah. Itulah mengapa kutuliskan catatan ini agar kuat kesabaranmu.

Aku tak khawatir jika kau tak mendapatkan jodoh. Yang paling kukhawatirkan adalah ketika kau berputus asa dari rahmat Allah. Menuduh sang khalik tak adil, menghakiminya sebagai tuhan yang pilih kasih dan suka menelantarkan orang yang beriman. Itu adalah hal yang sangat kutakuti.

Ingatlah! jodoh itu adalah rejeki. Dan setiap rejeki sudah ada kapling masing-masing. Tak perlu was-was kalau nanti tertukar. Malaikat Allah telah bekerja sepanjang waktu akan hal itu. Teguhkan hatimu agar senantiasa percaya, bahwa Allah tak pernah ingkar akan janjinya. Kau yakini itu kan?

Cemooh Jalan Evaluasi

Momen ini adalah ujian berat, memang. Tapi jika kau berusaha untuk menjalaninya tanpa mengeluh, maka hampir dipastikan kau akan menjadi muslimah yang berkualitas.

Muslimah yang kokoh dan menjadi benteng yang kuat buat keluargamu nanti. Jauh sebelumnya, kau sebenarnya sudah dilantik oleh sang pencipta sebagai nominasi, “Madrasatul Ulaa.” Madrasah bagi anak-anakmu. Maka, kalau hari ini kau kalah hanya karena gunjingan, cemooh di masa mudamu, maka kau akan terhitung gagal dalam mempersiapkan sekolah pertama bagi keluargamu.

Cobakah evaluasi diri. Amal apa yang kurang. Atau, cobalah bermuhasabah, siapa tahu ujian kesendirian ini adalah cara Allah untuk mendidikmu menjadi manusia jempolan, atau calon istri berkepribadian kokoh. Satu kata yang harus kukatakan padamu, ” Be strong friend!”

Jangan Mengurung Diri

Biasanya karena terlampau lama menunggu jodoh, kau jadi pemurung, suka menyendiri di kamar. Kau membuat catatan hati di lembar buku, lalu menangis kecil di sudut kamar. Bila kau capek dengan itu, kau beralih mengambil buku, atau quran dan selanjutnya mengaji.

Kau jalani itu dengan penuh penghayatan. Duniamu seolah hanya seluas kamar, yang ukurannya tidak lebih 4 x 4 meter. Tidak. Jangan kau lakukan itu. Mengurung diri hanya akan membuatmu tertekan.

Aku ingin mengajakmu untuk keluar dari kunkungan itu. Hapus segala asumsi masyarakat yang selalu menyerangmu ketika melewati pagar rumah. Buktikan kau adalah muslimah ideal, tangguh dan tak bisa jatuh hanya kerena keping-keping cerita negatif yang sedang menyebar ramai. Buktikan pada mereka bahwa dirimu itu adalah sosok yang spesial yang sedang menanti pujaan hati yang tepat.

Sambil menepis isu negatif yang selalu bersenandung, perbanyak silaturahim. Siapa tahu, datang ke rumah teman, lalu ketemu temannya sang pria. Dan di saat itu malah dia jatuh cinta dan datang melamar. Iya kan?

Jadi intinya aku ingin berpesan, kau harus keluar rumah menjemput jodohmu. Kau jangan beranggapan, ” Ah jodoh mah di tangan Allah.” Pernyataan itu benar adanya. Sungguh pun begitu, jodoh itu harus jemput. Kalau tidak, ya pasti di tangan Allah terus. Harus ada ikhtiar untuk mengambilnya dari tangan Allah. Kira-kira begitu.

Rasanya aku sok tahu ya soal dirimu. Sudahlah. Begitulah retorika pejuang feminist kalau bicara. Ilmu yang kudapatkan di bangku kuliah telah lekat dalam otakku. Jadi wajarlah jika perasaanku tentang kehidupan perempuan begitu kuat. Itulah mengapa kutuliskan catatan ini padamu.

Sekarang! hapus air matamu itu. Jangan kau bersedih lagi. Semoga catatan ini bisa menguatkan hatinmu yang merapuh itu. Bismillah… Insyaa Allah doamu adalah senjata paling ampuh untuk mengungkap tabir jodoh itu. Lengkapi ikhitiarmu, lalu berserahlah diri kepada Allah. Semoga dimudahkan. Amin..

Salam dari lelaki penulis cahaya
Idrus Gorontalo